Makkah Dilanda Cuaca Panas, Jemaah Haji Lansia Diimbau Salat di Hotel

by
Tim MCH di Masjidil Haram dengan suasana cuaca panas di Makkah. (Foto: Muhammad Umar Fadloli)

BERITABUANA.CO, MAKKAH- Jemaah haji Indonesia, terutama lanjut usia (lansia) dan disabilitas diimbau melakukan salat berjamaah di musala hotel dan tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram. Imbauan ini dikeluarkan seiring dengan cuaca di Makkah yang mencapai di atas 40 derajat celcius beberapa hari ini.

Pelaksana bimbingan ibadah (Bimbad) Daerah Kerja Makkah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Abdul Aziz Siswanto, mengatakan, semua jemaah pasti mengimpikan salat lima waktu di Masjidil Haram. Namun, impiannya tersebut jangan sampai tidak memperhatikan kondisi fisik, terutama jemaah haji lansia dan disabilitas.

“Tadi sudah kami sampaikan, seluruh wilayah Tanah Haram ini memiliki keutamaan Masjid Al-Haram, yaitu kita beribadah salat di sini pahalanya 100 ribu kali,” kata Siswanto usai agenda visitasi, edukasi, dan konsultasi (visduk) bimbingan ibadah, di Sektor 4 wilayah Syishah-Raudhah, Selasa (5/5/2026).

Karenanya, lanjut Siswanto, penting bagi para bimbad yang bertugas di sektor maupun kloter untuk mengedukasi jemaah haji, terutama yang berkebutuhan khusus agar mengutamakan hifdun nafas atau menjaga keselamatan jiwa.

“Jangan sampai kita hanya mengikuti hawa nafsu, kuatirnya kita ibadah itu pemuja setan, bukan pemuja Allah itu. Kenapa? Karena kita memuja nafsu kita. Pengennya ke sana, tiap salat. Tidak salah, kalau memang fisiknya memungkinkan,” kata Siswanto.

Hal senada disampaikan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Kasi Bimbad) dan KBIHU Daker Makkah, PPIH Arab Saudi, Erti Herlina. Ia menegaskan, menjaga jiwa itu wajib dan lebih penting daripada memaksakan ke Masjidil Haram saat keadaan cuaca tidak memungkinkan.

“Kita di sini itu mau beribadah, tetapi kalau tanpa aturan itu juga sulit untuk dilaksanakan,” kata Erti saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Sektor 4 wilayah Raudhah, Makkah.

Sebab, kata Erti, ibadah itu tidak berdiri sendiri, hanya terkait dengan pemahaman ibadah. Namun, kondisi kesehatan, rute, hingga keamanan mesti dipikirkan.

Apalagi, bagi jemaah lansia dan disabilitas serta jemaah yang kurang sehat. Jangan sampai kemudian jemaah kebingungan ketika memaksanan diri ke Masjidil Haram, tapi justru bungung saat mau pulang.

“Walaupun sudah ada bus shalawat, tetap harus dengan bimbingan. Tidak bisa sekali jalan mereka bisa hafal, seperti itu. Nah ini kadang kondisi ini menguras tenaga.” kata Erti.

Karena itu, jemaah harus bisa mengatur waktu, kapan bisa salat di Masjidil Haram, kapan cukup salat berjamaah di hotel. “Sekali lagi dengan tetap memperhatikan kesehatan, keamanan dan juga keselamatan,” tutupnya. (Fadloli/MCH 2026)

No More Posts Available.

No more pages to load.