BERITABUANA.CO, FLORIDA — Kekhawatiran terhadap keamanan pangan kembali mencuat setelah Departemen Kesehatan Florida merilis laporan resmi yang menemukan kandungan arsenik beracun dalam puluhan produk permen yang beredar luas di pasaran. Temuan ini menyoroti lemahnya kesadaran publik terhadap paparan logam berat dalam makanan olahan—terutama yang dikonsumsi anak-anak.
Dalam laporan yang dirilis pekan lalu, otoritas kesehatan Florida menguji 46 produk permen, mulai dari cokelat hingga permen kenyal, termasuk merek-merek global seperti Hershey Company, Mars, dan Tootsie Roll Industries, sebagaimana dikutip media Eating Well pada Selasa (3/2/2026) waktu setempat.
Hasilnya, 28 produk terdeteksi mengandung arsenik pada tingkat yang dinilai berpotensi membahayakan kesehatan, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Arsenik sendiri merupakan logam berat beracun yang secara alami dapat masuk ke rantai pangan melalui tanah, air, atau bahan baku pertanian, namun menjadi berisiko serius ketika terakumulasi dalam makanan olahan.
Pemerintah Florida memperingatkan bahwa paparan arsenik melebihi ambang aman dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
“Paparan arsenik dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, kulit, ginjal, dan kandung kemih,” tulis Departemen Kesehatan Florida dalam pernyataan resminya.
Daftar Permen yang Terdeteksi Mengandung Arsenik Tinggi
Sejumlah produk populer yang ditemukan memiliki kadar arsenik relatif tinggi antara lain Black Forest Gummy Bears, Laffy Taffy Banana, Nerds Grape, Nerds Strawberry, Nerds Gummy Clusters, SweeTarts Original, SweeTarts Rope, Trolli Sour Brite Crawlers, dan Hershey’s Cookies ’N’ Creme.
Produk lainnya mencakup Jolly Rancher Hard Candy Sour Apple, Jolly Rancher Strawberry, Kit Kat, Snickers, Skittles Original, Sour Patch Kids, Dots, Tootsie Fruit Chew jeruk nipis, hingga Smart Sweets Karamel.
Sebaliknya, sejumlah camilan dinyatakan tidak teridentifikasi memiliki risiko kadar arsenik tinggi, di antaranya Black Forest Organic Gummy Bears, Laffy Taffy Cherry, Hershey’s Milk Chocolate, Reese’s Peanut Butter Cups, Whoppers, M&M’s, Twix, Milky Way, serta seluruh produk Unreal dan Yum Earth yang diuji.
Ancaman Nyata bagi Kesehatan
Badan Registri Zat Beracun dan Penyakit (ATSDR) di bawah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat bahwa konsumsi arsenik dalam kadar tinggi dapat memicu gejala akut maupun kronis, mulai dari iritasi lambung dan usus, kerusakan pembuluh darah, perubahan kulit, hingga penurunan fungsi saraf.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran global mengenai kehadiran logam berat dalam produk makanan sehari-hari, yang sering kali tidak disadari konsumen karena tidak tercantum jelas pada label produk.
Konsumen Bergantung pada Negara
Ahli biologi molekuler sekaligus advokat kesehatan masyarakat, Marion Nestle, PhD, MPH, menilai kasus ini menegaskan pentingnya peran negara dalam pengawasan pangan.
“Konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah makanan mengandung logam berat atau tidak, apalagi menilai seberapa besar risiko kesehatannya,” ujar Nestle.
Ia menambahkan, publik berhak mengetahui total paparan arsenik yang diperoleh dari berbagai sumber makanan, bukan hanya dari permen.
“Saya ingin tahu berapa total arsenik yang dikonsumsi anak-anak dan orang dewasa dari seluruh makanan mereka, dan pada tingkat berapa gejala keracunan mulai muncul,” katanya.
Alarm bagi Pengawasan Pangan Global
Kasus ini menjadi peringatan bahwa arsenik dan logam berat lain bukan hanya isu negara berkembang, tetapi juga menghantui sistem pangan di negara maju. Di tengah tingginya konsumsi makanan olahan, transparansi, regulasi ketat, dan pengujian rutin menjadi kunci untuk melindungi kesehatan publik—terutama kelompok rentan seperti anak-anak. (Red)







