EduFair SMAN 8 Jakarta, Asah Keterampilan Menulis Esai untuk Menembus Beasiswa

by
Suradi, salah satu narasumber diskusi EduFair SMAN 8.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Masa pandemi Covid-19 tampaknya tidak menyurutkan semangat para pelajar untuk mencari informasi peluang beasiswa mancanegara. Karena itu, acara seperti EduFair yang digelar SMAN 8 Jakarta secara daring pun diminati siswa, terutama kelas 12, 11, dan juga kelas 10.

Sejumlah orang tua murid dan beberapa alumni ikut bergabung dalam penutupan Part I EduFair SMAN 8 Jakarta bertema, “Esai dan Strategi Menembus Beasiswa”, Kamis (30/7/2020).

Narasumber untuk sesi penutup bagian pertama Edufair ini adalah alumni, pertama Suradi, Msi, alumni SMAN 8 tahun 1982 yang kini bergerak di dunia media dan penulisan buku, dan kedua, Chintya Imelda Maidir, Alumni SMAN 8 tahun 1995 yang kemudian melanjutkan ke ITB Bandung dan kini sebagai National Program Coordinator, Knowledge Sector Initiative, Program Kemitraan Indonesia-Australia.

Kepala Sekolah SMAN 8 Jakarta, Rita Hastuti yang memberikan sambutan pembukaan sesi ini mengatakan, EduFair memberikan sarana informasi luar biasa kepada para siswa dan orang tua yang ingin putra-putrinya melanjutkan kuliah di luar negeri, terutama dengan beasiswa.

“Setelah sesi sebelumnya yang memberikan gambaran bagaimana system belajar di sejumlah Negara Asia, Eropa, dan Amerika, lengkap dengan trik dan tipsnya, maka kali ini khusus mengenai literasi yakni bagaimana membuat esai sebagai salah satu syarat penting lolosnya pengajuan beasiswa,” kata Rita Hastuti kepada sekitar 300 peserta EduFair ini.

Menurut Suradi, trik untuk lolos seleksi beasiswa sebenarnya lebih mudah disiapkan jauh hari sebelumnya, idelnya sejak semasa SMP, tetapi jika sudah masa SMA, juga tak masalah, asalkan setiap pelajar sudah memiliki sejumlah ‘tabungan’ berupa prestasi akademik, aktivitas organisasi di sekolah dan luar sekolah, kemampuan bahasa Inggris yang memada baik lisan maupun tulisan, dan tentunya keterampilan menulis, khususnya untuk menulis sebuah esai yang biasa disebut personal statement.

Dalam talkshow ini, Suradi yang berpengalaman dan berhasil mendidik ketiga anak-anaknya sehingga lolos beasiswa strata satu (S1) di Amerika Serikat (AS), Madrid, Spanyol, dan putra ketiga yang juga lolos seleksi masuk sekolah internasional setingkat SMA yakni Knightsbride International School (KSI) di Montenegro, Eropa Selatan, menjelaskan bagaimana sebuha esai dibuat agar menarik perhatian universitas atau sekolah yang akan member beasiswa.

“Kita harus mampu menunjukkan kelebihan dan keunikan kita pada universitas atau sekolah melalui esai kita. Jangan berbohong, apalagi mencontek esai milik orang lain, tapi pelajar I beragam esai dan kita tuangkan tentang diri, keluarga, aktivitas, karya, dan kelebihan diri kita dalam sebuh esai yang tulis secara jujur,” kata Suradi.

Budaya Membaca

Sementara itu, Imelda pun menceritakan bagaimana membangun budaya membaca di kalangan keluara sebagai basis untuk melanjutkan tradisi menulis di kalangan anak-anak kita.

“Tanpa banyakmembaca, tak mungkin anak kita mampu menulis dengan baik, apalagi menulis esai yang dibatas jumlah karakter kata atau hurufnya,” katanya.

Imelda berhasil mendidik anaknya yang masih remaja untuk terus meningkatkan minat baca dan bahkan sang puteri, Kanaya N.Ozora, yang masih belia, 14 tahun, sudah mampu menghasilkan karya berupa novel berbahasa Inggris berjudul berjudul “Najima” pada 2019 lalu.

“Meski novel tidak sama dengan esai serius untuk beasiswa, tetapi tradisi menulis dan keterampilan menuangkan gagasan dan pikiran, akan mempermudah setiap anak membuat esai,” kata Imelda. (Kds)

Leave a Reply

Your email address will not be published.