BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sekjen MUI Amirsyah Tambunan, meminta kepada semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan sikap saling menghormati. Hal ini diungkapkannya menanggapi informasi viral dimana seorang perempuan warga negara asing (WNA) mengamuk di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), lantaran terganggu dengan suara tadarusan pada malam pertama Ramadan.
“Semua pihak harus menahan diri (imsak) terutama orang yang sedang puasa. Dampaknya juga kepada lingkungan sebaiknya menahan diri jangan emosi atau mengamuk, karena bisa disampaikan dengan cara arif dan bijaksana,” kata Amirsyah kepada wartawan, Sabtu (21/2/2026).
Dia menekankan pentingnya menjaga suasana Ramadan tetap kondusif. Menurutnya, masyarakat yang menjalankan tadarus juga perlu menjaga kekhusyukan dan ketertiban agar tercipta rasa aman dan penuh persahabatan.
“Suara yang indah, merdu dan syahdu perlu untuk syiar di bulan Ramadan yang penuh rahmat dan ampunan serta berkah dari Allah SWT,” ujarnya.
Amirsyah pun mengingatkan pentingnya sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Dia juga berharap WNA yang datang bertamu untuk memahami adat dan kearifan lokal setempat. “Jadi saling toleransi,” ujarnya.
Diketahui, sebelumnya, dari video yang sudah menjadi viral, seorang bule perempuab berteriak di depan salah satu musala ketika warga sedang mengaji menggunakan pengeras suara.
Kepala Dusun (Kadus) Gili Trawangan, Muhammad Husni, mengatakan perempuan tersebut merasa terganggu oleh suara tadarusan.
“Yang dia permasalahkan itu kegiatan tadarusannya, karena dia terganggu oleh suara speaker itu,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Perempuan itu kemudian masuk ke dalam musala untuk menghentikan aktivitas warga. Ia bahkan merusak mikrofon yang digunakan untuk tadarusan. (Ram)







