Kolaborasi Multi-Pihak Diperkuat Demi Menjaga Ekosistem dan Habitat Rentan Batang Toru

by
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani. (Foto: Analisa)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menuntut kerja sama lintas sektor, termasuk peran aktif korporasi yang beroperasi di sekitar kawasan. Keterlibatan perusahaan dinilai krusial mengingat sebagian habitat vital flora dan fauna berbatasan langsung dengan area konsesi dan pengelolaan mereka.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa pihaknya aktif mendorong perumusan strategi konservasi terpadu yang merangkul masyarakat lokal, pemerintah daerah, serta pelaku usaha di Batang Toru.

“Kita berkumpul, mengidentifikasi dan semua yang kita ajak diskusi sebagian besar menyatakan kesiapannya untuk mengalokasikan wilayahnya yang menjadi habibat potensi keanekaragaman hayati tinggi menjadi areal konservasi,” kata Novita, Jumat (21/8/2026)

Selain itu, BBKSDA Sumut merumuskan rencana aksi partisipatif guna mendorong kontribusi industri perkebunan yang berada di Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT).

“Mereka sudah komitmen mengizinkan areal konservasi untuk perlindunngan tumbuhan,” kata Novita.

Sejumlah korporasi besar di kawasan tersebut telah menginisiasi program perlindungan ekosistem mandiri. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pengembang PLTA Batangtoru secara berkala menjalankan revegetasi dan memasang jembatan arboreal. Di sektor pertambangan, PT Agincourt Resources selaku pengelola tambang emas Martabe membangun stasiun riset keanekaragaman hayati serta fasilitas perlindungan orangutan Tapanuli.

Dinamika Kesesuaian Habitat di Lanskap Batang Toru

Hasil survei cepat dari Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) Universitas Indonesia (UI) memetakan terjadinya pergeseran tingkat kesesuaian habitat bagi keanekaragaman hayati setempat.

Peneliti Pusat Penelitian Perubahan Iklim UI, Nurul Winarni, mengungkapkan bahwa dinamika habitat satwa liar belum terpantau signifikan akibat keterbatasan data historis.

“Kalau fauna tidak terlalu terlihat bedanya tapi ada daerah kesesuaian tinggi 32 persen itu itu menurun menjadi 30 persen, jadi kecil perubahannya,” kata Nurul dihubungi Rabu, 19 Agustus.

Sebaliknya, penurunan kesesuaian habitat flora tampak lebih mencolok. Bencana banjir yang menghanyutkan tegakan pohon memicu perubahan drastis pada kerapatan vegetasi, mengakibatkan area dengan tingkat kesesuaian tinggi untuk tumbuhan merosot dari 33,5 persen menjadi 19,9 persen.

Lanskap Batang Toru merupakan rumah bagi fauna penting seperti orangutan Tapanuli, owa ungko, siamang, kijang muncak, hingga harimau sumatera. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai flora khas, termasuk pohon kemenyan alami maupun budidaya, serta kantong semar.

Nurul menambahkan, hasil riset I-SER UI menemukan irisan antara zona kesesuaian habitat tinggi dengan kawasan konservasi formal lainnya. Zona irisan ini perlu diprioritaskan dalam skema perlindungan habitat dengan tetap mengakomodasi kepentingan masyarakat yang memanfaatkan kawasan hutan secara lestari. (Kds)