Ketika Tuhan “Ketawa” Melihat Doa Kita

by
Toto Izul Fatah. (Foto: Dok)

BUKAN tanpa alasan menyebut Indonesia sebagai negeri paling religius. Jumlah pendudukanya, per April 2026, sekitar 242 juta jiwa beragama Islam. Selebihnya, ada Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Rumah ibadah berdiri di mana-mana. Pengajian, zikir, istigasah dan doa bersama digelar hampir setiap saat.
Terutama, ketika bangsa menghadapi kesulitan, ribuan orang dikumpulkan untuk menengadahkan tangan kepada Tuhan.

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: mengapa kita lebih rajin meminta daripada mengakui kesalahan? Mengapa kita lebih suka berdoa daripada bertobat?

Pertanyaan diatas tidak dimaksudkan untuk merendahkan zikir dan doa siapapun dan dimanapun, termasuk yang baru digelar di Monas pada 1 Agustus 2026. Semuanya tentu baik.

Zikir adalah perintah agama. Doa juga merupakan bentuk pengakuan bahwa manusia lemah dan membutuhkan pertolongan Tuhan.

Namun, pada setiap acara zikir dan doa digelar, tidak terlihat penekanan yang kuat pada seruan tobat nasional. Yaitu, pengakuan terbuka bahwa bangsa ini telah banyak melakukan kesalahan dan harus memperbaikinya.

Kita meminta bangsa diselamatkan, tetapi tidak sungguh-sungguh membicarakan dosa-dosa yang membuat bangsa ini berada dalam bahaya.
Kita berdoa agar negara dijauhkan dari bencana, tetapi hutan terus dirusak, sungai dicemari dan kekayaan alam dikeruk secara serampangan.

Kita meminta kesejahteraan, tetapi korupsi masih dikerjakan secara berjemaah. Kita memohon persatuan, tetapi kebencian, fitnah dan permusuhan politik terus dipelihara.

Kita meminta keadilan, tetapi hukum masih dapat dibengkokkan oleh kekuasaan dan uang. Kita memohon agar rakyat dijauhkan dari kesulitan, tetapi kebijakan yang menyengsarakan rakyat kecil tidak segera dikoreksi.

Karena itulah, secara metaforis, saya membayangkan, saat kita berdoa, Tuhan “ketawa”, bukan tersenyum melihat doa kita.

Kenapa? Yang pasti bukan karena Tuhan membenci manusia yang berdoa. Bukan pula karena doa bersama di Monas, di Istiqlal atau dimana pun itu salah.
Mungkin, Tuhan “ketawa” karena melihat makhluk-Nya terus meminta pertolongan, terus merangkai doa yang indah, tetapi enggan mengakui kesalahan yang dilakukannya.

Kita seperti seseorang yang setiap hari meminta rumahnya dibersihkan, tetapi pada saat yang sama terus membuang sampah ke seluruh ruangan. Kita meminta Tuhan memadamkan api, sementara tangan kita sendiri terus menyiramkan bensin.

Kita memohon keselamatan, tetapi tidak bersedia meninggalkan jalan yang membawa kepada kehancuran.

Manusia perlu memahami bahwa Tuhan tidak memperoleh keuntungan sedikit pun dari doa, ibadah dan kesalehan manusia. Sebaliknya, Tuhan juga tidak mengalami kerugian sedikit pun karena dosa dan pembangkangan seluruh makhlukNya.

Dalam Al-Qur’an Allah menyatakan:
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Dialah Allah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”
Pesan Surah Fatir ayat 15 itu sangat jelas: manusia yang membutuhkan Tuhan, bukan Tuhan yang membutuhkan manusia.

Dalam Surah Ibrahim ayat 8, Nabi Musa juga mengingatkan bahwa apabila seluruh manusia kufur sekalipun, Allah tetap Mahakaya dan Maha Terpuji.

Dengan kata lain, keimanan seluruh manusia tidak menambah kemuliaan Tuhan, sementara kekufuran seluruh manusia tidak mengurangi kekuasaan-Nya.

Dalam konteks inilah, Tuhan tidak membutuhkan kesalehan kita. Tetapi, kitalah yang membutuhkan kesalehan itu untuk menyelamatkan diri sendiri.

Yang pasi, Tuhan telah menunjukkan jalan. Dan manusia diberi kemampuan untuk memilih, tetapi setiap pilihan membawa konsekuensi. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia telah diberi petunjuk menuju jalan yang benar; ia dapat memilih menjadi orang yang bersyukur atau kufur.

Karena itu, jangan membayangkan Tuhan marah karena kita tidak berdoa. Jangan pula menganggap Tuhan merasa diuntungkan karena jutaan orang menyebut bertobat kepadanya dan menyebut nama-Nya.

Tuhan tetap Tuhan, dengan atau tanpa pujian manusia. Yang akan memperoleh manfaat atau menanggung kerugian adalah manusia itu sendiri. Termasuk, manfaat tobat kita kepada Tuhan.

Doa juga memang penting. Akan tetapi, doa tanpa tobat berisiko berubah menjadi daftar panjang permintaan dari manusia yang tidak tahu diri.

Kita meminta Tuhan menghentikan korupsi, tetapi koruptor tetap dibela karena satu partai, satu kelompok atau satu kepentingan. Kita meminta Tuhan menyelamatkan alam, tetapi gaya hidup rakus dan kebijakan eksploitatif tidak pernah dikoreksi.

Lantas, apakah Tuhan harus terus mendengarkan permintaan-permintaan kita dengan wajah serius?
Barangkali Tuhan sedang “ketawa”, melihat manusia yang begitu pandai menyusun doa, tetapi begitu lambat memperbaiki perilakunya.

Sekali lagi, “ketawa” dalam judul tulisan ini hanyalah metafora. Kita tidak sedang menerangkan bagaimana hakikat Tuhan tertawa. Kita sedang menertawakan diri kita sendiri sebagai bangsa religius yang gemar meminta kepada Tuhan, tetapi sering menolak bertanggung jawab atas perbuatannya.

Bangsa ini tidak kekurangan doa. Setiap hari doa dibacakan dari masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, rumah, kantor dan panggung-panggung kenegaraan.
Yang mulai langka adalah keberanian untuk berkata: “Tuhan, kami salah. Karena itu ampunilah kami”

“Ya Tuhan…Kami juga salah karena menjadikan agama sebagai upacara belaka, tetapi tidak menjadikannya sebagai akhlak dalam kehidupan.”

Silakan terus berdoa. Silakan terus berzikir. Namun, berhentilah hanya meminta Tuhan memperbaiki keadaan, sementara kita sendiri tidak mau berubah.

Yang sedang ditunggu Tuhan saat ini bukan banyaknya kata-kata dalam doa kita, melainkan kesungguhan tobat dan perubahan nyata dalam hidup kita.

*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA/Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat