PBNU Gelar Halaqah Kespro, Dorong Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri Cegah KS

by
PBNU melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama kembali menggelar Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren Batch kedua di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan. (Foto: LTN PBNU)

BERITABUANA.CO, PASURUAN – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama kembali menggelar Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren Batch kedua di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan Jawa Timur pada Kamis (30/7/2026).

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesejahteraan Kerakyatan Alissa Qatrunnada Wahid, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kesehatan reproduksi santri karena memadukan fungsi pendidikan dan pengasuhan sekaligus.

“Pesantren punya dua-duanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sekaligus juga ruang pengasuhan. Kalau ruang pengasuhan berarti transmisi nilai itu akan masuk. Mempersiapkan perkembangan personal itu juga akan terjadi. Nah ini peran-peran ini besar sekali potensinya di pesantren,” kata Alissa.

Ia menilai banyak remaja memperoleh paparan mengenai perilaku seksual dari berbagai sumber tanpa memiliki bekal pengetahuan yang memadai mengenai perkembangan dirinya maupun kesehatan reproduksi.

“Program kesehatan reproduksi di pesantren menjadi penting sekali untuk membekali santri agar memahami bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya soal fisik, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan terbaik bagi dirinya dalam konteks perilaku reproduksi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Alissa menilai pesantren memiliki potensi besar dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat karena menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai lembaga pendidikan dan ruang pengasuhan.

“Kalau ruang pengasuhan berarti transmisi nilai juga berlangsung. Perkembangan personal santri dibentuk di sana. Potensi pesantren sangat besar untuk membentuk karakter, kepemimpinan, hingga kesehatan reproduksi santri,” ujarnya.

Program pendidikan kesehatan reproduksi santri di pesantren (Kespro) tidak berhenti pada penyelenggaraan halaqah. Ke depan, program tersebut akan dilanjutkan dengan pelatihan bagi para ustaz dan ustazah hingga pembentukan santri sebagai pendidik sebaya (peer educator).

“Setelah ini akan ada pelatihan untuk para asatidz dalam bentuk Training of Trainers (TOT). Lalu akan ada contoh implementasi di pondok pesantren. Mungkin di akhir tahun atau tahun depan kita juga mulai melatih santri menjadi pendidik sebaya,” ujarnya.

Ia juga berharap para pengasuh pesantren mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan reproduksi. Menurutnya, langkah tersebut lebih mudah dilakukan oleh kalangan muda, seperti para gus dan ning yang telah terbiasa membuat konten digital.

“Sekarang mungkin kita baru bisa bekerja sama dengan para gus dan ning yang lebih muda dan lebih terbiasa menggunakan media sosial. Kalau kiai dan bu nyai sepuh memang agak sulit, meski kami juga menemukan banyak bu nyai yang sudah bisa membuat konten,” ujarnya.

30 Persen Remaja Anemia dan Maraknya Hipertensi Dini

Sementara itu, Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja, Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga, Kemenkes Marlina Rully Wahyuningrum mengatakan  tantangan kesehatan remaja saat ini tidak hanya terbatas pada masalah fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan masalah sosial-reproduksi.

Kemenkes membeberkan data memprihatinkan terkait kondisi gizi remaja di Indonesia. Berdasarkan data laporan agregat dari Puskesmas terhadap 3,9 juta remaja putri kelas 7 dan kelas 10, tercatat sebanyak 15 persen di antaranya mengalami anemia.

Namun, data yang lebih komprehensif dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah—salah satu program hasil kerja sama pemerintah selain Makanan Bergizi Gratis (MBG)—menunjukkan angka yang lebih tinggi.

Dari satu juta peserta didik kelas 7 (putra dan putri) serta kelas 10 (putri) yang diperiksa, sebanyak 30 persen di antaranya terdiagnosis mengalami anemia, mulai dari tingkat ringan, sedang, hingga berat.

Jika diibaratkan dengan pesawat Boeing yang menampung maksimal 550 penumpang, namun membutuhkan 1.008 pesawat hanya untuk mengangkut anak-anak remaja kita yang mengalami anemia.

“Ini jumlah yang sangat banyak dan tidak ada bandara di dunia yang mampu menampungnya sekaligus. Ini isu yang harus kita tanggulangi bersama,” ungkap Ruli.

Kondisi ini diperparah oleh fenomena growth spurt atau masa pertumbuhan pesat kedua yang dialami remaja setelah periode bawah dua tahun (baduta) dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Pada fase ini, kebutuhan gizi remaja meningkat drastis. Namun, persepsi tubuh (body image) yang keliru kerap membuat remaja putri membatasi asupan makan secara ekstrem karena merasa tubuhnya gemuk saat melihat cermin, hingga memicu gangguan makan seperti anorexia dan bulimia nervosa (perilaku memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsi),” tandasnya.

Susun Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri ala Pesantren

Untuk diketahui kegiatan Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren batch kedua ini merupakan program dari Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) yang menyasar para pengasuh pesantren. Kegiatan ini diikuti oleh para pengasuh pesantren di Jawa Timur.

Halaqah sebelumnya telah digelar di Pondok Pesantren Khas Kempek Cirebon diikuti oleh para pengasuh pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

GKMNU telah menyusun modul pendidikan kesehatan reproduksi santri di lingkungan pesantren sebagai upaya mencegah berbagai problematika terkait fungsi reproduksi, termasuk menanggulangi kekerasan seksual terhadap santri.

Modul yang disusun bersifat komprehensif termasuk menghindari madharat seperti mengalami anemia dan mengembangkan ketrampilan mengambil keputusan sehingga santri tidak mudah terpengaruh media sosial atau teman-temannya. (*/ful)