‘Majapahit’ Tekuk Thailand?

by
Sabpri Piliang. (Foto: Dok)

BANJIR ‘darah’ di tanah Tumapel (Jawa Timur) pasti tarulang lagi”, besok malam. Ambisi perebutan puncak takhta singasana Tumapel, lalu Singosari tak terelakan. Saling ‘tikam’ pun akan terjadi.

Ken Arok merebut Tumapel dari sang ‘akuwu’ Tunggul Ametung. Anusapati (anak Tunggul Ametung) membalas, menghabisi Ken Arok. Tohjaya (anak Ken Arok) tak terima, dan kembali membalas menghabisi Anusapati.

Uniknya, baik Tunggul Ametung, Ken Arok, dan Anusapati, ditikam dengan keris yang sama, buatan tokoh “pararathon” (Abdi Dalem)-nya Tumapel (Malang saat ini), Mpu Gandring. Bahkan, Mpu Gandring pun terbunuh oleh keris buatannya sendiri. Ken Arok menikam Mpu Gandring, karena terlambat menyelesaikan keris pesanannya.

“Banjir darah”, seperti yang saya katakan di atas, kembali akan terjadi besok malam. Tak jauh dari Tumapel (Malang sekarang). Berjarak sekitar 95 kilometer menuju Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), publik akan menyaksikan satu ‘ambisi’. Ambisi yang dipenuhi “intrik” untuk merebut singasana puncak Piala AFF-U19, antara Kesebelasan Indonesia versus Thailand.

Tak ada kaitan langsung, atau tak langsung, antara kisah Kerajaan Singosari (1222-1292), dengan pertandingan Timnas Indonesia versus Thailand di Surabaya (Jawa Timur), besok malam (29/7). Ini cuma “bumbu”, penyemangat, dan inspiratif.

Hanya kebesaran dan semangat (spirit) Singosari lewat ‘trah’ Raja terakhirnya (ke-4), Kertanegara, bisa dipakai oleh Jens Raven-Arkhan Kaka-Iqbal Gwijangge dkk untuk mengalahkan Thailand, dan merebut gelar ke-2 Piala AFF U-19, tahun 2024.

Menantu Kertanegara (Raja terakhir Singosari), Raden Wijaya adalah pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit (1293-1527). Raden Wijaya (1293-1309), yang dilanjutkan Jayanegara (1309-1328), lalu Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350), dan mencapai puncak kejayaan di era Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Mereka adalah bagian dari kebesaran “Archipelago” di masa lalu.

Semasa Hayam Wuruk-lah, hampir seluruh ASEAN (South East Asia/Asia Tenggara) berada di tangan “Archipelago” (baca: Indonesia). Daerah kekuasaan Majapahit ketika itu, mencakup: Thailand (bagian Selatan), Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darusalam, Timor Leste, dan Indonesia.

Dari dekat ‘sumbu’ kerajaan Singasari (Malang) dan Majapahit (Mojokerto), atau secara inklusif kita sebut Jawa Timur (Surabaya). Besok malam, ‘Coach’ Indra Sjafri akan menggunakan semangat “penguasa” dan pemimpin ASEAN di abad ke 11-16, ke dalam semangat memimpin (juara Piala AFF) 2024.

Diperkuat materi pemain keturunan Belanda-Indonesia, dan Indonesia-Brasil, seperti Jens Raven dan Welber Jardim tentu akan lebih mudah bagi Indra Sjafri meramu Tim yang kuat.

Ditambah dengan pemain-pemain lokal yang tak kalah berkualitas: Figo Dennis, Kafiatur Rizky, Alfahrezzy Buffon, Arkhan Kaka, Kadek Ariel, Ikram Algiffari, dan pemain berpengalaman di timnas senior, Dony Tri Pamungkas, mengalahkan Kittipong Bunmak, Pitipong Wongbut, Phongsakon Sangkasopha dkk, bukanlah hal yang sulit.

Lupakan bahwa Thailand pernah lima kali juara Piala AFF U-19. Lupakan, Thailand mampu mengalahkan Tim kuat Australia 1-0 di semifinal U-19. Lupakan, Australia menyamai rekor Thailand, juara AFF U-19 sebanyak lima kali. Lupakan, Timnas U-19 baru satu kali juara (2013).

Semangat Sea Games 2023, Timnas Indonesia di tangan ‘coach’ Indra Sjafri mampu mengalahkan Thailand 5-2 di final. Bisa menjadi stimulus. Jadikan pula Piala Asia U-23 (2024), di mana Indonesia masuk empat besar dan lolos otomatis ke Piala Asia 2027, sebagai ‘motivator’ dominan.

Dan, jangan lupa. Indonesia pernah memimpin ASEAN, lewat kerajaan Singasari dan Majapahit di abad 11-16.
Timnas U-19, Insha Allah juara AFF 2024. Modal itu sudah ada. Tinggal berdoa, dan saksikan jam 19.30 besok malam.

*Sabpri Piliang* – (Wartawan Senior/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co