BERITABUANA.CO, MADINAH- Jemaah haji tertua Indonesia tahun ini tiba di Tanah Suci, Madinah Al Munawwarah dengan kisah yang menyentuh. Di usia 103 tahun, Mardi Jiyono Karto Sentono, jemaah haji asal Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya menapakkan kaki di tanah suci setelah penantian panjang.
Kedatangan Mbah Mardi Jiyono yang tergabung dalam Kloter 9 Embarkasi Yogyakarta (YIA), menjadi perhatian petugas dan jemaah lainnya.
Dengan kondisi fisik yang sudah lanjut, ia tidak berjalan sendiri. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH dengan sigap menggendongnya saat turun dari Bus menuju area penerimaan Jemaah di Hotel Makareem.
Setibanya di Madinah, Mbah Mardi Jiyono mengaku sangat senang dan bersyukur akhirnya bisa tiba di Tanah Suci. Meski usianya telah melampaui satu abad, semangatnya untuk beribadah tetap begitu kuat.
“Mantep pokoke, ajeng ibadah (Mantap, mau ibadah),” kata Mbah Mardi Jiyono saat ditanya terkait perasaannya saat tiba di Madinah.
Mbah Mardi Jiyono yang bekerja sebagai petani tersebut, memiliki harapan sederhana namun penuh makna, yakni dapat beribadah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Keinginannya itu menjadi semangat besar yang terus ia jaga, meski usia telah melampaui satu abad.
Kepala Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman, mengaku terharu melihat tekad dan semangat Mbah Mardi Jiyono. Menurutnya, di usia yang sangat lanjut, semangat untuk menunaikan ibadah haji menjadi contoh nyata keteguhan niat seorang hamba.
“Terharu dan ya ada perasaan yang kita itu senang tapi juga terharu. Di saat mereka sudah sepuh masih semangat untuk melaksanakan ibadah haji,” kata Khalilurrahman.
Berikan Pendampingan
Ia juga secara khusus meminta kepada petugas PPIH untuk memberikan pendampingan penuh, serta memastikan kondisi kesehatan dan keselamatan Mbah Mardi selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Kita punya petugas ini merasa sebagai suatu kehormatan, kemuliaan bagi petugas haji, baik yang di klotter ataupun kita yang berada di Arab Saudi.Jadi, ketika kita mendapatkan jamah yang ini yang paling sepuh di gelombang pertama,” ujarnya.
“Kita ini mendapatkan kemuliaan untuk merawat beliau. Ini ibaratnya ini orang yang doanya Mustajabah. Makanya saya tadi minta doa kepada beliau,” sambung Khalilurrahman.
Momen ini, lanjutnya, tak hanya menunjukkan dedikasi petugas, tetapi juga menjadi simbol kuatnya tekad seorang lansia dalam menunaikan rukun Islam kelima. Kisah Mbah Marjiyono menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa keterbatasan usia bukanlah halangan untuk beribadah, selama ada niat, doa, dan usaha yang kuat.
“Semoga kita semua petugas di sini diberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran di dalam memberikan pelayanan kepada beliau dan seluruh jamah haji Indonesia. Karena kalau doa beliau Mustajabah kita semuanya mendapatkan keberkahan, kebaikan dari semuanya. Dan ini saya pesan kepada petugas klotter dari kita semuanya,” tutupnya. (Fadloli/MCH 2026).






