Lebaran H+3, Situs Goa Langkop di Lereng Gunung Salak Bogor Ramai Dikunjungi Peziarah

by
Jupel Situs Goa Langkop Bogor, Abah Jaja di belakang Batu yang dipercaya patilasan tempat Prabu Siliwangi bertapa. (Foto:YS)

GUNUNG SALAK salah satu gunung di Jawa Barat yang dipercaya tempat bersemayamnya para kabuyutan (leluhur) suku Sunda. Di Lereng gunung Salak tepatnya di wilayah Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor terdapat sejumlah tempat yang dikeramatkan dan mempunyai mitos tersendiri. Warga setempat menyebutnya patilasan leluhur ataupun situs.

Obyek tersebut di antaranya, Situs Batu Aseupan dan Batu Kursi yang berlokasi di Kampung Pasir Tengah-Pondokbitung, Situs Awas Paninggal di wilayah Kampung Cijulang, dan situs Komplek Goa Langkop dikawasan Kampung Tapos.

Dari ke tiga situs tersebut, yang telah disematkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah daerah Kabupaten Bogor dan dilindungi UU RI Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cagar Budaya, adalah Situs Goa Langkop. Tak heran obyek ini menjadi daya tarik pengunjung.

Dalam suasana Lebaran 2021 H+3 pun tak sedikit warga dari luar daerah banyak yang menyempatkan kunjungan ke situs Goa Langkop setelah ziarah ke orangtua dan keluarganya. Mereka datang ke situs tersebut, melalui jalur Cijeruk-Tajurhalang ada juga via jalur dari Jungle BNR Cibereum-Pondokbitung.

“Situs Goa Langkop yang berada di lereng gunung Salak dikandungi mitos patilasan moksanya Prabu Siliwangi menjadi daya tarik pengunjung dari dalam dan luar kota,” ucap Juru Pelihara (Jupel) Situs Goa Lagkop, Abah Jaja (60) kepada www.beritabuana.co, Sabtu (15/5/2021)

Menurutnya, di komplek Situs Goa Langkop disebut tempat kabuyutan, selain dipercaya patilasan tempat moksanya Prabu Siliwangi, juga tempat bersemayamnya dan patilasan Sech Sahadat Sakti, Eyang Jagaraksa, Prabu Sakti dan Rd. Purbakawasa.

Konon, kabuyutan itu hidup sebelum masa Prabu Siliwangi. Di masa penghujung peralihan kekuasaan, di saat Prabu Siliwangi dikejar-kejar putranya yang bernama Rd. Kiansantang, tempat kabuyutan itu dipilihnya untuk berlindung dan bertapa selama 40 hari.

Namun, prosesi bersemedinya baru 21 hari sudah mendapat wangsit, bahwa keberadaannya telah tercium oleh Rd.Kiansantang dan pasukannya mulai mendekat. Prabu Siliwangi pun bangun dari bertapanya yang tengah sila di atas batu menhir, lalu mendekat ke mulut Goa Langkop.

“Sebelum moksa, tak jauh dari samping mulut Goa, Prabu Siliwangi sempat menancapkan batu lingga. Lalu masuk ke Goa Langkop dan menghilang,” katanya.

Abah Jaja menambahkan, bongkahan batu posisinya masih utuh tanpa direkayasa. Hanya dijaga dan bersihkan oleh orang tua dahulu secara turun temurun. Untuk mengenang dan menghormati kabuyutan, warga setempat tiap 10 Muharam melaksanakan ritual doa bersama dengan sedekahan potong hewan (kambing atau kerbau).

“Lama lama, diketahui para pengunjung dari luar daerah, hingga banyak yang ikut serta dalam ritual sedekah 10 Muharaman. Mereka dari berbagai kalangan,” katanya. (YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *