BERITABUANA.CO, JAKARTA – Riset kecil dilakukan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah dengan polling Twitter di akun resminya terkait figur calon presiden (capres) yang paling banyak dikhianati. Terkait hal itu Fahri Hamzah menyebutkan, Prabowo Subianto merupakan figur yang paling sering dikhianati.
Fakhri melakuksn Polling Twitter tersebut di akun resminya @Fahrihamzah sejak Minggu (30/4/2023) kemarin, pukul 21.32 WIB. Terhadap Polling Twitter tersebut ia juga menyertakan caption ‘Dari Figur di bawah ini, mana yg paling banyak dikhianati?’.
Dalam kesempatan ini Fakhri memperlihatkan tiga figur dengan inisial yakni PS, GP, dan AB. Terlihaf figur PS mendapatkan suara terbanyak 69,8 persen, diikuti figur AB dengan 23,8 persen, dan figur GP dengan 6,4 persen.
Sehubungan hal itu Fahri menjelaskan, terkait riset kecil dengan metode polling Twitter yang dilakukannya tersebut. Ia mengungkapkan, riset soal figur-figur yang terkait pengkhianatan.
“Riset kecil saya tentang apa yang dipikirkan netizen soal figur-figur itu terkait pengkhianatan. Karena, dalam politik itu istilah pengkhianatan lumrah,” kata Fahri Hamzah dihubungi wartawan, Senin (1/5/2023).
Ia juga menjelaskan, terkait hasil survei tersebut menyinggung nama Prabowo Subianto. Fakhri Hamzah memang memiliki dugaan kuat bahwa pada akhirnya semua salah paham kepada Prabowo akan mulai hilang dalam pemilu ini.
Maksud salah paham tersebut, menurutnya, berdasarkan kisah hidup, Prabowo lah yang paling banyak mengalami pengkhianatan. Fakhri menyebutkan, kalau kita membaca kisah hidup Prabowo, karena dirinya mengenal beliau sejak kuliah dulu memang baik di zaman Orde Baru maupun di zaman transisi sampai sekarang, hidupnya itu penuh dengan pergolakan.
Hal itu, menurut Fakhri Hamzah, dari berupa pengkhianatan, kesalahpahaman, black campaign, dan berbagai tindakan yang tidak adil kepada beliau. Namun demikian, ia meyakini saat ini orang-orang mulai paham bahwa Prabowo bukanlah seperti yang disalahpahami.
“Sekarang, mungkin orang mulai paham bahwa Pak Prabowo tidak seperti yang telah disalahpahami selama ini,” pungkas Fahri Hamzah. (*)







