Milenial dalam Aksi Ekstrimisme, Akibat Kurang Bimbingan yang Benar

by
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. (Foto: Jimmy)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Keterlibatan generasi millenial dalam aksi ekstrimisme, karena pada usia muda mereka tengah mencari identitas dan jatidiri. Kalau tidak dapat bimbingan yang benar, niscaya mereka mudah terbawa arus yang mempengaruhinya.

Pendapat ini disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti saat menjadi nara sumber diskusi Empat Pilar. MPR RI dengan tema “Menangkal Penyusupan Paham Ekstrimisme, Dikalangan Anak Muda” di Media Center Gedung Nusamtara III Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (26/4/2021).

Abdul Mu’ti mengatakan, dulu aksi ekstrimisme didorong oleh faktor ekonomi dan kesejahteraan. Tetapi kini, alasan tersebut sudah bergeser menjadi persoalan ideologi, demokrasi dan politik.

“Ada kekosongan jiwa sehingga gampang dipengaruhi, termasuk untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Juga kurangnya pengetahuan, dan teladan yang bisa mereka temukan,” sebut dia.

Mengapa gerakan anti Pancasila makin banyak, menurut Abdul Mu’ti, karena mereka tidak melihat dengan Pancasila Indonesia makin baik dan makmur. Karena itu muncul keinginan mencari ideologi baru, apalagi di luar memang ada ideologi yang membuat suatu negara maju.

Keterlibatan generasi muda dalam aksi ekstrimisme, menurut Abdul Mu’ti juga dipengaruhi minimnya ruang terbuka yang bisa menjadikan mereka berekspresi dengan leluasa.

“Termasuk bersosialisasi dan menyalurkan bakat serta hobinya. Dan itu butuh peran serta kehadiran negara secara lebih besar lagi,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Abdul Mu’ti, harus ada evaluasi sejauh mana keberhasilan kita mengantisipasi ekstrimisme. Yang pasti, penanganan ekstrimisme harus menjadi kebutuhan bersama atau semesta partisipatif.

“Bukan hanya BNPT atau Densus, tapi bersama-sama, termasuk menggabungkan partisipasi yang berbeda beda,” tutup Abdul Mu’ti. (Jimmy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *