Harga BBM Nonsubsidi Naik Imbas Geopolitik Timur Tengah, Indonesia Masih Relatif Stabil di ASEAN

by
Ilustrasi Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM). (Foto: Ist/Net)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Di tengah memanasnya konflik geopolitik global yang menyeret kawasan Timur Tengah, tekanan terhadap harga energi mulai terasa hingga ke dalam negeri. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia dinilai sebagai dampak langsung dari lonjakan harga minyak dunia, sekaligus cerminan mekanisme pasar yang mengikuti dinamika internasional.

Ekonom dari Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, menyebut eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta potensi gangguan di Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga minyak global.

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang wajar karena mekanisme penentuannya mengikuti harga pasar internasional,” ujar Wisnu dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).

Penyesuaian Harga Bertahap

Sepanjang Februari hingga Maret 2026, sejumlah BBM nonsubsidi mengalami kenaikan bertahap. Produk RON 92 naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, sementara RON 95 meningkat dari Rp12.450 menjadi Rp12.900. Varian beroktan lebih tinggi juga terdorong hingga kisaran Rp13.100 per liter.

Kenaikan lebih terasa pada jenis solar nonsubsidi. Dexlite kini berada di level Rp14.200 per liter dari sebelumnya Rp13.250, sedangkan Pertamina Dex naik menjadi Rp14.500 per liter.

Di sisi lain, pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masing-masing di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter guna menjaga daya beli masyarakat.

Wisnu menilai penyesuaian tersebut masih tergolong moderat, berada di kisaran 5% hingga 10%. “Penyesuaian harga masih relatif terkendali dan belum melampaui 10%,” katanya.

Mengikuti Harga Global

Harga BBM nonsubsidi di Indonesia, lanjut Wisnu, mengacu pada tren minyak global, terutama indikator Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus, dengan mempertimbangkan nilai tukar rupiah serta komponen pajak.

Dengan harga minyak dunia yang telah menembus US$100 per barel, fluktuasi harga domestik menjadi sulit dihindari. Pergerakan kurs rupiah yang dinamis turut memengaruhi harga jual di tingkat eceran.

Mekanisme penentuan harga ini juga memberi fleksibilitas bagi badan usaha, meski tetap berada dalam pengawasan pemerintah. Sistem tersebut dinilai mendorong efisiensi konsumsi energi, terutama di kalangan masyarakat mampu.

Tekanan ke APBN

Lonjakan harga minyak global turut membebani fiskal negara. Setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga sekitar Rp6,7 triliun.

Meski demikian, pemerintah diperkirakan masih akan menahan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Langkah ini umumnya menjadi opsi terakhir untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

“Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran,” kata Wisnu.

Posisi Indonesia di ASEAN

Di tengah tekanan global, Indonesia dinilai masih relatif stabil dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kenaikan harga BBM nonsubsidi masih terbatas, sementara kebijakan subsidi tetap menjadi bantalan utama.

Sebagai perbandingan, negara dengan mekanisme pasar penuh seperti Thailand dan Vietnam mengalami kenaikan harga yang lebih signifikan, terutama pada sektor solar yang berdampak langsung pada logistik dan industri.

Sementara Malaysia masih mampu menjaga harga tetap rendah melalui subsidi besar, dan Singapura mencatat harga tertinggi di kawasan karena tidak menerapkan subsidi serta mengenakan pajak energi yang tinggi.

Kombinasi antara kebijakan subsidi dan penyesuaian terbatas pada BBM nonsubsidi menempatkan Indonesia dalam posisi relatif aman, sekaligus menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.

Komparasi Harga BBM di ASEAN (Maret 2026)

Indonesia

  • RON 92: Rp12.300
  • RON 95: Rp12.900
  • RON 98: Rp13.100
  • Solar subsidi: Rp6.800
  1. Dexlite: Rp14.200
  • Pertamina Dex: Rp14.500

Malaysia

  • RON 95: ± Rp8.500 – Rp11.400
  • RON 97: ± Rp13.000
  • Solar: ± Rp10.000 – Rp11.500

Singapura

  • RON 95: ± Rp45.000
  • RON 98: Rp52.000 – Rp55.000
  • Solar: ± Rp45.000 – Rp47.000

Thailand

  • RON 92: ± Rp23.000
  • RON 95: ± Rp23.000 – Rp24.000
  • Solar: ± Rp17.000

Vietnam

  • RON 92: ± Rp22.000 – Rp25.000
  • RON 95: ± Rp25.000+
  • Solar: ± Rp20.000 – Rp21.000+

Ke depan, dinamika harga energi global diperkirakan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan energi nasional, terutama dalam menjaga ketahanan energi dan stabilitas ekonomi domestik. (Red)