Cetak Cuan dari Kotoran Domba: Kisah Koperasi Binaan PT Pertamina EP Cepu Ubah Limbah Jadi Berkah

by
Head of Communication, Relations & CID PEPC Zona 12, Weanny Hikmat penggemukan Domba. (Foto: Kds)

BERITABUANA.CO, BOJONEGORO – Dari kandang sederhana berisi belasan ekor domba, aliran berkah ekonomi justru mengalir deras. Inilah kisah sukses ekonomi sirkular yang dibangun PT Pertamina EP Cepu Field melalui Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro.

Berawal dari 20 ekor domba bantuan, kelompok petani hutan binaan kini mampu memproduksi 56 ton kompos dan media tanam yang pemasarannya bahkan menembus hingga Sulawesi.

Transformasi ini digerakkan melalui Koperasi Produsen Limbah Tani Lestari (Limbatani), wadah ekonomi yang dibentuk untuk warga sekitar area operasi JTB.

Head of Communication, Relations & CID PEPC Zona 12, Weanny Hikmat, didampingi mitra program dari Alas Institute Andestara dan pengelola koperasi Andi Yulius, menceritakan bahwa program ini lahir bukan dari sekadar bantuan, melainkan dari pendekatan humanis untuk menjawab persoalan di lapangan.

“Sebelum adanya proyek gas JTB, petani penggarap lahan di sekitar area kerap membuka lahan dengan cara dibakar karena dinilai paling efektif dan efisien,” ungkap Weanny.

Praktik tersebut, kata Weanny, tentu tidak dapat dibiarkan karena berisiko terhadap aspek keselamatan operasi gas. Namun, perusahaan tidak mungkin hanya melarang tanpa memberikan solusi.

Dari dialog yang intensif sejak 2023, tercetus kebutuhan akan wadah ekonomi yang kuat. “Akhirnya kita sepakat bentuk koperasi. Bukan koperasi simpan pinjam, tapi koperasi produsen,” tegas Weanny.

Koperasi yang kini beranggotakan 25 petani hutan itu dibangun dengan modal awal yang sangat sederhana, simpanan pokok hanya Rp100.000 per anggota. Namun dengan sistem usaha bersama yang transparan dan akuntabel, koperasi justru tumbuh menjadi perpanjangan tangan perusahaan dalam menjaga harmonisasi antara operasi gas dan masyarakat, termasuk dalam menyampaikan aspek safety.

Sebagai tonggak awal usaha, perusahaan memberikan bantuan 20 ekor domba untuk program penggemukan bersama. Uniknya, sistem kepemilikan aset dibuat komunal, bukan perorangan.

“Modal awal kandang dan isinya, substratnya, semuanya dari Pertamina. Modelnya semua terkumpul di koperasi, bukan orang per orang,” jelas Weanny. Saat ini populasi domba tercatat 18 ekor yang memang difokuskan untuk penggemukan.

Yang menarik, tambah Andestara, keuntungan dari penjualan domba tidak langsung dibagi. Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) perdana tahun 2025, anggota sepakat mengembalikan Sisa Hasil Usaha (SHU) untuk diputar kembali sebagai modal pengembangan. Dari sinilah kunci ekonomi sirkular berjalan.

Kotoran dan sisa pakan domba yang sebelumnya menjadi limbah tak bernilai, kini diolah menjadi pupuk kompos organik bernilai jual tinggi. Potensinya besar.

Menurut data Kementerian Pertanian, satu ekor domba dapat menghasilkan 1,5 hingga 2 kilogram kotoran padat per hari. Dengan 18 ekor, koperasi berpotensi menghasilkan 27 hingga 36 kilogram bahan baku kompos setiap hari atau hampir satu ton per bulan hanya dari kotoran saja.

Proses produksinya pun, masih menurut Andestara, memberdayakan anggota. Bahan baku berupa kotoran setengah jadi dibeli dari petani anggota koperasi dengan harga Rp10.000 per karung.

“Kita ambil kotoran dari petani hutan, rata-rata anggota koperasi juga,” kata Andestara.

Bahan baku tersebut kemudian difermentasi menggunakan bioaktivator seperti Trichoderma dan EM4 selama kurang lebih 25 hari berdasarkan pelatihan dari Pertamina EP Cepu.

Setelah matang, kompos dihaluskan dan diayak agar bertekstur halus, lalu dikemas hanya saat ada pesanan agar kualitas tetap terjaga.

“Kita tidak langsung karungin semua. Ketika ada pesanan baru kita kemas. Di dalam karung kita kasih plastik, jadi lebih awet,” imbuhnya.

Saat ini koperasi memiliki stok sekitar 56 ton, hasil pemanfaatan musim panas untuk penjemuran bahan baku. Sepanjang tahun 2024, realisasi distribusi mencapai hampir 25 ton, dikemas dalam dua ukuran, 5 kilogram dan 25 kilogram, dengan harga jual Rp1.800 per kilogram.

Program Domba-Kompos ini menjadi pilar penting CSR PT Pertamina EP Cepu dalam aspek Tata Kelola, yakni melatih petani untuk berorganisasi secara akuntabel dan berkelanjutan, bukan sekadar penerima bantuan. Program ini juga menjadi jawaban atas kelangkaan pupuk subsidi yang kerap dialami petani hutan yang tidak terdaftar dalam Kelompok Tani Desa (KTD) formal.

Selain kompos murni, koperasi juga mengembangkan unit usaha media tanam, berupa campuran kompos dengan tanah merah. Penjualannya dilakukan secara konvensional untuk kalangan sendiri dan melalui kemitraan program penghijauan.

“Pernah kompos kita dikirim untuk program penghijauan di Sulawesi. Kita juga bermitra dengan program CSR perusahaan lain,” ungkap Andestara. (Kds)