BERITABUANA.CO, JAKARTA – Piala Dunia 2026 dilaporkan sepi. Hal ini terlihat dari bekerja kerasnya pihak penyelenggara yang sedang berjuang menjual tiket yang sampai saat ini masih sedikit. Terlihat dari beberapa laga yang sudah dimainkan bangku penonton banyak yang kosong.
Dilaporkan juga di antara penyebabnaya adalah harga tiket sangat tinggi. Dan ini yang menjadi alasan penggemar emoh untuk menonton langsung.
Begitu hotel-hotel. Dari survei, pemilik hotel di kota-kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia juga mengungkapkan bahwa tingkat pemesanan cenderung di bawah perkiraan.
Sebagaimana dimuat laman AS Newsweek Jumat (12/6/2026), angka dari Ticket Data menyebut sekitar 25.000 kursi masih tersedia melalui platform penjualan tiket utama FIFA. Tiket sangat laku, hanya pada pertandingan tim tuan rumah saja.
Format turnamen juga menjadi masalah lain. Piala Dunia kali ini menjadi yang terbanyak diikuti peserta, dengan 48 tim dan 104 pertandingan.
Kemudian, kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, juga menjadi penyebab sepi penonton. Bisa disebut kebijakan tersebut yang menjadi Biang Kerok Penonton Sepi & Hotel Tak Laku
Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga memberi pengaruh. Analis mengatakan hal ini membuat turis internasional malas datang ke tuan rumah Piala Dunia 2026 tersebut, yang menyelenggarakan pertandingan bersama Meksiko dan Kanada.
“Isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS,” kata Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Mike Edwards, seperti dikutip Al Jazeera.
Kebijakan imigrasi Trump juga mengurangi minat berkunjung. Pada April lalu, sejumlah organisasi termasuk American Civil Liberties Union (ACLU) bahkan mengeluarkan peringatan bagi warga asing yang hendak bepergian ke AS untuk menyaksikan Piala Dunia 2026.
Belum lagi kebingungan terkait aturan visa dan laporan keterlambatan proses penerbitan visa turut menimbulkan ketidakpastian bagi para penggemar sepak bola dari luar negeri. Situasi ini mengurangi jumlah wisatawan internasional yang biasanya menjadi penyumbang belanja terbesar selama ajang olahraga global berlangsung.
Di sisi domestik, masyarakat AS juga menghadapi tekanan ekonomi. Harga bensin tercatat mencapai US$4,16 (sekitar Rp75.275) per galon, naik dari US$2,98 (Rp53.923) per galon pada akhir Februari. Kenaikan biaya hidup dan pasar tenaga kerja yang melambat membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk perjalanan dan hiburan.
Dampaknya mulai terlihat pada sektor perhotelan. Berdasarkan survei American Hotel and Lodging Association, sekitar 80% hotel melaporkan tingkat pemesanan yang masih di bawah ekspektasi hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
Sebanyak 70% responden menyebut hambatan visa dan gejolak geopolitik sebagai penyebab utama lemahnya permintaan. Di New York City yang akan menjadi lokasi partai final, pemesanan hotel baru mencapai sekitar 65% dari target yang diharapkan sementara di Seattle, sekitar 80% hotel tercatat masih tertinggal dibandingkan tingkat pemesanan musim panas normal. (Kds)







