Tenang! Soal Pasokan Energi, Pemerintah Sudah Amankan dari luar Timur Tengah

by
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO: Jawa Pos.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Tenang. Soal energi, tenanglah. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia telah mengamankan pasokan energi dari berbagai sumber di luar Timur Tengah. Pemerintah telah mengambil langkah mitigasi menghadapi dampak perang yang dipicu serangan Israel-Amerika Serikat dan Iran.

Dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026), Menko Airlangga mengungkapkan, sejumlah alternatif pasokan energi berasal dari kerja sama perdagangan dengan AS serta akses pasokan yang dimiliki oleh PT Pertamina dari Venezuela.

“Dari segi energi, karena kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela,” kata Airlangga Hartarto.

Tetapi, pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang sulit diprediksi. Saat ini, pemerintah lebih siap menghadapi ketidakpastian dengan belajar dari lonjakan harga energi akibat konflik Rusia dan Ukraina.

Kondisi tersebut dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga subsidi energi agar tidak memberatkan masyarakat. Namun di sisi lain, kenaikan harga komoditas juga dapat meningkatkan penerimaan negara.

“Yang terkait dengan subsidi kita jaga. Pemerintah sudah siapkan bahwa subsidi dilanjutkan. APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau harga komoditas itu naik,” tuturnya.

Berdasarkan dokumen kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan AS, Indonesia berkomitmen melakukan pembelian komoditas energi dari AS senilai sekitar USD15 miliar. Hal itu mencakup impor liquefied petroleum gas (LPG) sebesar USD3,5 miliar, minyak mentah USD4,5 miliar, serta bensin hasil kilang sebesar USD7 miliar.

Meski demikian, kata Airlangga, masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak penuh dari dinamika konflik Timur Tengah terhadap ekonomi. “Melihat situasinya, masih too early to call.”

Kondisi global yang tidak pasti membuat investor cenderung menahan ekspansi sehingga ketahanan ekonomi menjadi faktor yang semakin penting. Itulah yang harus didorong karena the new world juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan. Dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi. (Osc).