BERITABUANA.CO, JAKARTA – Dinamika
konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, menunjukkan kompleksitas geopolitik global sekaligus menjadi peringatan bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Karenanya, Indonesia diminta mengambil pelajaran penting dari peristiwa tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik dalam kegiatan Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertema “Iran sebagai Game Changer” yang digelar di Jakarta, Jumat kemarn (13/3/2026).
Mahfuz menilai perang yang terjadi saat ini memperlihatkan bagaimana hubungan internasional kerap dipenuhi kepentingan strategis yang dapat berubah secara cepat.
“Kita harus belajar banyak dari peristiwa perang ini. Bahwa Amerika dan Israel adalah dua kekuatan dunia yang sama sekali tidak bisa dipercaya,” kata mantan Ketua Komisi I DPR RI itu.
Menurut Mahfuz, konflik tersebut juga menunjukkan bagaimana proses negosiasi internasional bisa berubah secara drastis. Ia menyebut sebelumnya masih ada perkembangan positif dalam perundingan terkait program nuklir Iran.
Mahfuz mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Oman yang menjadi mediator perundingan, yang menyebut adanya kemajuan dalam pembahasan mengenai kepatuhan Iran terhadap aturan internasional terkait program nuklir.
Namun, kata dia, situasi berubah ketika Israel melancarkan serangan terhadap Iran dan kemudian mendapat dukungan dari Amerika Serikat.
“Ini menjadi peringatan bagi semua negara, termasuk negara-negara di kawasan Teluk dan juga negara muslim besar seperti Indonesia,” ujarnya seraya menilai konflik tersebut juga menimbulkan guncangan besar bagi kawasan Timur Tengah, terutama negara-negara Teluk yang selama ini dikenal memiliki kekuatan ekonomi berbasis petrodolar.
Menurut dia, perang memperlihatkan bahwa fondasi ekonomi negara-negara tersebut tetap rentan terhadap gejolak geopolitik. Selain itu, Mahfuz menilai konflik yang memanas juga dapat memengaruhi masa depan normalisasi hubungan antara sejumlah negara Arab dan Israel yang sebelumnya difasilitasi melalui Perjanjian Abraham.
Singgung BoP Bentukan Trump
Mahfuz juga menyinggung keberadaan Board of Peace (BoP) yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, di mana Indonesia termasuk salah satu pihak yang terlibat.
“Orang tidak tahu sebenarnya apa rencana Trump untuk Gaza dan Palestina. Untuk persoalan Iran saja masih banyak persoalan yang belum selesai,” kata Mahfuz.
Ia juga mengingatkan adanya risiko eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk kemungkinan penggunaan senjata dengan daya hancur besar jika perang terus meningkat. Menurut dia, kondisi tersebut dapat memperluas konflik tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan global.
Ia berharap negara-negara besar yang memiliki senjata nuklir dapat memainkan peran untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
“Kita tentu tidak mengharapkan hal itu terjadi. Dunia berharap konflik ini tidak berkembang menjadi perang yang lebih besar,” ujarnya.
Mahfuz menilai konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berpotensi berlangsung dalam jangka panjang. Ia menyebut Iran kemungkinan menerapkan strategi perang asimetris yang bertujuan menguras kemampuan militer dan finansial lawan.
“Targetnya bukan sekadar memenangkan pertempuran, tetapi menguras energi, kemampuan finansial, dan motivasi militer lawan dalam jangka panjang,” kata dia.
Menurut Mahfuz, perkembangan konflik ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik global semakin kompleks dan memerlukan kewaspadaan serta pembacaan strategis dari negara-negara lain, termasuk Indonesia. (Ery)






