INDONESIA tidak pernah benar-benar tenang. Kita hidup, tumbuh, dan mencari makan di atas sebuah cincin api.
Izinkan saya menambahkan sedikit perspektif dari BNPB. Namun sebelum itu, izinkan kami dari BNPB menyampaikan rasa prihatin dan empati yang mendalam atas hilangnya kontak rekan kita, seorang jurnalis yang sedang bertugas meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Doa kita bersama, semoga beliau segera ditemukan dalam keadaan selamat. Merekalah garda terdepan yang memastikan informasi kebencanaan sampai kepada masyarakat.
Peristiwa di Anak Krakatau ini menjadi pengingat paling nyata: betapa dekatnya kita dengan ancaman itu.
Kita Adalah Negeri Gunung Api
Secara geologis, takdir Indonesia sudah digariskan. Kita berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia: Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Tumbukan ini bergerak 5-6 cm setiap tahun, menumpuk energi mahabesar yang kemudian mendorong daratan Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara terus meninggi dan melahirkan gunung api.
Kita menyebutnya Ring of Fire, lingkaran api. Hampir tidak ada wilayah di Indonesia yang steril dari gunung.
Dari ratusan gunung yang kita miliki, ada 76 Gunung Tipe A — yang tercatat pernah meletus sejak tahun 1600. Ada 30 Gunung Tipe B yang meletus sebelum tahun 1600, dan 21 Gunung Tipe C yang tidak punya catatan letusan, tapi masih berdesah lewat hembusan gas dan aktivitas solfatara. Artinya, kita adalah salah satu negara paling rawan di dunia.
Di sisi lain, kita juga harus bersyukur. Karena gunung itulah tanah kita subur. Abu vulkanik adalah pupuk terbaik yang diberikan alam. Inilah paradoks kita: sumber ancaman sekaligus sumber kehidupan.
Dan hari ini, paradoks itu sedang kita hadapi secara bersamaan.
Saat ini ada lima gunung dengan status Level III SIAGA, yang artinya perlu perhatian khusus dan kawasan rawan bencananya harus dikosongkan:
1. Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara
2. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang abunya minggu ini melumpuhkan 7 hingga 8 bandara internasional dan domestik
3. Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta
4. Gunung Semeru di Jawa Timur
5. Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT
Kita sedang dikelilingi gunung yang sedang bergejolak.
Ancaman Tidak Hanya Saat Meletus
Mengapa kita harus waspada pada Level Siaga? Karena bahaya gunung tidak tunggal.
Pertama, bahaya primer saat erupsi. Ada lontaran batu pijar yang bisa melontar berkilo-kilometer, dari seukuran kerikil hingga sebesar rumah.
Ada gas beracun yang paling mematikan karena tak terlihat dan tak berbau, namun bisa membunuh dalam sekejap jika terhirup di atas ambang batas.
Ada aliran lava yang melelehkan apa pun yang dilaluinya, ada lahar letusan dari kawah yang berdanau, ada hujan abu vulkanik yang menyebar dari Banten, Lampung, hingga Sumatera Selatan. Abu ini jika terhirup ibarat menghirup pecahan kaca mikroskopis yang melukai alveoli paru-paru dan mengiritasi kulit. Dan yang paling ditakuti, adalah awan panas — luncuran gas panas ratusan derajat yang meluncur lebih cepat dari mobil di jalan tol.
Kedua, bahaya sekunder yang sering kita lupakan. Gunung sudah tenang, kita merasa aman, padahal bahaya justru baru dimulai.
Kita melihatnya di Semeru, di mana banjir lahar dingin terus berulang setiap hujan turun, membawa material pasir dan batu dari puncak menyapu pemukiman. Kita melihatnya di Merapi beberapa waktu lalu.
Bahkan yang lebih mengejutkan adalah kasus di Sumatera Barat. Banjir lahar yang terjadi bukan hanya dari material letusan baru, tapi dari endapan abu dan pasir ratusan tahun lalu yang sudah menumpuk di lembah sungai.
Ketika hujan lebat datang, tanggul alam itu jebol, dan melintas menerjang banyak sungai dan pemukiman. Inilah yang kita sebut secondary hazard — bencana setelah bencana.
Dari Status Menjadi Strategi
Karena ancaman itu berlapis, strategi mitigasi kita juga harus berlapis.
Tidak cukup hanya melihat status gunung — Normal, Waspada, Siaga, Awas. Kita harus paham maknanya.
Level III Siaga artinya letusan mungkin terjadi dalam hitungan minggu, ancaman signifikan, dan Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang telah dipetakan oleh Badan Geologi HARUS kosong. Level IV Awas artinya erupsi bisa dalam 24 jam.
Maka mitigasi tidak bisa dikerjakan satu instansi.
Pertama, integrasi data. Pemantauan curah hujan dari BMKG menjadi krusial. Ketika gunung meletus dan hujan turun di sekitarnya, itu adalah rumus pasti lahirnya lahar dingin. Kita butuh sistem pemantauan curah hujan dan tinggi muka air sungai yang saling terhubung dan dipelihara bersama.
Kedua, disiplin evakuasi. Ini yang paling berat. Mengosongkan KRB bukan soal memindahkan manusia, tapi memindahkan rasa aman, mata pencaharian, dan ternak. Di sinilah kearifan lokal menjadi kunci. Masyarakat adat di sekitar gunung seringkali punya tanda-tanda alam yang lebih peka dari seismograf.
Ketiga, pemanfaatan teknologi geospasial. Kita bisa memetakan dengan sangat detail jalur-jalur mana yang akan dilalui lahar, awan panas, dan banjir bandang. Dengan begitu, jalur evakuasi bukan lagi sekadar garis di peta, tapi jalan keselamatan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, hidup di Ring of Fire adalah sebuah keahlian yang harus kita wariskan. Bukan untuk menakuti, tapi untuk membuat kita lebih rendah hati di hadapan alam.
Gunung akan tetap di sana, meletus dan istirahat sesuai siklusnya. Pertanyaannya bukan kapan ia akan meletus lagi, melainkan apakah kita sudah cukup siap ketika ia melakukannya?
Doa terbaik untuk rekan jurnalis kita di Anak Krakatau. Semoga lekas kembali.
Tulisan ini disadur dari diskusi dialektika demokrasi FWP — pemaparan: *Berton SP Panjaitan* – (Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)







