BERITABUANA.CO, KUALA LUMPUR – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan rencana pemangkasan subsidi dan perluasan basis pajak untuk mengurangi defisit anggaran tahun depan. Kebijakan ini diambil di tengah penurunan pendapatan minyak dan meningkatnya tekanan ekonomi global.
Dalam rancangan anggaran 2026, pemerintah mengusulkan belanja sebesar 419,2 miliar ringgit (Rp1.493 triliun), naik 1,7 persen dibandingkan tahun ini. Namun, jika termasuk pengeluaran dari perusahaan milik negara, totalnya bisa mencapai 470 miliar ringgit.
Anwar, yang juga menjabat Menteri Keuangan, menargetkan defisit anggaran turun menjadi 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB), dari 3,8 persen pada 2025.
“Kami memilih jalan reformasi dan disiplin fiskal yang ketat, karena hanya itu jalan yang bisa menjamin keselamatan ekonomi negara dalam jangka panjang,” ujar Anwar saat memaparkan anggaran di parlemen, Jumat (10/10/2025).
Fokus ke Industri Strategis
Anwar mengatakan pemerintah akan memprioritaskan pertumbuhan di sektor semikonduktor, energi, dan digital. Pemerintah menyiapkan investasi 550 juta ringgit untuk perusahaan cip lokal melalui Khazanah Nasional Bhd, dana kekayaan negara Malaysia.
Khazanah juga akan bermitra dengan perusahaan global dalam pengolahan logam tanah jarang (rare earth). Selain itu, pemerintah mengalokasikan 700 juta ringgit untuk sektor pariwisata dengan target 47 juta wisatawan dan pendapatan 329 miliar ringgit tahun depan.
Subsidi Dipangkas, Pajak Diperluas
Pemerintah akan memangkas subsidi dan bantuan sosial sebesar 14 persen menjadi 49 miliar ringgit, seiring upaya rasionalisasi dan harga komoditas yang lebih rendah. Kebijakan pembatasan subsidi bahan bakar untuk warga asing diharapkan menghemat 15,5 miliar ringgit per tahun.
Sementara itu, penerimaan negara akan diperkuat lewat perluasan pajak penjualan dan jasa, serta penerapan digitalisasi pajak melalui sistem faktur elektronik.
Malaysia juga berencana menerapkan pajak karbon pada industri besi, baja, dan energi mulai tahun depan, meski detailnya belum diumumkan.
Ketergantungan pada Minyak Berkurang
Kontribusi sektor minyak terhadap pendapatan nasional diperkirakan turun menjadi 12,5 persen, dari 17 persen tahun lalu. Pendapatan dividen dari perusahaan minyak nasional Petronas juga diproyeksikan merosot 38 persen menjadi 20 miliar ringgit.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan berbasis komoditas yang fluktuatif.
Pertumbuhan Moderat
Pertumbuhan ekonomi Malaysia diperkirakan melambat menjadi 4–4,5 persen pada 2026, dari proyeksi 4–4,8 persen tahun ini. Meski begitu, Malaysia masih mempertahankan peringkat kredit tertinggi di Asia Tenggara, dengan ringgit yang menguat sekitar 6 persen sepanjang tahun ini.
Anwar menegaskan reformasi fiskal menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan ekonomi jangka panjang. “Malaysia tidak bisa terus bergantung pada minyak dan komoditas. Reformasi ini adalah fondasi bagi masa depan yang lebih stabil,” kata Anwar. (Red)






