Negoisasi AS dan Iran Berlangsung, Namun Kedua Negara Sama Keras Masing-masing Keinginannya

by
Delegasi Iran tiba di Islamabad. (Foto: Instagram)

BERITABUANA.CO, ISLAMABAD –  Yang ditunggu-tunggu masyarakat dunia untuk sementara ini terkabulka. Di mana kedua negara bersengketa ‘keras’ Amerika Serikat (AS) dan Iran bertemu untuk berundingan dengan niat utama menghentikan perang.

Delegasi AS, dipimpin oleh Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Sudah mendarat di pangkalan udara di dekat Islamabad, ibu kota Pakistan, pada Sabtu (11/4) waktu setempat.

Vance akan memimpin delegasi AS dalam negosiasi dengan Iran, untuk membahas finalisasi gencatan senjata guna mengakhiri perang selama enam pekan terakhir.

Vance yang diutus oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin tim negosiasi AS, seperti dilansir AFP, Sabtu (11/4/2026), disambut oleh kepala militer Pakistan yang berpengaruh, Asim Munir, setelah mendarat di pangkalan udara Nur Khan, dekat Islamabad.

Munir mengantar Vance menyusuri karpet merah yang digelar di pangkalan udara tersebut, di mana Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sudah menunggu.

Pakistan bertindak sebagai tuan rumah dan mediator dalam perundingan lanjutan antara AS dan Iran ini, setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat

Sementara delegasi Iran dipimpin oleh ketua parlemen negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, tiba terlebih dahulu pada Jumat (10/4/2026) malam dan juga disambut oleh Munir.

Perundingan AS-Iran di Islamabad ini digelar saat kedua negara masih memiliki perbedaan pendapat soal tuntutan utama dalam gencatan senjata dan saling menunjukkan ketidakpercayaan satu sama lain.

Ghalibaf, memimpin delegasi Iran yang terdiri atas lebih dari 70 orang, mengatakan Teheran memiliki niat baik dalam menghadiri perundingan ini.

“Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya. Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji-janji yang tidak ditepati,” ucap Ghalibaf, seperti dikutip televisi pemerintah Iran, ketika tiba di ibu kota Pakistan.

Menjelang perundingan, muncul tanda tanya mengenai syarat yang diajukan delegasi Iran untuk dimulainya negosiasi.

Teheran menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu harus diterapkan juga di Lebanon, di mana Israel masih melancarkan pengeboman terhadap Hizbullah yang didukung Iran. Teheran juga menyerukan agar pembekuan aset-asetnya di luar negeri karena sanksi AS segera dicabut.

Vance yang memimpin delegasi AS, juga menunjukkan kewaspadaan yang sama dalam komentarnya kepada wartawan sebelum bertolak ke Pakistan.

“Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka,” ucapnya.

“Jika mereka berusaha mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati tim negosiasi yang tidak begitu responsif,” ujar Vance memperingatkan Iran.

Gencatan senjata sementara yang disepakati AS-Iran dinilai rapuh, dengan Israel terus menggempur Lebanon, yang menjadi markas kelompok Hizbullah. Tel Aviv dan Washington menegaskan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, sedangkan Teheran dan Islamabad menyatakan sebaliknya.

Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif mengingatkan adanya “tahap yang lebih sulit di depan”, dengan menyebut kemajuan dalam perundingan akan membutuhkan kerja keras. Dia menyebut perundingan di Islamabad ini akan menjadi “penentu keberhasilan atau kegagalan”. (Kds)