Gotong Royong untuk Indonesia Bebas Covid-19, Sederhana Namun Berdayaguna

by
Ilsutrasi
Andoes Simbolon.

Oleh: Andoes Simbolon (Wartawan beritabuana.co)

PERKEMBANGAN pandemi coronavirus disease 2019 atau Covid-19 di Tanah Air, yang menunjukan trend menurun pekan–pekan terakhir ini patut disyukuri. Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marives) sekaligus Koordinator Penanganan Covid-19 Jawa-Bali, Luhut Panjaitan pada Selasa (18/10/2021) lalu melaporkan, situasi Covid-19 di Indonesia terus mengalami perkembangan yang baik. Luhut menyebut parameternya adalah tingkat kematian di sejumlah titik di Jawa-Bali yang nihil. Kasus konfirmasi positif saat ini sudah turun hingga 99 persen dibanding ‘puncaknya’ pada minggu kedua Juli 2021.

Tidak berlebihan jika disebut segala usaha yang dikerjakan pemerintah tidak sia-sia. Sejak virus ini melanda Indonesia di Maret 2020, Presiden Jokowi dan pemerintahan yang dipimpinnya secara serius dan konsisten berupaya mengatasi virus corona agar penyebarannya tidak meluas.

Betapa tidak, fakta menunjukkan Covid-19 bisa dengan cepat menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Virus ini menular melalui percikan dahak atau dropped dari saluran pernapasan. Ini adalah virus yang bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistim pernapasan, infeksi paru-paru yang berat hingga bisa menyebabkan kematian. Sebagai penyakit menular tentu saja virus corona membahayakan kesehatan bahkan mengancam keselamatan jiwa tanpa pandang bulu. Sudah begitu banyak korbannya, yang dirawat di Rumah Sakit dan korban meninggal dunia karena virus ini. Itu sebabnya, pemerintah bertindak cepat dengan membuat berbagai langkah strategis dan kebijakan termasuk menerbitkan regulasi yang mendukungnya.

Lebih penting lagi, pemerintah sejak awal mengajak semua elemen masyarakat untuk bergotong royong mengatasi virus corona serta akibat yang ditimbulkannya. Seperti halnya dalam bidang kesehatan, kita juga tahu bagaimana keadaan perekonomian nasional yang ikut terdampak akibat Covid-19 tersebut. Bisa disebut, Indonesia nyaris terjerembab dalam krisis atau resesi ekonomi karena hampir semua sektor ekonomi mengalami stagnan. Sejak Covid-19 melanda Indonesia dunia usaha morat marit.

Keputusan pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB hingga ke Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM, lalu PPKM Darurat yang dilanjutkan ke PPKM Level 1 sampai 4, harus dibayar mahal. Akibat pemberlakuan PSBB dan PPKM, terjadilah perlambatan aktivitas perekonomian. PSBB dan PPKM diharapkan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan menekan mobilitas masyarakat.

Namun kebijakan ini berdampak pada dunia usaha. Hampir semua sektor perekonomian terseok-seok atau kelimpungan, langsung berimbas pada kehidupan masyarakat, masyarakat kehilangan mata pencaharian atau pekerjaan. Misalnya saja para karyawan atau pekerja di pusat-pusat perbelanjaan terpaksa di rumahkan atau terjadi pemutusan. Pusat perbelanjaan ini tak bisa beroperasi atau ditutup hingga melihat perkembangan penyebaran pandemi Covid-19. Termasuk para pedagang di pasar tradisional ikut kena imbasnya. Mereka tidak bisa berdagang dan bersabar mengikuti perkembangan pandemi.

Lebih parahnya lagi, industri pariwisata mengalami kerugian besar. Hampir semua hotel dan penginapan di daerah tujuan wisata tak bisa bertahan dan harus memberhentikan karyawannya. Bahkan, sejumlah hotel tutup secara permanen. Ironis memang, karena seperti kita ketahui, mata rantai bisnis di sektor pariwisata ini begitu panjang, jumlah pelaku usaha banyak sekali, misalnya transportasi, bisnis makanan dan minuman, atau biro perjalanan. Semuanya terpukul dan terpuruk karena adanya pengetatan aktivitas perjalanan, baik di dalam kota maupun ke luar kota. Wisatawan (turis) mancanegara pun dengan sendirinya dilarang masuk ke Indonesia guna mencegah penyebaran Covid-19. Begitu juga di dunia UKMK serta sektor informal lainnya, terpaksa menutup usahanya karena kehilangan pasar sejak penerapan PSBB dan PPKM itu sendiri.

Selama penerapan PSBB dan PPKM, masyarakat diminta supaya menahan diri, tak keluar dari rumah kecuali urusan yang sangat penting. Bahkan, untuk kegiatan beribadah pun untuk sementara di tutup, begitu juga dunia pendidikan. Aktivitas belajar mengajar di sekolah dan perguruan tinggi untuk sementara ditiadakan, cukup belajar dari rumah. Para pekerja di kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan swasta pun dibatasi bekerja, sebagian besar melakukan tugasnya secara Work from Home (WFH).

