DADAN HINDAYANA: “Serangga” yang Menggigit Presiden

by
Toto Izul Fatah. (Foto: Dok)

MANTAN Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang kini sudah jadi tersangka, memang dikenal punya latarbelakang akademis sebagai ahli serangga atau entomolog. Konon, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya pernah memanfaatkan keahliannya tersebut di Hambalang.

Namun, sebuah ironis politik yang terasa begitu tajam tiba-tiba muncul. Dadan yang semula memahami perilaku serangga, lewat metafora kekuasaan yang dijabatnya sebagai Kepala BGN seperti berubah menjadi “serangga” itu sendiri.

Bukan serangga yang membantu ekosistem, tetapi serangga yang pelan-pelan menggigit tangan yang memberinya tempat kuasa.

Dadan juga bukan menjadi serangga yang seharusnya membantu ekosistem, tetapi menggigit program yang dipercayakan kepadanya. Dan bahkan, berpotensi menggigit marwah Presiden yang memberinya kepercayaan.

Kini, setelah dilakukan evaluasi dan monitoring, Presiden Prabowo dengan tegas akhirnya mencopot Dadan bersama dua Wakil Kepala BGN pada 2 Juni 2026 kemarin. Padahal, posisinya di BGN sangat penting dan strategis karena MBG merupakan program prioritas Prabowo Subianto dalam pemenuhan gizi rakyat, dari anak sekolah hingga ibu hamil.

Dalam konteks ini, Dadan seperti tidak sadar, bahwa dia sedang memegang amanah berupa badan yang memegang urusan strategis dengan anggaran raksasa, yang celah kecil saja bisa berubah menjadi lubang besar. Anggaran MBG 2026 sempat disebut berada di kisaran Rp335 triliun sebelum kemudian pemerintah memangkas pagunya menjadi Rp268 triliun.

Bayangkan jika lembaga sebesar itu dipimpin oleh mental yang tidak memandang jabatan sebagai amanah, melainkan sebagai ladang, sebagai sarang, sebagai tempat berkembang biaknya kepentingan-kepentingan gelap.

Kini publik menyaksikan babak berikutnya. Kejaksaan Agung menetapkan Dadan sebagai tersangka kasus korupsi dan menahannya pada Rabu, 3 Juni 2026. Adapun dugaan kasus yang menimpanya terkait adanya indikasi dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa di BGN serta indikasi praktik jual-beli titik SPPG.

Memang, secara hukum, kita tetap harus menempatkan kasus ini dalam asas praduga tak bersalah sampai ada putusan pengadilan. Tetapi secara politik dan moral publik, pencopotan Dadan sudah memberi pesan penting, bahwa Presiden tidak boleh disandera oleh pembantunya sendiri.

Dalam metafora yang keras, Dadan seperti serangga yang semula diberi ruang hidup di rumah besar kekuasaan. Ia diberi kepercayaan, diberi kantor, diberi panggung, diberi kewenangan, diberi akses pada program besar negara.

Tetapi, jika benar kelak terbukti ada praktik koruptif, maka ia bukan lagi sekadar serangga kecil yang mengganggu. Ia telah berubah menjadi hama yang menggigit dan menggerogoti dari dalam, merusak kepercayaan publik terhadap Presiden.

Beruntung, Presiden Prabowo cepat membaca arah. Sebelum gigitan itu makin dalam, sebelum luka politiknya makin melebar, sebelum program MBG babak belur lebih jauh di mata rakyat, “serangga” itu dipindahkan dari ruang nyaman kekuasaan menuju ruang pertanggungjawaban hukum.

Serangga Dadan dipindah dari kantor dengan akses anggaran raksasa, kini ia harus berhadapan dengan lorong sempit proses hukum.

Inilah pelajaran keras bagi semua pejabat negara. Jabatan bukan kandang untuk berbiak. Jabatan bukan sarang untuk mengumpulkan madu kekuasaan. Jabatan adalah amanah.

Maka, ketika amanah itu dikhianati, apalagi dalam program yang menyangkut makanan anak-anak, pengkhianatannya bukan hanya kepada Presiden, tetapi kepada rakyat kecil yang berharap sepiring makanan bergizi sampai ke meja mereka.

Kasus Dadan harus menjadi momentum bersih-bersih total di BGN. Presiden tidak cukup hanya mencopot satu kepala. Semua jejaring, semua titik, semua dapur, semua yayasan, semua vendor, semua pola penunjukan, semua dugaan setoran dan jual-beli akses harus dibongkar sampai ke akar.

Sebab hama tidak pernah bekerja sendirian. Ia selalu punya koloni. Ia selalu punya jalur. Ia selalu punya sarang.

Pencopotan Dadan, karena itu, harus dibaca sebagai tindakan penyelamatan. Penyelamatan MBG. Penyelamatan uang rakyat. Penyelamatan anak-anak penerima manfaat. Dan yang tak kalah penting, penyelamatan marwah Presiden dari gigitan orang-orang yang justru diberi kepercayaan olehnya.

Dan kini, Presiden Prabowo sudah membuktikan, bahwa sebagai pemimpin yang kuat, bukan hanya berani mengangkat orang. Presiden juga ternyata berani mencopot orang dekat, ketika orang itu mulai menjadi beban, menjadi hama, dan menjadi ancaman bagi mandat rakyat.

*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA/Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat