Wamenhaj Ingatkan Petugas Agar Tidak Kendor Mengawal Jemaah Meski Puncak Armuzna Sudah Selesai

by
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak saat bincang santai bersama Tim MCH di Daker Makkah. (Foto: MCH 2026)

BERITABUANA.CO, MAKKAH– Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Wamenhaj RI), Dahnil Anzar Simanjuntak, menginstruksikan kepada seluruh jajaran petugas PPIH untuk tidak mengendurkan pengawasan dan perlindungan kepada jemaah haji Indonesia pasca selesainya fase krusial di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Wamenhaj menyampaikan bahwa berakhirnya fase Armuzna bukan berarti tugas para petugas Haji dalam operasional haji santai. Sebaliknya, lanjut Wamenhaj tensi kesiapsiagaan tim medis dan petugas sektor justru wajib dinaikkan ke level tertinggi untuk mendeteksi gangguan kesehatan jemaah secara dini.

“Mohon tidak kendor dalam mengawal dan menjaga jemaah haji kita. Puncak Armuzna memang sudah selesai,” ucap Wamenhaj kemarin.

Wamenhaj pun membeberkan indikasi empiris di mana grafik angka kematian jemaah haji reguler secara historis rentan merangkak naik secara signifikan justru pada pekan pertama pasca Armuzna.

“Faktor kelelahan ekstrem setelah berjalan kaki dan mabit di Mina menjadi pemicu utama yang harus diantisipasi secara masif oleh korps kesehatan di tiap maktab hotel,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut tim medis untuk tetap waspada and konsisten menyisir kamar-kamar jemaah guna melancarkan pengawasan klinis yang ketat.

Seluruh pimpinan kloter, pimpinan sektor, hingga jajaran pejabat teras Kemenhaj diperintahkan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kehadiran negara di tengah jemaah.

Selain penguatan sektor kesehatan hulu, kata Wamenhaj sektor logistik juga menjadi sorotan tajam dalam instruksi tersebut.

Ia lalu menggarisbawahi bahwa ketepatan waktu distribusi katering harian dan pemenuhan gizi jemaah tidak boleh bergeser sedikit pun demi mempercepat pemulihan hidrasi dan stamina tubuh jemaah.

“Konsumsi harus dipastikan terdistribusi tepat waktu. Awasi dapur, para petugas awasi kualitas konsumsi,” tutupnya. (Fadloli/MCH 2026)