Hetifah Dorong Smart Journalism, Integrasi Data dan AI untuk Perkuat Kualitas Pemberitaan

by
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. (Foto: Jal)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Profesi jurnalisme dituntut semakin adaptif di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Terlebih, dalam memanfaatkan data, riset ilmiah, dan teknologi digital, tanpa meninggalkan prinsip dasar pemberitaan yang akurat, berimbang, serta dapat dipercaya.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam acara diskusi bertajuk ‘Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas’, di Jakarta, Senin (16/3/2026).

Dikatakan Hetifah, transformasi digital telah mengubah lanskap industri media secara fundamental. Karenanya, integrasi antara jurnalisme, riset, dan teknologi AI menjadi kebutuhan penting agar media tetap mampu menghadirkan informasi yang berkualitas bagi publik.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kerja jurnalistik, bukan menggantikan peran kritis dan etika yang menjadi fondasi profesi awak media.

“Kehadiran AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti jurnalis, melainkan sebagai copilot yang mempermudah kerja-kerja jurnalistik. Seperti, dalam hal pengolahan data, riset awal, hingga analisis informasi secara lebih cepat dan efisien.

Meski demikian, legislator dari Fraksi Partai Golkar ini menekankan, teknologi tidak dapat menggantikan peran utama jurnalis yang membutuhkan penilaian editorial, kepekaan terhadap konteks sosial, verifikasi fakta di lapangan, serta integritas dan etika profesi.

“Di era banjir informasi seperti sekarang, kualitas pemberitaan menjadi sangat menentukan. Karena itu kolaborasi antara jurnalis, peneliti, dan ahli data menjadi penting agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak hanya cepat, tetapi juga berbasis data dan riset yang kuat,” ujar Hetifah.

Hetifah menambahkan, lembaga riset juga memiliki peran strategis dalam mendukung jurnalisme berbasis data. Kolaborasi antara dunia penelitian dan media diharapkan dapat memperkaya perspektif pemberitaan sekaligus meningkatkan literasi publik terhadap isu-isu strategis nasional.

Dalam diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber lainnya, yakni Hanif Fakhrurroja, Peneliti Ahli Madya di Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Setia Pramana, Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data di Badan Pusat Statistik.

Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti bahwa jurnalisme masa depan akan semakin bergantung pada kemampuan mengolah data secara akurat serta memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung proses analisis informasi.

Meski demikian, integritas jurnalistik tetap menjadi faktor utama agar teknologi tidak disalahgunakan dalam produksi pemberitaan.

“Media memiliki peran strategis dalam membangun literasi masyarakat. Untuk itu, kita perlu memastikan perkembangan teknologi digital justru memperkuat kualitas demokrasi melalui pemberitaan yang akurat, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan publik,” ujarnya.

Hetifah berharap diskusi serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan guna memperkuat kolaborasi antara jurnalis, peneliti, dan pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan komunikasi publik di era digital.

“Ke depan, kita perlu membangun ekosistem ‘smart journalism’ di Indonesia, di mana pemberitaan tidak hanya cepat, tetapi juga cerdas, berbasis data, dan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi masyarakat,” pungkas Hetifah. (Jal)