Menlu Sudan Kecam Sikap Diam Dunia atas Kekejaman RSF di Darfur dan Kordofan

by
Menteri Luar Negeri Sudan Mohieldin Salem. (Foto: Istimewa)

BERITABUANA.CO, SUDAN — Menteri Luar Negeri Sudan Mohieldin Salem mengecam keras sikap diam komunitas internasional terhadap pelanggaran yang terus dilakukan oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di El-Fasher, Darfur Utara, dan Bara, Kordofan Utara. Pernyataan itu disampaikan Salem dalam pertemuannya dengan Direktur Jenderal Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Amy Pope di Port Sudan, Senin (10/11/2025) waktu setempat.

Dalam pertemuan yang dilaporkan oleh kantor berita resmi SUNA, Salem menilai dunia seolah menutup mata terhadap kejahatan RSF yang terus menargetkan warga sipil di wilayah konflik. Ia menegaskan pentingnya langkah bersama komunitas internasional untuk menetapkan RSF sebagai organisasi teroris.

“Sikap diam komunitas internasional terhadap pelanggaran RSF di El-Fasher dan Bara tidak dapat diterima,” tegas Salem. “Sudan memerlukan dukungan global untuk menghentikan kekerasan ini.”

Menlu Sudan juga menegaskan komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan pekerja kemanusiaan dan memfasilitasi operasi bantuan di wilayah terdampak perang. Ia menyoroti kemitraan strategis dengan IOM dalam mendukung pemulangan sukarela para migran Sudan yang terjebak di luar negeri akibat konflik.

Sudan saat ini menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Sejak pecahnya perang antara militer Sudan dan RSF pada April 2023, puluhan ribu orang dilaporkan tewas dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi.

Amy Pope menyampaikan solidaritas IOM terhadap rakyat Sudan atas jatuhnya El-Fasher ke tangan RSF dan meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil. Ia berjanji bahwa IOM akan terus bekerja sama dengan pemerintah Sudan dalam menangani kebutuhan mendesak para pengungsi di Al-Dabba, Negara Bagian Utara, dan Tawila, Darfur Utara.

Selama kunjungannya, Pope dijadwalkan menemui sejumlah pejabat Sudan dan meninjau langsung kondisi pengungsi di Al-Dabba serta Khartoum. Ia juga akan menilai program pemulangan sukarela dan upaya rekonstruksi yang dijalankan pemerintah Sudan.

Sementara itu, Bara di Kordofan Utara juga mengalami gelombang pengungsian besar-besaran sejak RSF merebut wilayah itu pada 25 Oktober. Pihak berwenang menuduh pasukan paramiliter tersebut melakukan pembunuhan dan penyiksaan, tuduhan yang dibantah RSF dengan alasan mereka tidak menargetkan warga sipil.

Menurut data IOM, sekitar 89.000 orang mengungsi dari El-Fasher dan sekitarnya hanya dalam satu bulan terakhir. Laporan organisasi internasional menyebut RSF melakukan pembantaian setelah merebut kota itu pada 26 Oktober, memicu kekhawatiran akan terjadinya pembelahan geografis yang semakin dalam di Sudan.

Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo, atau Hemedti, mengakui adanya “pelanggaran” oleh pasukannya dan menyatakan telah membentuk komite penyelidikan. Saat ini, RSF menguasai seluruh lima negara bagian di wilayah Darfur bagian barat, sementara militer Sudan masih mempertahankan kendali atas 13 negara bagian lainnya di bagian selatan, utara, timur, dan tengah negeri tersebut. (Red)