BERITABUANA.CO, KUPANG – Tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berkembang dan bertransformasi fungsinya di wilayah Indonesia Timur, khususnya Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya.
Hal ini disampaikan Nahar Cahyandaru, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, pada kegiatan Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS), di Kupang, Selasa (11/11/2025).
“Kain tenun yang awalnya berkembang sangat pesat di wilayah NTT dan sekitarnya, kemudian jadi komoditas yang penting bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur,” ujar Nahar.
Kemudian, tambah Nahar, berkembang dan bertransformasi fungsinya tidak sekedar menjadi kain, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam bagi tradisi dan adat istiadat di seluruh Provinsi Papua, khususnya Papua Barat dan Papua Barat Daya.
“Banyak upacara adat yang menggunakan kain Timor, kemudian penggunaannya sebagai Benda adat, mahal pada acara pernikahan dan lainnya,” jelas Nahar.
Jadi kain ini, aku Nahar, memang memiliki peran yang sangat besar, di dalam perkembangan kebudayaan di wilayah Indonesia Timur.
“Stand kami menampilkan motif-motif yang masih asli dari NTT. Karena ada kain asli dari NTT sebagai komoditas ke Papua,” tegas Nahar.
Disamping itu, lanjut Nahar, ada juga kain yang dikembangkan sendiri di Papua, seperti di Teminabuan Sorong Selatan, juga Suku Moy yang mendiami Sorong dan sekitarnya.
“Kalau kita lihat sejarah nya, bagaimanapun awalnya memang dari NTT sebagai kain, tetapi Disana mempunyai makna yang begitu dalam untuk adat istiadat mereka,” tandasnya.
Pada kesempatan tersebut, Nahar memberikan apresiasi pelaksanaan event IPACS tersebut, karena melibatkan banyak negara.
“Ini membuktikan, bahwa budaya itu bisa menjadi salah satu sarana untuk diplomasi antar negara,” ujar dia. (iir)







