Saat ini, PSI mulai dukung Anies. Gak usah kaget ketika dengat Raja Juli Antoni mengajak semua anggota DPRD untuk kerjasama Anies soal memberi tempat tinggal bagi tunawisma. Covid-19 membuat sejumlah orang gak bisa bayar kontrakan. Karena itu, mesti difasilitasi. Dalam hal ini, PSI apresiasi Anies.
Tidak saja PSI, Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) juga berulangkali memuji kinerja Anies. Tito menganggap langkah Anies terbaik dan sangat cepat dalam menangani Covid-19. Tito obyektif!
Apa yang diungkap Tito sejalan dengan hasil survei Median, binaan Rico Marbun. Anies berada di posisi teratas sebagai kepala daerah dalam menangani penyebaran Covid-19. Mulai dari perencanaan, kecepatan dan ketepatan.
Biarlah itu pekerjaan surveyer. Gak terlalu penting untuk dibahas. Yang lebih penting bagaimana sinergi pemerintah pusat dan daerah efektif mencegah penyebaran Covid-19. Ini inti dan hal yang paling mendasar.
Terkait dengan Anies, muncul pertanyaan: mengapa banyak pihak akhir-akhir ini mulai menerima dan mengapresiasi Anies?
Pertama, Anies seperti benteng yang kokoh. Dihajar dan diserbu tanpa henti, tetap stabil. Sabar dan terus bekerja. Ini soal karakter dan mental. Gak mudah! Umumnya pemimpin itu reaktif saat dikritik. Dikit-dikit lapor. Lapor kon dikit?
Kedua, Anies punya pola merangkul, tidak memukul. Siapapun penghina Anies, dimaafkan. “Dicaci gak tumbang, dipuji gak terbang”. Kalimat ini jadi populer. Inilah prinsip yang nampaknya selalu dipegang oleh Anies. Anies sadar, risiko pemimpin harus siap dicaci, bahkan difitnah. “Nabi Yang sempurna saja difitnah, apalagi Anies. Anies itu siapa sih…” katanya. Ini ungkapan kesadaran bahwa seorang pemimpin harus siap dicaci dan difitnah.







