Indonesia Ikut Dalam TWG-14 dan PSCC-31 Standard Kelaiklautan dan Keamanan Kapal

by
Capt. Heru Maryanto, Plt Kasubdit Tertib Berlayar dan Agus Pujo Imantoro, Plt. Kasi Kecelakaan dan Pemeriksaan Kapal mewakili Direktur KPLP dalam acara TWG-14 dan PSCC-31 Standar Kelaiklautan dan Kemamanan Kapal secara virtual di Jakarta.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Indonesia melalui Kementerian Perhubungan kembali berpartisipasi dalam acara Technical Working Group (TWG 14) dan Port State Control Committee (PSCC 31) mengenai Standard Kelaiklautan dan Keamanan Kapal, khususnya di wilayah Asia Pasifik.

Pertemuan TWG membahas hal-hal yang berkaitan dengan prosedur dan pedoman teknis PSC, Kampanye Inspeksi Terkonsentrasi, sistem informasi dan pertukaran informasi, evaluasi pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok teknis lintas sektor dan kegiatan kerjasama teknis.

“Dengan adanya acara ini diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi industri pelayaran khususnya pengiriman logistik via laut,” kata Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad di Jakarta, Senin (18/1/2021).

Ahmad dalam sambutannya yang dibacakan oleh Pelaksana Tugas Kasubdit Tertib Berlayar, Capt. Heru Maryanto pada acara daring di Holiday Inn Hotel, Jakarta, menyebutkan meski ada keterbatasan pertemuan akibat pandemi, diharapkan dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk industri pengiriman dunia, serta anggota Tokyo MoU khususnya.

“Batasan karena pandemi tidak akan menghalangi kami untuk menghasilkan sesuati yang berkualitas dan bermanfaat,” ujarnya.

Dikatakan, saat ini anggota yang tergabung dalam Tokyo MoU berjumlah 21 negara Asia Pasifik. Semua negara tersebut mempunyai dan berpegang pada pedoman yang sama di bawah naungan Tokyo MoU yang diakui secara internasional. Keanggotaan Indonesia di Tokyo MoU juga membuat pelabuhan di Indonesia terbuka bagi kapal-kapal asing.

“Kami masih mengikuti prosedur inspeksi seperti yang telah tertuang dalam pedoman Tokyo MoU. Jadi harapan kita, Indonesia sebagai salah satu anggota dapat menciptakan dunia maritim yang memenuhi standar kelaiklautan, keamanan dan perlindungan maritim yang diharapkan,” tandas Ahmad.

Pelaksana Tugas Kasi Kecelakaan Kapal dan Pemeriksaan Kapal, Agus Pujo Imantoro, dalam acara itu menjelaskan TWG ini bertujuan untuk mencegah dan mengurangi segala bentuk pelanggaran keamanan pelayaran yang juga berpotensi menimbulkan kecelakaan. “Contohnya adalah kapal yang tidak memenuhi standar,” ujarnya.

“Intinya Tokyo MoU ini kerjasama maritim di Asia Pasifik, tujuannya untuk secara umum mengurangi kapal-kapal yang di pelayaran itu sub standar atau dari aspek kelautan dikurangi. Sehingga di pelayaran internasional itu, kapal-kapal tidak terjadi pelanggaran baik secara kelaiklautan, keamanan dan perlindungan lingkungan maritim,” papar Agus.

Menurutnya, dengan adanya acara ini juga memberikan manfaat yang besar bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia. Karena setiap kapal, terutama kapal-kapal asing yang masuk wilayah perairan Indonesia dapat dipastikan telah memenuhi standar.

“Indonesia juga jadi lebih disegani dan memberikan kontribusi besar dalam menjaga pemenuhan aturan konvensi dalam beberapa aspek, antara lain kelaiklautan, keselamatan, keamanan, ketertiban, dan perlindungan maritim,” tuturnya.

Agus menambahkan, manfaat yang jelas didapat secara ekonomi kapal-kapal yang masuk baik di pelayaran Indonesia dan pelayaran di Asia Pasifik terjamin aspek keselamatan, kemananan dan perlindungan lingkungan maritim. (Yus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *