BERITABUANA.CO, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta masyarakat tak mudah tersulut dalam menyikapi berbagai persoalan intoleransi yang muncul di berbagai media sosial. Sahroni mengingatkan terpolarisasinya masyarakat akibat media sosial tidak hanya menimbulkan ketegangan di ranah dunia maya tapi juga menurunkan kadar integrasi bangsa.
“Polarisasi dan permusuhan mengancam integrasi dan persatuan bangsa, bahkan dapat menyulut berbagai gangguan ketertiban seperti gangguan keamanan nasional. Sedangkan di generasi anak muda, media sosial turut mempengaruhi nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat,” kata Sahroni di Jakarta, Kamis (3/3/2022).
Sebelumnya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar di Balai Iskandar Muda, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, 15 Februari 2022 lalu, Sahroni menyampaikan perubahan sosial disertai perkembangan teknologi memang dapat memberikan manfaat positif pada kemudahan memperoleh dan menyampaikan informasi, memperoleh keuntungan secara sosial dan ekonomi. Namun sebaliknya hal itu juga memunculkan sisi negatif, dimana perubahan sosial memunculkan kelompok-kelompok sosial yang cenderung menyimpang dari norma-norma yang ada dengan mengatasnamakan agama, suku, dan lainnya.
Persoalan anti toleransi (intoleran) disebut Sahroni banyak dipengaruhi faktor, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Masyarakat saat ini dinilainya mudah sekali tersulut amarah dan jauh dari nilai-nilai budi pekerti yang luhur.
“Dengan kemajuan teknologi dan informasi, peranan media sosial secara tidak langsung sangat mempengaruhi dan membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu hal. Namun disayangkan informasi yang beredar di masyarakat tidak jarang bermuatan hoaks, fitnah hingga ujaran kebencian,” kata Sahroni di hadapan sekitar 150 warga yang hadir ke lokasi.
“Media sosial menjadi tempat yang memicu masyarakat berselisih paham satu sama lain. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, dan sebagainyamenjadi ajang adu argumen. Seharusnya media sosial memiliki peran untuk mendorong masyarakat menjadi lebih baik, dan memberi inspirasi pada lebih banyak orang,” timpalnya.
Dalam kesempatan yang sama Sahroni mendorong masyarakat membangun kembali toleransi dengan gotong royong, sesuai terkandung dalam sila ke-5 Pancasila. Dengan menumbuhkan sikap gotong royong, masyarakat diyakini Sahroni akan tumbuh dan berkembang dengan rasa persatuan untuk memperkuat kerukunan bangsa Indonesia. Terlebih adanya pandemi Covid-19 telah memberikan dampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat.
“Sejatinya nilai-nilai gotong royong masih hidup di masyarakat namun tergerus dengan masuknya globalisasi yang berpengaruh pada meningkatnya individualisme. Presiden Soekarno mengatakan kata gotong royong merupakan perkataan asli Indonesia yang menggambarkan jiwa Indonesia yang semurni-murninya.
Pancasila mengandung nilai-nilai dan keyakinan yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai ideologi bangsa, nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan dalam diri setiap individu warga negara sejak usia dini. Salah satu nilai penting yang tersirat dalam ideologi Pancasila adalah nilai gotong royong.
Lebih jauh Sahroni menekankan, dalam membangun toleransi sebagai nilai kebijakan pada otoritas negara membutuhkan dua modal, yaitu interaksi sosial melalui percakapan dan pergaulan yang intensif. Kedua, membangun kepercayaan diantara berbagai kelompok dan aliran.
Kasiman, warga RW 005 meminta permasalahan sosial yang memunculkan intoleransi akibat media sosial sangat serius dan perlu segera diselesaikan karena dapat mengancam integritas bangsa. Menurutnya, sering kali agama dan budaya dibenturkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menimbulkan kegaduhan yang akhirnya memicu pertikaian satu sama lainnya. Dirinya sependapat sikap toleransi perlu dikedepankan sebagai solusi atas berbagai masalah sosial.







