BERITABUANA.CO, JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKS, Saadiah Uluputty, menyoroti masih tingginya harga tiket penerbangan domestik yang dinilai membebani masyarakat serta berpotensi menghambat konektivitas antarwilayah di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan peran strategis transportasi udara sebagai tulang punggung mobilitas nasional, khususnya bagi wilayah kepulauan dan daerah tertinggal.
Saadiah mengatakan, mahalnya tiket pesawat domestik telah lama menjadi keluhan publik. Bahkan, dalam sejumlah kasus, harga tiket penerbangan dalam negeri lebih tinggi dibandingkan rute internasional dengan jarak tempuh yang relatif dekat.
“Kondisi ini tentu tidak ideal. Penerbangan domestik seharusnya menjadi sarana pemersatu bangsa, bukan justru menjadi moda transportasi yang sulit dijangkau oleh masyarakat luas,” kata Saadiah dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, tingginya harga tiket tidak terlepas dari berbagai faktor struktural, mulai dari mahalnya harga avtur, beban pajak, hingga biaya perawatan pesawat yang masih bergantung pada komponen impor. Menurut Saadiah, persoalan tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh oleh pemerintah.
“Biaya avtur yang tinggi, pengenaan PPN pada tiket dan bahan bakar penerbangan domestik, serta mahalnya biaya maintenance karena ketergantungan pada impor, semuanya berkontribusi terhadap harga tiket yang akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Saadiah menegaskan, transportasi udara memiliki peran penting dalam membuka akses ekonomi daerah, mendorong sektor pariwisata, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta mendukung pemerataan pembangunan nasional. Oleh karena itu, kebijakan tarif penerbangan tidak semata-mata dilihat dari sisi bisnis, tetapi juga aspek pelayanan publik dan keadilan sosial.
“Bagi banyak daerah, terutama di Indonesia Timur dan wilayah kepulauan, pesawat bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan utama. Ketika tiket mahal, akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi ikut terhambat,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur dan transportasi, Saadiah mendorong pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan penerbangan, termasuk mengevaluasi tarif batas atas dan batas bawah, serta menilai kembali beban fiskal yang selama ini melekat pada penerbangan domestik.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga tiket pesawat dalam negeri lebih terjangkau dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
“Penerbangan domestik membawa manfaat besar bagi konektivitas nasional, pertumbuhan pariwisata, dan perekonomian daerah. Sudah saatnya akses transportasi udara menjadi lebih adil dan inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Saadiah. (Ery)







