‘SATIRE‘ Trump! “Inggris adalah sekutu hebat di masa lalu”, tak lagi dibutuhkan dalam Epic Fury. Semacam ironi atau eksagerasi kekecewaan, dan terdesaknya Trump.
Menyebut Perancis dan Inggris sebagai “kain lusuh” (Tattered Cloth), para pejabat Israel, pun ‘satire’ tanpa ragu bergumam. Saat terburuk bagi Eropa, kinilah.
Mungkin, seperti ungkapan filsuf, esais, dan penyair AS Ralph Waldo Emerson (1803-1882). “Konsistensi bodoh adalah momok dari pikiran kecil”, Eropa di-asosiasikan bagai kain sobek (lusuh), menjadi potongan kecil yang terpisah.
Konsistensi kebersamaan Eropa-AS, tengah diuji perang AS-Israel, dan Iran. Kukuh menolak ajakan AS membantu memerangi Iran, serta ancaman terbelahnya aliansi NATO. Eropa memilih dua mata pisau yang sama tajam.
Trump, di tengah perlawanan sengit Iran, seperti ditinggalkan para sekutu Eropa-nya. Sirkulasi opini, pun menuding, perang ini tidak perlu ada. Lantas, menyalahkan orang lain yang tak membantu? Satu kekonyolan!
Iran yang “terluka” dan terhina (kematian pemimpin dan Teheran dihancurkan), dalam posisional di luar dugaan AS-Israel. Bertindak bersama Israel tanpa konsultasi dengan Eropa (NATO), Trump malah menebar ancaman.
Berbicara kepada “Financial Times” (Minggu, 14/3), Trump memperingatkan, bahwa NATO menghadapi masa depan yang sangat buruk. Ini terjadi, jika tidak membantu AS dalam melindungi selat tersebut (Hormuz).
Emosional Trump yang terus mempertahankan posisional, tanpa solutif ‘win win’, menunjukkan serangan AS-Israel (28/2) lebih didasari pada eforia ‘megalomania’ empiris. Tanpa kalkulasi, bahwa “ini Iran”!.
Keberhasilan Israel membunuh Ismail Haniyeh (Hamas) di Teheran, dan Sayeed Hasan Nasrallah (Hezbollah) di Lebanon, dengan akurasi mumpuni, lalu ceroboh dilakukan terhadap pemimpin Iran (Khamenei).
Berhasil! Tapi, Iran bukanlah Hamas, bukan Hezbollah. Iran disamping “tahan banting: perang 1980-1988 dengan Irak, sanksi ekonomi 47 tahun (1979-2026), memiliki sel-sel hidup proxi di kawasan regional: Kataib (Irak), Hezbollah (Lebanon), Houthi (Yaman).
Sangat kentara, serangan AS ke Iran memperlihatkan, seperti kata Ralph Waldo Emerson. Berdasarkan “momok pikiran kecil”. Menuntut Inggris, China, Jepang, Perancis, dan negara lain untuk mengawal kapal tanker minyak di Selat Hormuz, sinyal bahwa AS-Israel, tidak antisipatif.
Membom massif, dan melancarkan serangan maksimal terhadap Iran, tanpa memprediksi apa yang bakal terjadi selanjutnya. AS sepertinya terbawa langgam Israel yang punya semangat destruktif.
NATO yang keanggotaannya mencakup negara-negara Eropa dan Amerika Utara, beberapa kali mengikuti arahan yang berbeda-beda dari Trump. Kurun setahun lalu, AS berpesan bahwa Eropa harus fokus pada pertahanan benua mereka sendiri, bukan Timur Tengah, atau Indo-Pasifik (The Guardian, 15 Maret 2026).
Perubahan, pun terjadi. Akhir pekan lalu, Trump mengatakan, sekutu NATO semestinya merasa berkewajiban ikut serta (melawan Iran). “Kita lihat, apakah mereka membantu kita”.Trump inkonsisten!
Kanselir Jerman, Friedrich Merz secara tegas menampik permintaan Trump. Bergaya pasti Merz menyebut, tidak berminat memperluas misi angkatan lautnya ke Selat Hormuz. “Ini bukan perangnya NATO”.
Italia, Kanada, di samping Jerman, Inggris, dan Perancis, sebagai sekutu NATO AS. Memang tidak ingin lagi terlibat perang yang di inisiasi oleh AS, apalagi di dalamnya ikut serta kepentingan kental Israel. Sikap Eropa terhadap Israel mengalami pragmatisme, setelah genosida Gaza.
Kematian Larijani
AS-Israel kini berpacu dengan waktu. Ancaman Iran pada target-target AS di seluruh kawasan regional Timteng, menjadi kecemasan spesifik bagi negara proxi AS.
Drone berbiaya murah dan efektif, menjadikan Iran sanggup berperang panjang, sekaligus “menyandera” pertumbuhan ekonomi kawasan Teluk.
Shahed, yang merupakan drone Iran, telah ditingkatkan teknologinya atas bantuan Rusia. Sehingga, dengan senjata ini, Iran bisa menyimpan rudalnya untuk memberi pukulan pamungkas kepada AS-Israel.
Perang AS-Israel, dan Iran akan semakin larut dalam “lumpur hitam”, dan pekat. Pengangkatan tokoh garis keras Mohsen Rezaee sebagai penasehat militer pemimpin tertinggi Iran (Mojtaba Khamenei), memastikan sinyalemen itu (Yedioth Ahronoth, 16 Maret 2026).
Rezaee (mantan komandan IRGC), mengingatkan AS-Israel, tidak akan ada gencatan senjata. Hingga, AS mengosongkan seluruh pangkalan militernya di Timur Tengah. Mencakup: Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, Arab Saudi, dan Oman.
Posisional Iran, kini semakin mencengkeram negara-negara Teluk yang terbiasa dengan kemakmuran. Sementara, AS yang terus didorong Israel untuk menghancurkan Iran, makin terpojok oleh ‘image’ perang yang tidak jelas tujuannya bagi inklusifitas dunia.
Tewasnya Ali Larijani (Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi), dan Gholamreza Soleimani (Komandan Paramiliter Basij), tidak banyak berpengaruh terhadap perlawanan Iran. Pola ‘Mosaic Defence’ (empat lapis kepemimpinan), membuat Iran tidak goyah.
Kabarnya, utusan Trump (Steve Witkoff), tengah berusaha menghubungi Menlu Iran (Abbas Araghchi). Untuk apa? Mungkin meminta perang disudahi tanpa mempermalukan AS.
Bisakah? Garis keras Iran kini yang menentukan. Bukan Arragchi (Menlu), atau Masoud Pezeshkian (Presiden). Nada ‘satire’ dan ironi AS, makin ‘lamat lamat’ (sayup). Kacau!.
*Sabri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







