Gempa 7,7 M Flores: Pesan Alam yang Sering Diabaikan

by
Toto Izul Fatah. (Foto: Dok)

GEMPA besar berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026, mestinya tidak kita baca sebagai berita biasa.

Ini bukan sekadar angka pada layar televisi, bukan sekadar video bangunan runtuh yang lewat beberapa detik di media sosial, lalu esok harinya dilupakan. Ini tragedi besar.

Data terbaru per Minggu 16 Agustus menunjukkan sedikitnya 53 orang meninggal dunia, puluhan mengalami luka berat dan lebih dari 5.000 warga harus dievakuasi. Gempa juga memicu ratusan gempa susulan, tanah longsor, kerusakan rumah, fasilitas publik dan terputusnya sejumlah akses jalan.

Pertanyaannya kemudian: mengapa kita seperti biasa-biasa saja? Di banyak ruang percakapan publik, termasuk berbagai grup media sosial, tragedi sebesar ini terasa cepat berlalu.

Tidak muncul gelombang kepedulian nasional sebesar yang selayaknya lahir dari bencana dengan korban puluhan jiwa.

Apakah karena kita sudah terlalu sering mendengar kata gempa. Gempa lima koma sekian, enam koma sekian, tujuh koma sekian. Lama-kelamaan angka-angka itu kehilangan daya kejutnya.

Padahal setiap angka itu bisa berarti rumah yang ambruk. Bisa berarti seorang ibu kehilangan anaknya.
Bisa berarti seorang anak kehilangan orang tuanya. Bisa berarti satu keluarga yang dalam beberapa detik kehilangan rumah, harta benda dan masa depannya.

Karena itu, Flores seharusnya mengguncang bukan hanya tanah NTT, tetapi juga hati seluruh bangsa Indonesia. Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada gempa bumi, yaitu: manusia yang mulai kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan manusia lainnya.

Ketika puluhan orang meninggal tetapi kita tetap sibuk berdebat politik, gosip selebritas, perseteruan di media sosial dan urusan-urusan remeh, kita patut bertanya: jangan-jangan yang sedang mengalami kerusakan bukan hanya bumi, tetapi juga rasa kemanusiaan kita.

Benar bahwa pemerintah telah bergerak. Kepala BNPB dan Menko PMK diberitakan turun menangani bencana, sementara ribuan personel TNI-Polri serta unsur penyelamat dikerahkan.

Tetapi bencana sebesar ini tidak cukup menjadi urusan pemerintah. Ia harus menjadi urusan bangsa. Flores adalah Indonesia. Air mata masyarakat NTT adalah air mata kita. Rumah mereka yang runtuh adalah luka bangsa. Maka, solidaritas nasional seharusnya bergerak.

Secara ilmiah, tentu kita memahami bahwa gempa tektonik terjadi karena proses geologi dan pergerakan lempeng bumi. Indonesia memang berada di wilayah yang sangat aktif secara tektonik.

Tetapi, sebagai manusia beragama, sangat penting memaknai amuk alam seperti yang terjadi di Flores itu sebagai pesan alam tentang betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan, Allah SWT.

Gedung boleh tinggi. Kekayaan boleh berlimpah. Kekuasaan boleh besar. Teknologi boleh semakin canggih.
Tetapi ketika bumi bergerak beberapa puluh detik saja, semua kesombongan manusia dapat runtuh bersamaan dengan tembok-tembok rumahnya.

Manusia yang pagi hari merasa memiliki segalanya, beberapa detik kemudian dapat kehilangan semuanya. Bukankah itu sebuah peringatan? Bukankah itu pesan alam yang sering kita abaikan?

Kenapa? Karena alam tak pernah mengamuk tanpa sebab. Dalam perspektif keimanan, setiap peristiwa semestinya dapat menjadi ayat atau tanda yang mengajak manusia berpikir dan bermuhasabah atau introspeksi diri.

Boleh jadi, pesannya sederhana: Jangan terlena. Hari ini Flores. Besok kita tidak tahu. Gempa tidak memilih rumah orang kaya atau miskin. Gempa bisa terjadi kapan saja dan di wilayah mana saja.

Gempa tidak bertanya pilihan politik kita. Tidak bertanya jabatan kita. Tidak bertanya berapa saldo rekening kita. Gempa dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Bahkan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Itulah sebabnya setiap bencana semestinya melahirkan dua kesadaran sekaligus: kesadaran mitigasi dan kesadaran spiritual.

Kita sering sangat cepat berdoa ketika terjadi bencana. “Ya Allah, lindungilah bangsa kami.” “Ya Allah jauhkan kami dari bencana.”

Doa itu tentu baik.Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: Sudahkah kita juga bertobat?

Sebab jangan-jangan kita terlalu sering meminta Tuhan memperbaiki keadaan, sementara kita sendiri enggan memperbaiki perilaku.

Kita meminta keselamatan tetapi masih serakah. Kita meminta kedamaian tetapi gemar menebar kebencian. Kita meminta keberkahan tetapi korupsi terus dilakukan.

Kita meminta alam bersahabat tetapi manusia terus mengeksploitasi alam tanpa batas. Kita meminta Tuhan menjaga negeri ini tetapi sesama manusia justru saling melukai.

Maka, gempa Flores sebaiknya menjadi momentum muhasabah nasional sekaligus Tobat Nasional. Kita duduk sejenak di hadapan Tuhan dan berani berkata dengan jujur:

“Ya Allah, mungkin kami banyak salah. Mungkin kami banyak dosa.” “Mungkin kami terlalu sibuk mengejar dunia.” “Mungkin kami kurang peduli kepada sesama.” “Mungkin kami telah lalai menjaga amanah. Karena itu ampunilah kami ya Allah.”

Itulah hakikat tobat. Bukan menuduh korban. Bukan merasa paling suci. Bukan pula mencari-cari dosa orang lain. Tetapi menunjuk diri sendiri terlebih dahulu.

Tentu, tobat tidak boleh berhenti pada air mata dan istighfar. Tobat harus melahirkan perubahan.
Kalau kita sadar Indonesia negeri gempa, maka segala upaya lahir pun harus dilakukan.

Muhasabah spiritual dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan. Bertawakal, tetapi juga menyiapkan jalur evakuasi. Dan beristighfar, tetapi juga memperbaiki sistem mitigasi. Itulah iman yang bertanggung jawab.

Gempa Flores jangan hanya menjadi berita NTT. Ia adalah alarm Indonesia. Alarm bahwa kita tinggal di sebuah negeri yang indah sekaligus rentan.

Alarm agar pemerintah tidak pernah menganggap mitigasi bencana sebagai urusan pinggiran. Alarm agar kita tidak kehilangan empati. Alarm agar para pemimpin tidak terlena oleh kekuasaan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak tahu bumi mana yang akan berguncang lebih besar berikutnya.

Karena itulah sebelum alam kembali mengingatkan kita dengan cara yang lebih keras, barangkali sekaranglah saatnya kita mengingat Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh. Salah satunya, bertobat.

*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA/Ketua Umum IKA Alumni YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat)