Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 Saat Bertemu Wamenhaj Arab Saudi

by
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Abdulfattah bin Sulaiman Mashat, di Madinah. FOTO: Humas Kemenhaj

BERITABUANA.CO, MADINAH- Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Abdulfattah bin Sulaiman Mashat, di Madinah.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, Wamenhaj RI mengatakan bahwa keselamatan jemaah menjadi prioritas utama, terutama terkait keamanan penerbangan dan ketersediaan logistik pangan.

Pertemuan antar kedua wakil Menteri tersebut berlangsung dalam suasana hangat dilakukan usai ziarah dan salat Maghrib bersama di Raudah, sembari membahas berbagai persiapan penyelenggaraan ibadah Haji 2026.

Salah satu isu yang menjadi perhatian bersama adalah potensi kenaikan harga bahan bakar yang dapat berdampak pada biaya penerbangan jemaah haji.

Abdulfattah menyampaikan bahwa secara umum seluruh persiapan haji oleh pemerintah Arab Saudi telah dilakukan dengan matang. Namun demikian, ia menekankan pentingnya antisipasi terhadap dinamika global, khususnya terkait energi.

“Kenaikan harga bahan bakar perlu menjadi perhatian bersama, sehingga kedua negara dapat mengantisipasi agar layanan penerbangan tetap optimal,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Wamenhaj Dahnil menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan mengambil langkah mitigasi untuk menjaga kualitas layanan, baik dari sisi transportasi maupun konsumsi jemaah haji selama di Tanah Suci.

Ia juga menyampaikan bahwa perhatian Presiden Prabowo Subianto tetap berfokus pada keselamatan jemaah haji dengan dua aspek utama, yakni keamanan penerbangan dan kesiapan logistik pangan.

Selain itu, berdasarkan hasil peninjauannya ke sejumlah dapur katering di Arab Saudi, Wamenhaj memastikan pentingnya menjaga ketersediaan bahan pangan. Ia pun mendorong agar dapur-dapur penyedia makanan memiliki cadangan bahan baku hingga tiga bulan, termasuk makanan siap saji untuk berbagai kondisi darurat.

Langkah ini diharapkan mampu menjamin kenyamanan dan kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. (Fadloli/Humas Kemenhaj RI)