Hanya dengan cara demikian lah pemerintah yakin sebagai usaha paling efektif memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tidak boleh ada kegiatan beramai-ramai atau berkerumun dalam tiap kesempatan apa pun. Bahkan di dalam sebuah keluarga pun di wajibkan melakukan jaga jarak. Sebab dalam “kerumunan keluarga pun”, berpotensi penularan virus tersebut.

Dengan kata lain, kegiatan ekonomi, apakah itu produksi, distribusi dan konsumsi benar-benar terdampak Covid-19, suatu bencana non alam yang tak pernah terbayangkan bakal melanda Indonesia. Namun, dengan penuh optimisme, pemerintah berusaha menanggulangi secara konsisten, terus melakukan pemulihan perekonomian sekaligus berusaha melindungi masyarakat dari hantaman Covid-19 termasuk dengan melancarkan vaksinasi Covid-19 untuk semua lapisan masyarakat.

Pandemi Covid-19 ini memang menjadi cobaan sekaligus ujian bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi pemerintah dituntut melaksanakan tanggung jawabnya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, sementara disisi lain, masyarakat pun ikut dituntut berpartisipasi ambil bagian membantu pemerintah menangani Covid-19. Melihat trend penurunan pandemic Covid-19 di Indonesia, tumbuh optimisme bahwa kita dapat mengalahkan penyakit ini dengan menekan sekecil-kecilnya laju penyebaran Covid-19 agar korban tidak lagi bertambah.

Salah satu yang patut dicatat selama penanganan Covid-19, adalah tumbuhnya sikap kebersamaan di dalam masyarakat. Sikap terpuji yang diperlihatkan oleh masyarakat kita; kebersamaan merupakan nafas dari gotong royong, yang menjadi salah satu ciri khas dari bangsa Indonesia. Kita patut bangga, di tengah zaman yang semakin maju, masyarakat masih mempertahankan nilai gotong royong dalam berbagai berbagai aspek kehidupan termasuk di masa pandemi Covid-19 ini.

Ada sekelompok masyarakat menyalurkan bantuan berupa makanan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Dan kejadian seperti itu tak hanya di satu kota tetapi ada di hampir semua kota di Indonesia, ada komunitas di masyarakat tergerak secara sukarela membantu meringankan beban hidup masyarakat lain yang benar-benar membutuhkan pertolongan.

Kelompok yang lain menyalurkan bantuannya obat-obatan selain makanan dan minuman, bagi mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman) karena terinfeksi virus maupun yang baru sebatas merasakan gejalanya. Tak hanya itu, ada juga kelompok relawan yang membagi-bagikan Alat Pelindung Diri (APD) Covid-19, seperti masker atau hand sanitizer kepada masyarakat yang membutuhkan. Tentu saja langkah ini ikut membantu pemerintah mengatasi penyebaran Covid-19. Sejak awal pemerintah memang mengajak masyarakat untuk bergotong royong mengatasi atau mengendalikan virus corona. Pemerintah menyadari, dengan bergotong royong maka Covid-19 bisa diatasi.

Pada saat Rumah Sakit kekurangan oksigen medis untuk pasien Covid-19, muncul gerakan relawan membagi oksigen secara gratis, baik oleh perorangan maupun dari korporasi. Ini adalah cermin adanya semangat bergotong royong di tengah masyarakat selama pandemi Covid-19 ini.

Semangat bergotong royong ini memang harus terus dipelihara dan di wujudkan, lebih-lebih pandemi Covid-19 belum reda, bahkan ada kemungkinan munculnya varian baru virus Corona serta kekhawatiran munculnya gelombang ketiga Covid-19.

Dengan bergotong royong, virus corona dan varian barunya, termasuk kemungkinan munculnya gelombang ketiga, akan lebih mudah dihadapi dan dikalahkan. Sikap gotong royong ini harus dimiliki oleh semua elemen dan lapisan masyarakat kita, sehingga dalam menghadapi Covid-19 akan lebih mudah dan juga cepat diselesaikan, lancar dan maju. Perlu dicatat juga, bahwa gotong royong merupakan pengamalan Pancasila, yang menjadi dasar negara kita.

Tidak hanya pemerintah, para Tokoh Agama, pemuka masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, lembaga swadaya masyarakat, pengusaha harus bersinergi dan berkolaborasi mengatasi virus corona agar semakin cepat berhenti, dan keadaan pun pulih kembali.

Melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah adalah bentuk gotong royong. Ini adalah keikutsertaan yang paling sederhana dalam bergotongroyong, namun berdayaguna. Protokol kesehatan ini, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan diyakini sebagai kunci penanganan Covid-19. Begitu juga dengan kesungguhan menjaga jarak, menghindari kerumunan adalah usaha lain dalam penanganan Covid-19 yang sudah kita ketahui sebagai penyakit menular.

Pemerintah terus menggencarkan program vaksinasi untuk masyarakat. Sebab, vaksin Covid-19 memiliki manfaat bagi kita, yaitu memperkuat imunitas tubuh untuk melawan virus corona, sehingga dengan menerima vaksin, resiko terinfeksi virus ini akan jauh lebih kecil. Sementara, masyarakat siap bergotongroyong, dengan melaksanakan protokol kesehatan tersebut. Meski terlihat sederhana, taat protokol kesehatan pasti berdayaguna. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *