Impulsivitas AS-Israel: Keteguhan Perang Badar, Keteguhan Iran

by
Perang AS - Isral versus Iran. (Foto: Youtube)

PERANG AS-Israel terhadap Iran, sebuah “investasi” tanpa harapan.  AS-Israel tenggelam dalam sesat pikir  finansial (sunk-cost fallacy). Perang makin sengit.

AS-Israel tak akan mundur, mereka sudah kehilangan banyak ‘cost’. Sementara Iran,  berpikir dalam dua dimensi, meski berat.

Menguji keteguhan dan strategi, layaknya Perang Badar (17 Ramadhan bulan yang sama Maret 625 M, 313 pasukan Muslim vs 1.000 musuh Quraisy), dan motivasi memberi pelajaran pada Donald Trump (AS), Iran adalah bangsa “tua”.

Serangan AS-Israel, di saat negosiasi nuklir mengalami kemajuan, satu kecerobohan impulsif. Kehilangan kendali Trump-Netanyahu, dan bertindak ‘impulsif’ (tanpa pikir), telah merusak “keintiman” regional kawasan Teluk.

Kemarahan Iran, beberapa kali “dibohongi” label negosiasi, membuat Iran “Will Power” (tekad) melepaskan hormon ‘kortisol’-nya. Satu hormon stres yang terpendam selama 47 tahun.

Bangsa Iran ingin membuktikan kali ke-2 pada AS,  Iran tak bisa dikalahkan oleh senjata. Tak bisa ditaklukkan, seperti saat AS melengkapi ‘proxi’ Iran-nya (Shah Reza Pahlevi) dengan militer terkuat ke-5 di dunia. Runtuh oleh duet Ayatollah Ruhollah Khomaini-Ayatollah Ali Khamenei.

Sanksi ekonomi lebih dari empat dasawarsa,   secara biokimiawi meningkatkan ‘adrenalin’ Iran untuk melawan. Trump akan terkena batunya sekarang, tak ada lagi duplikasi eforia Venezuela di Iran.

Keputusan agresif  AS-Israel, memberi ketangguhan “darah dingin” Iran, mengingatkan mereka Makkah dan Madinah saat Perang Badar. Iran termotivasi dan terinspirasi oleh ‘ruhul’ semasa itu. Ini adalah kekuatan “beyond” dan spiritual.

Imperialisme “Yankee” ala Trump telah termakan eforia kemudahan menciptakan rezim boneka ala Delcy Rodriguez (Wapres Nicolas Maduro). Trump mencoba mencari Rodriguez lain di Iran.

Rasa terima kasih Delcy Rodriguez kepada Trump, atas kesediaan AS bekerjasama dengan Venezuela, memperlihatkan penangkapan Maduro ‘abnormal’. Naiknya Rodriguez atas restu Trump, ada pengkhianatan yang membuat Maduro jatuh.

Harga diri bangsa Iran, tidak sama dengan harga diri bangsa Venezuela. Iran, bukanlah tamsil anak yang memilih mendapatkan satu “gula-gula” (permen) sekarang, daripada lima gula-gula dua bulan mendatang.

Eforia Venezuela, sepertinya akan dilakukan pula di Iran. Trump ingin meniru model pengambilalihan rezim Teheran, manakala Ayatollah Ali Khamenei tewas. Layaknya, Rodriguez sesudah Maduro ditangkap AS.

Adakah “anak-anak” (pengkhianat) yang mau menerima “gula-gula” sekarang, setelah Khamenei dan Komandan IRGC (militer) tewas oleh bom AS?

Berpikir jangka pendek  merupakan tindakan dangkal dan sempit, bangsa Iran empiris mengalaminya. Sikap Polisi Rahasia (Savak), dan penjara Evin (Iran) semasa boneka AS (Shah Reza Pahlevi), melahirkan kesadaran yang ber-‘methamorfosis’ perubahan rezim. Dari monarki ke teokrasi (sekarang).

