BERITABUANA.CO, DEPOK – Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok Binton Nadapdap., S.Sos., S.H., M.M., M.H., menilai Pemerintah Kota (Pemkot) perlu mengambil langkah yang lebih tegas, dalam menciptakan iklim investasi yang aman, nyaman, dan bebas dari praktik pungutan liar (Pungli) maupun tindakan premanisme yang mengatasnamakan organisasi kemasyarakatan (Ormas).
Menurutnya, investor akan memilih daerah yang mampu memberikan kepastian hukum, keamanan, kemudahan perizinan, serta biaya usaha yang jelas.
“Apabila masih terdapat praktik pungli atau intimidasi terhadap pelaku usaha, maka daya saing Kota Depok akan semakin tertinggal dibandingkan kota tetangga,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Binton menyampaikan, investasi merupakan salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Karena itu, Pemkot harus memastikan tidak ada ruang bagi praktik pungli, pemerasan, maupun aksi premanisme yang menghambat dunia usaha. Semua pihak harus tunduk pada hukum, tanpa terkecuali.
Ia menegaskan, keberadaan Ormas pada dasarnya dilindungi undang-undang dan memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa.
Namun, apabila ada oknum yang menyalahgunakan nama organisasi untuk melakukan intimidasi atau meminta sejumlah uang kepada pelaku usaha, maka tindakan tersebut harus ditindak secara hukum dan tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh ormas.
“Jangan sampai ulah segelintir oknum mencoreng nama baik Ormas, yang selama ini berkontribusi positif bagi masyarakat. Penegakan hukum harus menyasar pelaku, bukan memberikan stigma kepada seluruh organisasi,” kata Binton.
Ia juga mendorong Pemkot untuk mempercepat reformasi birokrasi, menyederhanakan proses perizinan, memperkuat pengawasan terhadap praktik pungli, serta menjamin keamanan bagi seluruh investor, baik domestik maupun asing.
“Jika Depok mampu memberikan kepastian hukum, birokrasi yang efisien dan keamanan yang terjamin. Saya yakin investasi akan terus tumbuh dan memberikan manfaat besar, bagi perekonomian nasional maupun daerah,” tambahnya.
Belakangan ini, muncul perbincangan mengenai kecenderungan sebagian investor yang disebut lebih memilih menanamkan modal di Vietnam dibandingkan Indonesia.
Sejumlah kalangan menilai keputusan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kemudahan berusaha, efisiensi birokrasi, kepastian regulasi, kualitas infrastruktur, hingga persepsi terhadap biaya tambahan yang muncul akibat praktik pungutan liar dan gangguan keamanan terhadap aktivitas usaha.
“Dengan demikian, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan menjadi tujuan investasi yang semakin menarik di tingkat regional maupun global,” tandasnya.
Binton mengutarakan, peluang investasi yang paling menjanjikan di Kota Depok antara lain Rumah sakit dan layanan kesehatan. Pendidikan, termasuk sekolah, kursus, dan pusat pelatihan karena Depok dikenal sebagai kota pendidikan.
Kemudian, Properti dan kawasan komersial, terutama di koridor yang berkembang. UMKM berbasis digital, kuliner, dan ekonomi kreatif. Pusat logistik dan pergudangan skala perkotaan.
“Pariwisata perkotaan dan sport tourism, yang mulai masuk dalam perencanaan pembangunan jangka panjang kota. Teknologi informasi (IT), startup, dan pusat inovasi yang didukung keberadaan perguruan tinggi,” urainya.
Lantaran letaknya yang berbatasan langsung dengan Jakarta, didukung jaringan tol, transportasi massal, serta keberadaan kampus-kampus besar.
Ia menekankan, Depok memiliki potensi menjadi salah satu pusat investasi jasa, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital yang kompetitif di kawasan metropolitan Jabodetabek.
“Kita berharap, investasi di Kota Depok di tahun 2026 memberikan dampak investasi yang positif, terhadap perekonomian masyarakatnya,” pungkasnya. (Rki)







