Laju Covid-19 Makin Kencang, Darurat Tak Terhindarkan

by
Covid-19.
Teddy Yamin.

Oleh: Teddy Mihelde Yamin (Direktur Eksekutif Cikini Studi)

DARURAT alias SOS itu akhirnya tak terhindarkan. Kondisi yang ditakutkan selama ini datang juga. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan di DKI Jakarta tak mampu lagi menampung pasien Covid-19 yang jumlahnya terus meningkat. Indonesia berdoa. Semoga saja tak kolaps ketika pandemi ini berada di puncaknya.

Dulu ketika corona mulai meradang tepatnya pada bulan April 2020, diberlakukan kebijakan pengetatan Pembetasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Berjalan waktu berganti nama jadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dengan bertahap mengurangi skala keketatannya demi menggairahkan ekonomi.

Tapi kini setelah corona mengamuk kencang lagi muncul PPKM Darurat. Walau dampaknya nggak seperti saat PSBB awal diberlakukan, jalan- jalan Ibu Kota lengang dan sepi. Sekarang tampak beda, rakyat tetap ramai berkegiatan. Bahkan harus dipaksa menginjak rem, mengurangi aktivitas seperti biasa, padahal maut mengintainya setiap saat. Lebih menakutkan dari awal Covid-19 datang.

Masyarakat sudah lelah dan nggak takut lagi dengan virus ini? Lihat jalan-jalan di sekitar Jakarta tetap macet dan ngantri di banyak titik kegiatan esensial yang diperkenankan, dengan double maskernya.
Tapi, rasanya PPKM Darurat nggak lama berganti nama lagi nih. Habis plesetan banyak, pasti bikin gerah……hehehe

Bersyukur yang utama. Jika kita masih bisa bernapas tanpa butuh tabung oksigen di masa pandemi yang tak terkendali ini, suatu kemewahan yang tak ternilai. Kelegaan bernapas menjadi sangat berharga. Di tengah berbagai pemberitaan kelangkaan oksigen dan melubernya kamar perawatan dan ICU di berbagai Rumah Sakit dan di jaringan pelayanan kesehatan lainnya. Wow dahsyatnya virus ini.

Setiap hari ada saja kabar kematian yang didengar akibat Covid-19 ini. Orang terdekat kita satu persatu telah pergi dan tak akan kembali. Tak terkecuali siapapun dia bisa terpapar, menjadi korban dan berujung kematian. Termasuk yang sudah lengkap divaksin, atau yang belum. Apapun alasannya tetap mengerikan.

Perasaan was was semakin menjadi-jadi, apalagi bagi individu- individu yang punya penyakit komorbiditas dan komorbid penyakit penyerta Covid-19 ini. Ampun!

Walau begitu sebagai rakyat harus tetap semangat dan berdoa. Karena berpangkat tidak, berkuasa apalagi, bagaimana mau memilih vaksin yang kita pikir cocok menurut referensi yang kita baca. Namanya juga barang gratis. Begitu juga yang sudah divaksin bukan jaminan terbebas. Baiklah kita terus bersabar dan terus waspada, sekaligus terus memelihara sikap tak percaya pada siapapun? Hah?

Sahabatku, tetap jaga kesehatan dan jaga protokol Covid-19 ya… Jaga jarak, gunakan masker dan cuci tanganmu sering- sering. Semoga kita tetap sehat dan bisa berjumpa lagi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *