Gus Hayid: Komposisi PBNU 2026-2031 Cerminkan Keberagaman Kekuatan NU

by
Gus Hayid (Tengah) Saat Foto Bersama Kepengurusan PBNU 2026-2031. Foto: Dokpri

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2026–2031, Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, menilai komposisi kepengurusan PBNU periode baru mencerminkan keberagaman kekuatan Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut Gus Hayid, sapaan akrab KH. Muhammad Nur Hayid, kepengurusan PBNU saat ini diisi tokoh dengan latar belakang yang beragam, mulai dari ulama, profesional, hingga kader yang telah lama aktif dalam organisasi.

“Pertama saya melihat komposisi kepengurusan ini merangkul banyak kekuatan yang selama ini menjadi kekuatan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ada representasi dari banyak kalangan dengan latar belakang yang beragam: keulamaan, profesional, dan tentu orang-orang yang sudah lama bekerja dan bergerak di keorganisasian,” ujar Gus Hayid, Rabu (7/10/2026)

Ia berharap kombinasi tersebut menjadi kekuatan bagi PBNU untuk menjalankan khidmah selama lima tahun ke depan.

“Semoga kombinasi dari tokoh-tokoh dan aktivis-aktivis NU dari berbagai latar belakang ini menjadi kekuatan tersendiri untuk optimisme pengurus PBNU lima tahun ke depan bisa bekerja lebih baik untuk khidmah memberikan pelayanan kepada warga Nahdliyin, kaum muslimin, dan tentu rakyat Indonesia,” katanya.

Gus Hayid menegaskan, NU memiliki prinsip al-muhafadhatu ‘alal qadimisshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Menurutnya, kesinambungan kepemimpinan Rais Aam dengan perubahan pada posisi ketua umum menjadi modal untuk menjaga kesinambungan sekaligus menghadirkan pembaruan.

“Kebetulan Rais Aam-nya kan berlanjut dari periode yang lalu sampai insyaallah lima tahun ke depan, ketua umum yang berubah. Dan saya kira tantangan yang dihadapi oleh NU hari ini itu juga sama dengan tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita,” tutur Pengasuh Pesantren Skill Jakarta, Lumajang dan Jember ini.

Bersama Pemerintah Kawal Program Strategis

Gus Hayid menambahkan, salah satu pesan penting yang disampaikan para mandataris Muktamar NU adalah perlunya sinergi dengan pemerintah dalam mengawal program-program strategis yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Eksistensi NU ke depan harus bersama-sama dengan pemerintah untuk mengawal program-program strategis yang membawa kemaslahatan dan kemanfaatan untuk seluruh rakyat, untuk umat, dan untuk seluruh bangsa Indonesia,” jelasnya.

Ia menilai NU tidak dapat melepaskan diri dari persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Karena itu, PBNU ke depan perlu memberikan perhatian serius terhadap berbagai persoalan, termasuk kesehatan.

Menurut Gus Hayid, NU memiliki sejumlah perangkat dan sumber daya yang dapat digerakkan untuk mempercepat pelayanan kesehatan bagi warga.

“Kalau warga NU banyak yang punya problem kesehatan, saya kira PBNU ke depan harus konsen pada isu kesehatan. Karena ada kelembagaan sendiri yang mengurus soal kesehatan, ada LKKNU, ada asosiasi dokter dan seterusnya yang saya kira juga bisa kita kerahkan,” ucap Gus Hayid.

Ia juga menyinggung keberadaan asosiasi rumah sakit NU yang dapat dilibatkan dalam mempercepat peningkatan layanan kesehatan.

“Jadi ada asosiasi rumah sakit NU yang bisa juga untuk kita libatkan dalam proses bagaimana percepatan layanan kesehatan pada warga NU,” imbuhnya.

Penguatan SDM Jadi Tantangan Utama

Selain kesehatan, Gus Hayid menempatkan penguatan sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu konsentrasi utama PBNU lima tahun mendatang. Menurutnya, NU harus mampu menyiapkan generasi yang unggul dan kompeten agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

“NU ke depan juga menghadapi problem tantangan SDM. Saya kira ini juga penting untuk menjadi konsentrasi utama, karena sekali kita gagal untuk menyiapkan SDM yang unggul dan kompeten, kita akan ditinggalkan oleh zaman,” tegas Komisioner BNSP ini.

Ia menilai penguatan SDM sejalan dengan komitmen kepemimpinan PBNU baru untuk melanjutkan berbagai program khidmah yang memberikan manfaat luas.

“Basisnya adalah Qanun Asasi, basisnya adalah komitmen bersama untuk khidmah bagaimana keberadaan NU memberi kemaslahatan lebih luas pada warga NU sendiri, pada umat Islam, pada bangsa dan negara,” katanya.

Gus Hayid juga melihat komposisi pengurus PBNU 2026–2031 memiliki modal yang kuat karena di dalamnya terdapat tokoh-tokoh dengan pengalaman di berbagai bidang strategis. Ia menyebut sejumlah pengurus memiliki latar belakang dan pengalaman di lembaga seperti BAZNAS, BNSP, serta kementerian dan lembaga pemerintah lainnya.

“Ini tentu menarik untuk kita garap secara serius. Jadi tantangan-tantangan yang begitu banyak itu yang kemudian melahirkan kritik yang juga beragam di luar sana harus kita jawab dengan langkah konkret yang terukur dan bisa dirasakan oleh warga NU khususnya, oleh masyarakat pada umumnya,” tegasnya.

NU Harus Siap Hadapi Era Super Intelligence

Di sisi lain, Gus Hayid menekankan pentingnya percepatan penguasaan teknologi informasi di lingkungan NU. Menurutnya, perkembangan teknologi sudah bergerak jauh melampaui pembicaraan mengenai artificial intelligence (AI).

“Isu percepatan teknologi informasi untuk bisa masuk ke ruang-ruang dialektika maupun fungsionalnya keluarga besar NU. Jangan sampai ketika orang lain hari ini sudah berbicara soal super intelligence, tidak lagi artificial intelligence, tidak lagi AI tapi SI (super intelligence),” kata mantan Staff Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI.

Ia menjelaskan, super intelligence merupakan perkembangan teknologi yang menggabungkan kemampuan manusia dengan kemampuan mesin dalam tingkat yang sangat maju.

Menurutnya, perkembangan tersebut akan membawa perubahan besar terhadap cara manusia berpikir, bekerja, dan berinteraksi dengan teknologi.

“Ini adalah inteligensia yang sudah menggabungkan kemampuan manusia yang paling paripurna dengan kemampuan mesin. Dalam konteks cara berpikir, pasti enggak ada manusia yang bisa mengalahkan robot, mengalahkan artificial intelligence yang sudah menjadi super intelligence,” ujarnya.

Namun, Gus Hayid mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tetap tidak boleh menghilangkan dimensi kemanusiaan dan spiritualitas. “Tetapi hati tetap ciptaan Allah, jauh lebih bagus ciptaan Allah, jauh lebih keren,” tuturnya.

Karena itu, menurut Gus Hayid, tantangan NU ke depan bukan hanya bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan kemajuan tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Dengan komposisi pengurus yang beragam, pengalaman lintas sektor, serta kekuatan jaringan organisasi, ia optimistis PBNU 2026–2031 mampu menjawab berbagai tantangan tersebut melalui program yang konkret, terukur, dan benar-benar dirasakan masyarakat. (FDL87)