AS-Israel, sangat kental menginginkan geopolitik Iran menjadi bagian hegemoninya di Timur Tengah. Menguasai Iran, akan menyempurnakan penguasaan AS terhadap Timur Tengah.

Terlihat, di berbagai ‘declared’, Trump akan ikut menentukan siapa pemimpin Iran yang cocok. Karena itu, dia menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, memasuki minggu ke-2 perang Iran versus AS-Israel. Eforia Venezuela akan dijadikan “benchmarking”. Dan, Iran berikutnya.

Ada yang berbahaya! Semisal Iran, katakanlah takluk dengan AS-Israel, maka tatanan dunia akan berubah 360 derajat. AS akan mengawasi negara-negara berikutnya yang tidak mematuhi kehendak AS.

Layaknya dengan sebutan “tes marshmallow” (The Psychology of Emotion: David J. Lieberman: St. Martins Press, New York 2018), yang dilakukan Standford University.

Yaitu, dengan mengetes anak-anak menunda kesenangan, AS akan mengetes kemampuan semua negara untuk menunda kesenangan (kemandirian) sebagai bangsa berdaulat penuh.

Iran menjadi “palang pintu” terakhir, meneruskan atau mengerem Donald Trump mengarahkan negara bangsa (nation state) lain berada dalam ‘ketiaknya’. Dua contoh: Venezuela dan Iran, cukup menjadi tolok ukur.

Kecamuk Perang

Memasuki minggu ke-2 perang Iran dan AS-Israel, telah merubah persepsi rakyat Iran. Perang telah, merubah pandangan sebagian yang ingin menjatuhkan rezim Mullah, menjadi kebersamaan kohesif.

Terlebih, Revolusi Iran 1979 yang membawa rezim Islam berkuasa. Dipicu oleh kebencian nasionalis atas intervensi asing yang dianggap ancaman. Semasa “sang boneka” (Shah Reza).

Sentimen anti-Amerika yang dicontohkan oleh seruan revolusioner “Marg bar Amerik” (Matilah Amerika) telah menjadi inti ideologi Rezim Mullah, yang berkuasa tahun sejak 1979 (The Guardian, 6 Maret 2026).

Upaya Trump  mencampuri siapa yang harus memimpin Iran, sesuatu yang sangat delusi, sekaligus ilusi. Andai rezim Mullah runtuh akibat perang dengan AS-Israel, penggantinya yang direstui AS (seperti Venezuela), akan bernasib sama dengan Shah Reza Pahlevi (47 tahun lalu).

Hubungan AS-Iran, sebagai histori, diputus oleh pemerintahan Presiden AS ke-39, Jimmy Carter (1977-1981) tahun 1980. Terjadi setelah, para revolusioner Iran menyerbu kedutaan besar AS, sekaligus menyandera 52 orang diplomat AS (selama 444 hari).

Kini perang makin menggila. Survival rezim Mullah, membuat AS-Israel makin nekad ingin membom Teheran. Tadinya, sebagian rakyat Iran berpikir, hanya rezim yang menghabisi pendemo. Sekarang, mereka berpikir, AS-Israel ikut membunuh mereka lewat bom.

Satu yang mesti AS-Israel pikirkan, pemboman ini akan menjadi anti-tesis, bahwa AS bukan ingin membantu rakyat Iran dari rezim Mullah. Namun, ingin membunuh rakyat Iran, seperti Israel membunuh rakyat Gaza. Asumsi itu bisa menghasilkan sintesa terbalik. Rakyat tetap menginginkan rezim Mullah ada.

AS harus berhati-hati melihat Iran. Perubahan rezim, akan jauh lebih mudah ketika rakyat Iran bersepakat. Namun, mengkonversi militan Islam Syiah ke dalam Islam yang diinginkan AS-Israel, akan menjadi sia-sia.

Yang muncul kemudian,  “Serigala”, yang akan memakan “designer”-nya.

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co