BERITABUANA.CO, NEPAL – Peringatan banjir susulan di kawasan Himalaya antara Nepal dan China. Peringatan ini resmi dikeluarkan oleh otoritas Nepal dan China. Hal ini dilakukan karena danau yang terbentuk di kedua sisi perbatasan Nepal-Tibet akibat tanah longsor sebelumnya, berpotensi jebol dan meluapkan air bah ke kawasan yang diterjang banjir bandang dahsyat pekan ini.
Operasi pencarian dan penyelamatan sebelumnya juga saat ini masih berlangsung di area lembah dan lereng bukit yang dipenuhi puing-puing, dengan lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang menyusul terjangan banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026) pagi lalu.
Data terbaru menyebutkan total sedikitnya 472 orang tewas akibat bencana mengerikan tersebut, yang terdiri atas 469 korban tewas di Nepal dan tiga korban tewas di Tibet. Dan, lebih dari 1.400 orang lainnya, termasuk ratusan warga negara asing (WNA) dari puluhan negara, dinyatakan hilang di Nepal.
Sementara, laporan terpisah dari televisi pemerintah China, CCTV, menyebutkan bahwa 558 orang hilang di area Gyirong, Tibet, termasuk 260 WNA.
Baik Nepal maupun China menyatakan bahwa banjir bandang itu disebabkan oleh runtuhnya gletser yang memicu aliran deras berupa bebatuan, material es, lumpur, dan puing-puing yang menerjang sistem sungai pegunungan Himalaya.
Perubahan iklim diyakini menyebabkan mencairnya gletser di seluruh dunia, sehingga meningkatkan risiko banjir danau glasial dan runtuhnya gletser.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal, seperti dilansir Reuters dan AFP, Jumat (28/8/2026), merilis peringatan yang menyatakan bahwa permukaan air di sebuah danau, yang terbentuk akibat tumpukan puing yang membendung sungai di lokasi yang dilanda banjir, sedang mengalami kenaikan dan berisiko jebol.
“Warga di bantaran yang lebih rendah… para penumpang, petugas penyelamat yang terlibat dalam operasi penyelamatan, dan semua pihak terkait diminta untuk sangat berhati-hati dan tetap berada di tempat yang aman, jauh dari bantaran sungai dan area-area yang berisiko,” demikian bunyi peringatan otoritas Nepal pada Kamis (27/8/2026) tersebut.
Otoritas China, melalui media pemerintah CCTV, memperingatkan bahwa danau yang terbentuk setelah tanah longsor melanda perbatasan China-Nepal menghadapi “risiko tinggi jebol dan mengalirkan air bah ke hilir”.
Ketinggian air diperkirakan akan meningkat selama tiga hari ke depan dan mencapai puncaknya sekitar tanggal 1 September mendatang. Situasi ini diperburuk oleh prakiraan cuaca yang memperkirakan hujan akan turun di wilayah tersebut selama tiga hari ke depan.
“Berdasarkan prakiraan, volume air yang masuk ke danau dapat mencapai sekitar 3 juta meter kubik dalam tiga hari ke depan, di tengah hujan deras yang terus mengguyur, yang meningkatkan risiko jebolnya danau yang dapat mengalirkan air bah ke hilir dan berpotensi menyebabkan kerusakan lebih lanjut di berbagai wilayah, termasuk Pelabuhan Gyirong dan area hilir lainnya,” demikian bunyi peringatan yang dilaporkan kantor berita Xinhua, pada Kamis (27/8) tengah malam.
Terbentuknya danau buatan itu terekam dalam video yang diambil dari udara oleh tim penyelamat China pada Kamis (27/8/2026) waktu setempat. Rekaman video itu menunjukkan massa air berwarna cokelat yang terkumpul di sebuah cekungan, yang tidak tampak memiliki saluran keluar.
Kumpulan air itu terlihat menenggelamkan semak-semak dan pepohonan, dan tampak menekan penghalang yang terbentuk dari tumpukan puing dan bebatuan. (Kds)







