Antisipasi Suhu Panas di Arafah, Jemaah Haji Bisa Gunakan Cara Ini untuk Dinginkan Tubuh Secara Mandiri

by
Jemaah Haji saat berada di Tenda Arafah, Makkah. (Foto: M Umar Fadloli/MCH 2026)

BERITABUANA.CO, MAKKAH– Suhu panas di Arafah perlu segera diantisipasi oleh jemaah Haji Indonesia. Jika tidak segera ditangani, gangguan kesehatan bisa muncul mulai dari kelelahan hingga sengatan panas (heatstroke).

“Jemaah perlu mengetahui upaya mandiri mendinginkan tubuh agar tidak terkena kelelahan panas (heat exhaustion) atau sengatan panas (heat stroke),” ujar dr. Muhammad Fathi Banna Al Faruqi dari PPIH Daker Bandara.

Ia lalu menjelaskan sejumlah taktik membuang panas tubuh secara cepat dan efektif. Caranya, diawali dengan kompres pada titik yang tepat.

“Jika merasa gerah menyengat, jangan hanya mengompres dahi. Basahi handuk kecil atau kain, lalu tempelkan pada area pembuluh darah besar yang dekat dengan permukaan kulit, yaitu leher belakang/samping, ketiak, dan lipatan paha,” jelasnya.

Dengan mendinginkan area tersebut, lanjutnya, darah akan cepat dingin dan mengalirkan rasa sejuk ke seluruh tubuh. Selain itu, lakukan teknik semprot dan kipas secara maksimal.

“Sediakan botol semprot kecil berisi air di dalam tas. Semprotkan air tipis-tipis ke wajah, lengan, dan leher, lalu kipas secara manual atau menggunakan kipas angin portable. Efektif membuang panas tubuh secara instan, sepertu mekanisme pengeluaran keringat,” ungkapnya.

Ia lalu menghimbau agar jemaah haji menggunakan pakaian longgar bagi wanita dan laki-laki setelah tahallul.

“Bagi jemaah wanita, atau jemaah pria yang sudah mengambil tahallul awal yaitu boleh melepas ihram di Mina. Maka gunakan pakaian berbahan katun tipis, longgar, dan berwarna cerah, ” ujarnya.

“Hindari pakaian ketat, berwarna gelap atau berlapis-lapis yang dapat memerangkap panas tubuh di dalam baju,” sambungnya.

Jemaah juga perlu memahami dan kenali sinyal bahaya tubuh. “Segera cari petugas kesehatan jika jemaah mulai mengalami gejala mulai dari kram otot, pusing berputar, mual, jantung berdebar cepat, atau keringat keluar sangat deras. Jika kulit justru terasa sangat panas dan kering tapi tidak bisa keluar keringat lagi, maka adalah tanda darurat terjadi heat stroke,” paparnya.

Ia menambahkan, upaya mengkondisikan suhu tubuh tetap stabil selama Armuzna sangat diperlukan.

“Hal itu mencegah kerusakan organ akibat sengatan panas ekstrem. Utamakan juga kepedulian antarjemaah dan petugas, jika terdapat gangguan kesehatan bisa segera diantisipasi,” tutupnya. (Fadloli/MCH 2026)