Perang Hibrida: Afghanistan  Kawal Iran, AS Gamang?

by
Perang Hibrida. (Ilustrasi/Foto: Ist)

“GEMPURAN HIBRIDA” pernah dialami Afghanistan. Uni Soviet (1979-1989), dan AS (2001-2021),  keduanya terjerembab dalam kecanggihan teknologi “hibrida”-nya sendiri.

Perang hibrida,  kombinasi kompleks, dari metode konvensional (militer) dan non-konvensional (serangan siber, tekanan ekonomi, propaganda, dis-informasi) yang terkoordinasi. Afghanistan adalah musuhnya.

Uni Soviet dan AS, dalam kurun itu, melakukannya, dengan tujuan: merusak, memecah belah dari dalam, dan melemahkan ketahanan nasional Afghanistan.

Menciptakan aktor negara, Uni Soviet merekrut kwartet: Hafizullah Amin, Nur Muhammad Taraki, Babrak Karmal, Najibullah. Sementara AS mengajak Hamid Karzai dan Ashraf Ghani. Sebagai ‘proxi’ di dalam negara.

Gempuran Hibrida, melalui proxi, juga melibatkan militer, gagal bertahan. Uni Soviet dan AS, harus tergopoh meninggalkan Afghanistan, meninggalkan infrastruktur dan suprastruktur yang telah direncanakan.

Menjadi menarik dan aktual, melihat Iran (tetangga Afghanistan), yang saat ini tengah menghadapi hal yang sama dengan Afghanistan.

Serangan “hibrida”: gempuran ke fasilitas nuklir Iran, pembunuhan elite militer, demo yang digerakkan, infiltrasi spionase, siber, menjadikan Iran target linear yang masih menjadi teka-teki. Berakhir seperti Afghanistan, atau berhasil menggusur rezim Mullah?

Memperingati 37 tahun (15 Pebruari kemarin) terusirnya Uni Soviet dari Afghanistan. Rezim Taliban men-declared, akan membantu Iran jika diserang AS (Jerusalem Post, 16 Pebruari 2026).

Rakyat Afghanistan, bila diminta Iran, akan bekerjasama dan menunjukkan simpati.  Tidak otomatis (eksplisit) bergabung dalam perang pembalasan terhadap AS.  Zabihullah Mujahid (Jubir Taliban) mengingatkan, kelompok Sunni Taliban, akan membantu Iran (Syiah).

Statemen Taliban, terasa janggal. Sejak mundur totalnya AS dari Afghanistan (30 Agustus 2021), hampir nihil pernyataan tajam Taliban terhadap AS. Rezim yang dipimpin  Mohammad Hassan Akhund (Mollah) ini lebih ‘low profile’, AS pun juga bernada persuasif.

Afghanistan yang masih dalam tekanan “hibrida” (terkecuali militer), memberi pernyataan agresif menyangkut Iran, ada apa?

Sikap defensif (sejak AS pergi) selama lima tahun (2021-2026) menjadi agresif, menandai satu kekhawatiran Taliban. Ofensifitas secara empiris Trump, menjadi titik berat, Taliban mulai waspada.

AS karena faktor ‘proximity’  geografi Iran-Afghanistan, menjadi alasan dan realitas, Afghanistan bisa saja terlibat perang AS-Iran.

Infiltrasi AS ke Afghanistan lewat perbatasan Iran-Afghanistan, sepanjang 936 km, akan lebih mudah. Semisal AS mampu menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei, lalu menaikkan rezim baru ‘proxi’ AS.

Layaknya broker (perantara), Afghanistan telah memberi sinyal, atau “margin call” kepada AS juga Iran. Taliban akan masuk ke dalam pusaran konflik, bila keamanan dan kenyamanan perbatasannya diganggu.

AS juga akan menghadapi aktor non-negara, di samping Afghanistan sebagai bagian dari perang hibrida. Titik pertemuan tiga negara di perbatasan Iran-Afghanistan-Turkmenustan, juga Pakistan di selatan. Kaya akan kelompok fundamentalis (aktor non-negara).

Di titik pertigaan Iran-Afghanistan- Pakistan pula, AS bakal menghadapi perang yang melelahkan dan panjang. Dengan catatan, Afghanistan membuktikan janjinya membantu Iran berperang melawan AS.

Sikap Afghanistan

Pada dasarnya, Afghanistan menginginkan konflik AS-Iran bisa lebih didinginkan. Jalur diplomatik, dan melanjutkan negosiasi program nuklir Iran, itu lebih bermanfaat.

Zabihullah Mujahid (Jubir Taliban) meyakini, perang AS-Iran, bisa saja dimenangkan Iran bila diteruskan. Asumsi ini nampaknya, berdasarkan geografi Iran yang mirip-mirip dengan Afghanistan, penuh medan sulit dan menjebak.

Seperti halnya Taliban (Afghanistan), Iran memiliki spirit membela diri dan mempertahankan kedaulatan. Garis merah ini, tak akan bisa dikalahkan, karena adanya pelanggaran yang bersipat “batas negativisme”.

Pertemuan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (Januari 2025) dengan Kepala Pemerintahan Taliban, Mohammad Hasan Akhund menyangkut keamanan perbatasan bersama. Itulah sinyal, Afghanistan akan membantu Iran bila perang AS-Iran jadi terwujud.

Kita tak bisa memprediksi masa depan perang AS-Iran. Publik punya keyakinan, hal ini bisa menjadi lebih buruk bagi AS. Tewasnya 2.448 militer AS (dari 3.500 sekutu) selama 20 tahun keberadaan AS di Afghanistan, sebuah catatan empiris.

Gempuran “hibrida”, konfigurasi segala kekuatan, tak akan berarti. Akan kalah! Bila itu berkait dengan kehormatan, membela diri, dan kedaulatan bangsa. Tewas dan hilangnya  58.220 militer AS di Vietnam, juga jadi catatan.

Afganistan, atau lebih dulu lagi Vietnam (1955-1975). Sebuah heroik yang di dalamnya AS terlibat. Perang, sebagai ujian baru AS, akankah seperti Afghanistan-Vietnam?

Sulit menebak arah Donald Trump. Ragu, atau jadi?

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)