BERITABUANA.CO, BEKASI – Suatu malam selepas waktu sholat isya’, di ruang teras pos warga RT03/RW38 Perumahan Villa Bekasi Indah 2, pada Minggu 19 Juli 2026 silam, puluhan ibu-ibu PKK, bapak-bapak RT, dan sejumlah anak muda duduk berjajar di barisan bangku plastik yang sengaja disediakan. Di depan mereka, seorang pria muda berkemeja batik tampak sederhana memperkenalkan diri.
“Perkenalkan, saya Fajar Shodick. Kebetulan saya memang asli kelahiran Sumberjaya. Saya merasa terpanggil untuk mengabdi membangun desa kita ini,” katanya saat mengawali pembicaraan di pertemuan tersebut.
Pertemuan itu bukan kampanye besar dengan panggung dan spanduk yang megah. Namun hanya sebuah silaturahmi warga yang dilengkapi dengan suguhan kopi panas, camilan kue dan obrolan ringan tentang selokan yang mampet, antrean surat pengantar, dan harga dagangan UMKM yang susah naik.
Berawal di tempat teras pos warga itulah, Fajar memperkenalkan visi dan misi besarnya, yakni membawa Desa Sumberjaya, Tambun Selatan agar bisa masuk ke era digital dan menjadi desa mandiri menyongsong 2034 mendatang.
Fajar yang memiliki latar belakang wira usaha ini telah resmi mendaftar sebagai calon Kepala Desa Sumber Jaya pada awal Agustus 2026 ini. Tetapi dia hadir bukan membawa janji – janji muluk, melainkan tiga kata kunci yang ia ulang di setiap pertemuan: Digital, Transparan, dan UMKM naik kelas.
“Selama ini kita masih bikin surat harus bolak-balik ke kantor desa. Padahal handphone semua orang sudah pintar. Kenapa pelayanannya tidak?” keluh Fajar di hadapan puluhan warga RW38 Perumahan Villa Bekasi Indah 2, Minggu (19/8/2026) malam.
Baginya, digitalisasi bukan soal aplikasi mahal. Ini soal waktu warga yang tidak terbuang. Soal transparansi anggaran yang bisa diakses siapa saja. Soal kepercayaan.
“Pemerintahan desa harus bersih, adil, profesional. Dan teknologi itu jembatan supaya warga tidak dipersulit,” katanya dengan bersemangat.
Kehadirannya di pos warga RT03/RW038 memang sengaja dilakukan untuk mencari masukan, jika kelak dirinya mendapat amanah sebagai Kepala Desa Sumberjaya periode 2026 – 2034 nanti.
Malam itu, Fajar dengan sabar mencatat semua keluhan warga, khususnya yang tinggal di lingkungan RT03/RW38. Ada yang mengeluhkan banjir, ada persoalan turap makam desa yang jebol, ada juga yang jalanan hancur hingga masalah ekonomi warga.
Meski begitu, Fajar yang juga berlatar belakang pendidikan strata satu bidang kesehatan ini tampak piawai, sopan dan bijak dalam menjawab setiap pertanyaan warga, terutama kepada ibu-ibu PKK.
Terkait masalah ekonomi, pria yang sangat religius ini menawarkan pentingnya penguatan UMKM yang bakal menjadi poros kedua programnya. Fajar ingin pemerintah desa hadir bukan hanya sebagai pemberi izin, tapi juga sebagai pendamping untuk berwira usaha.
“Kita akan dampingi, beri pelatihan, bantu promosi, sampai buka akses pemasaran digital. Produk Sumberjaya harus bisa dijual bukan cuma di pasar Tambun, tetapi juga di marketplace,” ujarnya.
Bahkan dirinya berani memasang target PAD Sumberjaya yang nantinya bisa mencapai Rp15 miliar. Caranya? Ya lewat penguatan BUMDes, Koperasi Merah Putih, dan akses permodalan untuk usaha kecil.
“Kalau UMKM kuat, lapangan kerja kebuka. Kalau lapangan kerja kebuka, pendapatan desa pasti naik. Itu siklus yang harus kita putar,” ungkap Fajar.
Yang membuat suasana silaturahmi agak berbeda adalah terbukanya sesi dialog. Warga tidak lagi hanya mendengar, tetapi saling bicara dan diskusi untuk membahasnya.
Selain itu sebagian warga juga menyoroti bagaimana sistem pelayanan publik yang masih terkesan lambat. Mereka berharap jika Fajar menang, sistem pelayanan harus lebih dipermudah. Selain itu pembangunan juga harus lebih merata dan lingkungan lebih aman, bersih, dan hijau,
Fajar mencatat semuanya. Tidak ada pidato panjang. Dia hanya mengangguk, bertanya, lalu menjawabnya dengan tenang.
“Semua masukan ini jadi bahan saya menyusun program. Karena pemimpin itu bukan yang paling pintar, tapi yang paling mau mendengar,” kata Fajar seraya memohon doanya agar bisa menang dalam kegiatan Pilkades 20 September 2026 nanti.
Sementara itu, Ketua RT03/RW38 Joko Wiyono menyambut baik niatan Fajar Shodick dalam mengikuti kompetisi Pilkades di Desa Sumberjaya, Tambun Selatan.
“Kami senang ada calon yang mau duduk bareng, bukan cuma datang minta suara. Mudah-mudahan gagasan digital dan UMKM ini benar-benar jalan,” kata pria pensiunan pejabat Telkom ini.
Pertemuan ditutup dengan makan bersama nasi padang, ayam goreng, dan obrolan santai yang berlanjut sampai larut malam. Tidak ada orasi. Yang ada hanya tawa dan janji untuk bertemu lagi.
Sebelum berpamitan, Fajar mengajak bersalaman satu persatu warga. Bahkan seorang ibu pedagang warung klontong sempat berbisik, “Mas, beneran nanti jualannya dibantu online ya?’ ujar janda ibu tiga anak itu.
Fajar hanya tersenyum kecil, “Insya Allah bu. Kita mulai dari yang kecil. Yang penting kita jalan bareng ya.” kilahnya
Di tengah hiruk pikuk politik desa, kisah Fajar Shodik terasa sederhana. Tidak ada panggung megah. Hanya saja, semoga obrolan santai di ruang teras pos warga, catatan aspirasi, dan harapan besar Desa Sumberjaya bisa terwujud. Oisa







