BERITABUANA.CO, KUPANG – Banyaknya produksi kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua, dengan sendirinya berpengaruh pada ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya Pertalite dan Pertamax, bukan hanya di Indonesia tapi juga negara-negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia.
Kondisi tersebut, bukan hanya menjadi persoalan yang serius bagi para pemimpin negara, tapi juga dunia industri khususnya. Untuk itu, sejak beberapa tahun lalu, muncul inovasi baru dengan menciptakan motor atau mobil dengan tenaga listrik, yang menjadi solusi dalam mengurangi penggunaan Bahan Bakar Minyak.
Selain itu, dengan motor atau mobil listrik tersebut akan bebas dari polusi udara dan polusi suara. Suara yang dikeluarkan motor listrik cukup halus, sehingga akan membuat percaya diri bagi para pengendaranya.
Saat sedang berkendara di gang atau jalan sempit, tidak perlu untuk mematikan mesin. Sehingga tidak perlu takut untuk mengganggu kenyamanan dan ketenangan orang lain.
Ternyata SMK Negeri 2 Kupang yang sudah Terakreditasi A ini, secara diam-diam telah berhasil merakit motor yang berbahan bakar BBM dikonversi menjadi motor listrik, yang berhasil menjadi perhatian Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) RI dan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.
“Kami berfikir, dengan semakin menipisnya ketersediaan Bahan Bakar Minyak kedepan, maka harus dicari solusi yang memang mendukung keberlangsungkan transportasi, salah satunya dengan konversi ini,” tandas Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Kupang, Welem Kana.
Untuk mendukung rencana tersebut, maka mengirimkan guru untuk mengikuti magang di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, agar bisa mendapatkan ilmu terkait apa yang sedang dibutuhkan di dunia industri, yang nantinya akan diteruskan untuk dilatihkan kepada para siswa. Dan para siswa akan belajar sesuai dengan kondisi di industri, atau dikenal dengan mendekatkan industri di sekolah lewat magang guru, yang nantinya akan mempersiapkan dalam bentuk Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Dari magang itu, akan berimbas dalam program pembelajaran sekolah, dimana terfokus pada Teaching Factory atau pembelajaran berbasis proyek, yang proyek itu bermakna bagi sekolah.
Untuk memperlancar dalam praktek konversi motor listrik tersebut, SMK Negeri 2 Kupang juga mendatangkan langsung tim dari Kementrian Sumber Daya Manusia, yang ahli dalam bidang tersebut. Yang saat ini sudah membuahkan hasil, yakni dengan mengkonversi empat unit motor BBM ke motor listrik.
“Untuk sementara, kami baru konversi pada motor dinas atau berplat merah, belum bisa motor plat hitam, sebab regulasinya juga cukup rumit, karena mesti merubah Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB),” tandas Welem Kana.
Dan saat ini SMK Negeri 2 Kupang telah memiliki bengkel dengan peralatan yang memadai untuk mengkonversi motor listrik, dan bekerjasama dengan beberapa bengkel yang memiliki sertifikasi dari Kementrian terkait.
Dengan Program Unggulan yang dimliki oleh SMK Negeri 2 Kupang tersebut, dinilai sudah mampu untuk turut berpartisipasi dalam membangkitkan pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya dalam bidang industrialisasi.
Keberhasilan Konversi motor listrik ini, sebagai wujud untuk menunjukan bahwa strategi belajar yang sudah dikembangkan , sebagai upaya untuk mendukung industrialisasi dan mewujudkan visi misi Nusa Tenggara Timur.
Disamping itu, sebagai sebuah langkah berani dalam bersaing di dunia industri, bahwa dari sekolah bisa menghasilkan tehnologi yang menjadi masa depan dunia, dan menjadi pegangan hidup para siswa ketika sudah lulus dan bisa mandiri.
Prestasi yang ditorehkan SMK Negeri 2 Kupang dalam mengkonversi motor listrik, juga mendapat tanggapan baik dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Linus Lusi bahwa apa yang dihasilkan oleh siswa SMK Negeri 2 Kupang tersebut sangat membanggakan, dan membawa nama baik , bukan hanya untuk sekolahnya saja, tapi juga Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Para pengajar dan peserta didik, bukan hanya berfikir untuk melakukan inovasi yang dibutuhkan saat ini, tapi jauh kedepan. Dimana Bahan Bakar Minyak sudah sangat menipis, sehingga dengan mobil listrik transportasi tidak menghadapi masalah kedepannya,” kata Linus Lusi.
SMK Negeri 2 Kupang mungkin hanya sebagian kecil keberhasilan pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, dari hasil survey salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat, yang konsens terhadap pendidikan, dijelaskan bahwa mutu pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi tema yang hangat untuk dibicarakan. Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi dan kualitas pendidikan yang rendah.
Bagaimana tidak? berdasarkan data Badan Pusat Statistik tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2010 sampai 2016, Provinsi Nusa Tenggara Timur selalu menempati rangking diatas 30 besar dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia. Posisi ini boleh dibilang posisi terakhir di atas Provinsi Papua dan Papua Barat.
Dengan pendidikan yang mapan tentu seseorang akan dapat meningkatkan taraf hidup menuju kesejahteraan hidupnya di masa yang akan datang. Namun, meningkatkan kualitas pendidikan atau Sumber Daya Manusia di suatu daerah tidak semudah kita membalikan telapak tangan. Butuh kerja keras dari semua pihak atau stakeholder yang ada.
Dari beberapa fakta ini tak bisa dipungkiri bahwa rendahnya kualitas pendidikan di NTT pasti disebabkan oleh berbagai faktor. Penilaian mutu pendidikan itu dilihat dari dua aspek. Keduanya yaitu profesionalisme dan pedagogic, yang seyogyanya menjadi bagian dari empat aspek uji kompetensi guru, selain perilaku dan sosial. Penataan aspek pendidikan di daerah itu tidak hanya terkait jumlah sumber daya manusia dan sarana prasarana.
Selain itu tingkat partisipasi pendidikan masih sangat rendah, Hal itu terlihat dari masih tingginya angka berhenti sekolah. Artinya siswa setara SMP yang tiga tahun lalu menamatkan jenjang SMP tidak melanjut ke jenjang SMA atau sederajat.
Beberapa kendala tersebut bisa segera diselesaikan, asalkan segenap komponen pendukung dunia pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur bisa lebih peka terhadap masalah ini, dan lebih meningkatkan kerja sama yang baik demi mewujudkan Sumber Daya Manusia generasi penerus Nusa Tenggara Timur yang berkualitas dan berdaya saing.
Desain pendidikan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di NTT harus berkarakter serta memiliki keahlian khusus yang kualitasnya dapat bersaing di tingkat nasional. Dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT harus menyiapkan Desain Roadmapnya, dimana pendidikan dilaksanakan selama 4 tahun dengan mempertimbangkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pendidik, sebagai aset terbesar yang memiliki kualitas intelektual yang bagus.
Setiap sekolah menengah kejuruan juga harus miliki jurusan khusus yang menjadi kebanggaan daerah dan nasional, output lulusanya berkarakter kebangsaan, memiliki daya tahan dalam bekerja di bidang keahliannya dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Sekolah SMK harus mengembangkan jurusan yang jadi jurusan unggulan dan ciri khas pada sekolah tersebut. Jangan banyak jurusan, tapi tidak ada yang berhasil. Harus berani tampil dengan satu jurusan tetapi jurusan itu mampu menjadikan siswanya menjadi manusia hebat. (iir)







