Svara Nusantara Matangkan Persiapan Menuju The 8th Tokyo TICC

by
Svara Nusantara, saat menggelar JAYASVARA INDONESIA 2026, sebagai konser tahunan ke-3 sekaligus konser pra-kompetisi sebelum bertolak ke Jepang, di Balai Resital Kertanegara, Jakarta Selatan (Foto: Dokumen Redaksi)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Paduan suara independen asal Kota Tangerang Selatan, Svara Nusantara, terus mematangkan persiapan menuju The 8th Tokyo International Choir Competition (TICC) 2026 yang akan berlangsung di Kota Tokyo, Jepang, pada 24–26 Juli 2026.

Sebagai bagian dari persiapan tersebut, kata salah satu founder Svara Nusantara, Ahmad Yani yang akrab disapa Javert, digelar JAYASVARA INDONESIA 2026, pada 27 Juni 2026, di Balai Resital Kertanegara, Jakarta Selatan, sebagai konser tahunan ke-3 sekaligus konser pra-kompetisi sebelum bertolak ke Jepang.

Dijelaskannya, konser pra-kompetisi ini menjadi salah satu momentum penting bagi Svara Nusantara untuk menguji kesiapan musikal, kekompakan tim, interpretasi repertoar, dan energi panggung, sebelum tampil di hadapan juri dan komunitas paduan suara internasional.

“Pada TICC 2026 nanti, Svara Nusantara tercatat sebagai satu-satunya finalis dari Indonesia untuk kategori Mixed Choir,” kata Javert, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/6/2026).

Dikatakannya, keikutsertaan ini menjadi langkah besar bagi Svara Nusantara sebagai komunitas paduan suara independen yang berdiri sejak 2023.

Berbasis di Tangerang Selatan, lanjutnya, Svara Nusantara kini telah menjadi ruang bagi lebih dari 80 pemuda-pemudi Jabodetabek untuk mengembangkan bakat, mengasah musikalitas, dan merawat kekayaan budaya Indonesia melalui seni paduan suara.

Javert, menegaskan, konser pra-kompetisi ini menjadi bagian penting dari proses persiapan tim sebelum tampil di panggung internasional.

“Konser pra-kompetisi adalah bagian dari proses evaluasi terakhir sebelum kami tampil di Tokyo. Dalam latihan, kami bisa memperbaiki banyak hal secara teknis. Namun, ketika tampil di hadapan audiens, ada energi dan tekanan yang berbeda. Itu menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi para singers,” ujar Javert.

Dalam kategori Mixed Choir, Svara Nusantara, menurut Javert akan menghadapi tantangan musikal yang menuntut kesiapan teknik, interpretasi, dan kekompakan tim. Para penyanyi akan diuji melalui repertoar klasik dari berbagai era, termasuk Baroque, Renaissance, dan Romantic.

“Selain itu, Svara Nusantara juga terus membawa semangat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari identitas artistiknya,” ungkapnya.

Bagi Svara Nusantara, kata Javert, membawa nama Indonesia ke kompetisi internasional bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang bagaimana paduan suara dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kualitas, karakter, dan cerita Indonesia kepada audiens global.

“Kami ingin setiap singer memahami bahwa mereka tidak hanya tampil sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari satu tubuh suara yang membawa identitas Svara Nusantara dan Indonesia. Budaya harus dibawakan dengan rasa hormat. Karena itu, kami ingin penampilan kami tidak hanya terdengar indah secara musikal, tetapi juga memiliki cerita dan rasa yang kuat,” tambah Javert.

Dijelaskannya, sejak berdiri, Svara Nusantara telah melalui sejumlah pencapaian penting. Pada 2023, Svara Nusantara menggelar konser perdananya bertajuk Abhipraya, yang sekaligus menjadi penanda resmi lahirnya komunitas ini.

“Pada 2024, Svara Nusantara meraih Grand Champion dalam National Folklore Festival, serta meraih 3rd Place dan Best Choreography dalam Jakarta National Choir Competition 2024,” ujarnya.

Di tahun yang sama, lanjutnya, Svara Nusantara juga memperoleh penghargaan sebagai Komunitas Berbasis Seni Terbaik dalam Tangsel Creative Award. Selanjutnya pada 2025, Svara Nusantara menggelar konser tahunan kedua bertajuk Jagaddhita: Senandung Mimpi, Senandung Semesta, di Balai Resital Kertanegara, Jakarta, yang berhasil terjual habis.

Sedangkan co-Founder sekaligus Head of Project Svara Nusantara Goes to TICC 2026, Rivaldi Sudrazat, menambahkan, perjalanan menuju Tokyo menjadi proses yang lebih besar dari sekadar kompetisi.

“Tokyo bukan hanya agenda kompetisi. Ini adalah ujian besar bagi kemampuan organisasi kami untuk bekerja lebih matang. Selain latihan dan kesiapan artistik, ada banyak aspek yang harus kami kelola bersama, mulai dari produksi, administrasi, pendanaan, publikasi, hingga koordinasi
keberangkatan,” ujar Rivaldi.

Sebagai komunitas independen, kata Rivaldi, perjalanan Svara Nusantara menuju Tokyo dibangun melalui kerja kolektif para anggota, tim produksi, tim kreatif, mitra, komunitas, dan publik. Karena itu, JAYASVARA INDONESIA 2026 juga menjadi ruang bagi publik untuk ikut menyaksikan dan mendukung perjalanan Svara Nusantara sebelum tampil di panggung internasional.

“Konser ini menjadi momentum untuk mempertemukan Svara Nusantara dengan publik yang selama ini mendukung perjalanan kami. Kami ingin publik melihat bahwa perjalanan menuju Tokyo bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Ada proses panjang, kerja kolektif, dan banyak dukungan yang membuat langkah ini mungkin dilakukan,” tambah Rivaldi.

Melalui JAYASVARA INDONESIA 2026, Svara Nusantara ingin menunjukkan bahwa paduan suara dapat menjadi ruang ekspresi budaya yang dekat dengan generasi muda, sekaligus memiliki daya saing di tingkat internasional.

“Konser ini juga menjadi bagian dari upaya Svara Nusantara untuk membawa harmoni Indonesia dari ruang komunitas menuju panggung dunia,” imbuhnya. (Kds)