Gus Hayid: Tirakat Seorang Guru Jadi Fondasi Mendirikan Pesantren

by
Gus Hayid dalam diskusi panel yang dilaksanakan di Pondok Aqobah Internasional School, Jombang, asuhan KH Ahmad Junaidi Hidayat, Jumat (28/8/2026). Foto: Dafiqul Fitrah

BERITABUANA.CO, JOMBANG- Mendirikan lembaga pendidikan pesantren bukan sekadar membangun gedung dan menyediakan fasilitas. Di balik berdirinya sebuah pesantren, dibutuhkan perjuangan panjang, kesungguhan, ketekunan, serta tirakat dari seorang guru sebagai fondasi untuk membangun pendidikan yang berkualitas.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, S.Th.I., M.M., atau yang akrab disapa Gus Hayid, dalam sebuah diskusi panel yang dilaksanakan di Pondok Aqobah Internasional School, Jombang, asuhan KH Ahmad Junaidi Hidayat, Jumat (28/8/2026).

Dalam forum tersebut, Gus Hayid menyoroti pentingnya kesiapan seorang guru sebelum mendirikan lembaga pendidikan. Menurutnya, seorang pendidik tidak seharusnya memandang lembaga pendidikan hanya sebagai institusi yang dibangun secara fisik, tetapi sebagai tempat yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk masa depan manusia.

“Sebelum seorang guru mendirikan lembaga pendidikan, khususnya pesantren, diperlukan kesungguhan dan tirakat. Karena yang akan kita bangun bukan hanya gedung, melainkan masa depan generasi,” ujar Gus Hayid.

Menurutnya, tirakat tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan spiritual semata. Tirakat seorang guru juga harus diwujudkan melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu, ketekunan dalam bekerja, kesabaran menghadapi tantangan, serta kesediaan untuk berkorban demi terwujudnya pendidikan yang lebih baik.

Jadi Evaluasi Bersama

Gus Hayid juga menyoroti fenomena menurunnya minat sebagian masyarakat terhadap pendidikan pesantren. Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi bersama bagi para pengelola lembaga pendidikan Islam.

Pesantren tidak cukup hanya mempertahankan tradisi dan kebanggaannya pada sejarah masa lalu. Di tengah perubahan zaman, lembaga pendidikan harus terus melakukan pembenahan dan mampu menghadirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Ketika minat masyarakat terhadap pesantren mengalami penurunan, jangan hanya menyalahkan keadaan. Kita harus berani bertanya, apakah program pendidikan kita sudah benar-benar serius? Apakah kita sudah bekerja dengan tekun? Apakah lembaga kita terus bergerak maju?,” tegas Gus Hayid.

Ia menilai masyarakat saat ini semakin selektif dalam menentukan lembaga pendidikan untuk anak-anak mereka. Karena itu, pesantren dituntut memiliki program pendidikan yang jelas, sistem pembelajaran yang baik, tenaga pendidik yang kompeten, serta kemampuan untuk mempersiapkan generasi menghadapi masa depan.

Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Menurut Gus Hayid, masa depan pesantren sangat ditentukan oleh keseriusan dalam mengelola pendidikan. Sebuah lembaga tidak akan berkembang hanya dengan keinginan besar, tetapi membutuhkan perencanaan yang matang dan konsistensi dalam menjalankan setiap program.

Keseriusan, katanya, harus diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang jelas. Ketekunan harus diwujudkan dalam proses mendidik yang konsisten. Sementara kemajuan harus menjadi orientasi agar pesantren mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

“Pesantren harus memiliki program yang serius, dikerjakan dengan tekun, dan memiliki keberanian untuk terus maju. Jangan sampai kita hanya mempertahankan nama pesantren, tetapi tidak melakukan peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.

Di tengah persaingan pendidikan yang semakin terbuka, pesantren memiliki kekuatan besar yang tidak dimiliki banyak lembaga pendidikan lainnya, yaitu sistem pembentukan karakter yang berlangsung selama 24 jam.

Namun, kekuatan tersebut harus dikembangkan dengan inovasi pendidikan yang relevan. Pendidikan agama dan akhlak harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, bahasa, serta kemampuan membangun kemandirian.

Bagi Gus Hayid, perjalanan mendirikan lembaga pendidikan merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Seorang guru harus memiliki keteguhan hati ketika menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan sumber daya, persoalan manajemen, hingga perubahan kepercayaan masyarakat.

Tirakat seorang guru, lanjutnya, merupakan bentuk kesediaan untuk mendahulukan kepentingan pendidikan dibandingkan kepentingan pribadi. Seorang pendidik harus siap berpikir, bekerja, dan berjuang lebih keras agar lembaga yang dibangun benar-benar memberikan manfaat.

“Lembaga pendidikan yang kuat biasanya tidak lahir dari kemudahan. Ada pengorbanan, ada kesabaran, dan ada perjuangan panjang dari orang-orang yang serius mengabdikan dirinya untuk pendidikan,” ucap Gus Hayid.

Diskusi panel di Pondok Aqobah Internasional School tersebut menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya arah baru dalam pengembangan pendidikan pesantren. Di tengah tantangan menurunnya minat masyarakat, para pengelola pendidikan diharapkan tidak kehilangan semangat.

Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan meningkatkan kualitas program.

Gus Hayid menegaskan bahwa pesantren masa depan harus tetap berakar pada nilai-nilai agama, tetapi tidak boleh tertinggal dalam menghadapi perkembangan zaman. Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang berakhlakul karimah, memiliki ilmu pengetahuan yang luas, mandiri, serta siap berkontribusi kepada masyarakat.

Dengan fondasi tirakat, kesungguhan, ketekunan, dan semangat untuk terus maju, lembaga pendidikan pesantren diyakini tetap memiliki masa depan yang kuat. Sebab, pesantren tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter dan tanggung jawab.

“Masa depan pesantren harus diperjuangkan dengan keseriusan. Guru harus terus bertirakat, terus belajar, tekun menjalankan program, dan tidak berhenti berinovasi. Dari situlah lembaga pendidikan akan tumbuh dan maju,” pungkas Gus Hayid. (Fid/Fdl)