BERITABUANA.CO, JAKARTA – Dua kabupaten di Jawa Timur, Blitar dan Kediri, berkontribusi terhadap pasokan cabai nasional melalui surplus produksi yang menjaga ketersediaan selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Pasokan aneka cabai nasional aman selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah, dengan dukungan surplus produksi dari sentra utama di Kabupaten Blitar dan Kediri,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi saat kunjungan kerja ke sentra produksi cabai di kedua daerah tersebut dalam keterangan di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Data Early Warning System (EWS) periode Maret–April 2026, Kabupaten Blitar menunjukkan neraca produksi yang sangat positif. Untuk komoditas cabai rawit merah, produksi Maret 2026 diperkirakan mencapai 7.050 ton dengan neraca surplus sebesar 5.594 ton.
“Kondisi ini selaras dengan fakta lapangan di tiga kecamatan sentra, yaitu Bangunrejo, Wates, dan Binangun, serta tujuh kecamatan lainnya dengan total luas tanam (LT) sekitar 6.000 hektare,” ujarnya.
Kementan mencatat, potensi panen awal diperkirakan mencapai 2.000 hektare pada minggu kedua Maret. Blitar sejak tahun 2017 terus menjadi penyangga cabai rawit nasional.
Meskipun Blitar sempat masuk daftar indeks perkembangan harga (IPH) tertinggi nomor dua, namun melihat pertanaman dan kesiapan panen dalam dua minggu ke depan, daerah itu mampu segera mengisi kebutuhan cabai sampai hari raya Idul Fitri.
Agung menyarankan agar petani menggunakan benih sehat dan tidak terpaku pada varietas lokal, memperkuat penggunaan dolomit dan pupuk kandang, serta KNO3 (kalium nitrat) untuk memaksimalkan pembungaan. Perbaikan budidaya perlu dilakukan untuk hasil produksi yang lebih kuat dan sehat.
Sementara itu, di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, kondisi produksi cabai rawit merah juga terpantau aman dan surplus. Produksi mencapai 11.166 ton dengan surplus sebesar 9.195 ton. Luas panen diperkirakan mencapai 3.100 hektare pada Maret.
Petani perlu peningkatan kewaspadaan terhadap potensi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti antraknosa, patek, trips, dan lalat buah, terutama pada kondisi kelembapan tinggi.
Agung jug meminta agar gerakan pengendalian OPT (GerDal OPT) diperkuat bersama dinas dan Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan dan Hortikultura (BPTPH) provinsi. Jadi, jangan hanya memastikan ketersediaan, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi. Pengendalian OPT dan antisipasi cuaca ekstrem menjadi kunci agar surplus produksi tetap terjaga hingga akhir musim panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blitar Setiyana menyampaikan panen telah dimulai dan akan semakin intens menjelang Idul Fitri, meski diakui terjadi penurunan produktivitas akibat cuaca ekstrem.
“Luas tanam di Blitar dari dulu sama saja sekitar 6 ribuan hektare, namun di tahun ini kondisinya kurang maksimal karena faktor alam. Di Blitar, selain serangan virus gemini, cabe rusak karena anthraknosa dan lalat buah ditambah wabah tikus.
Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kediri Suyono menyampaikan saat ini panen telah berlangsung sekitar 20–30 persen dari total 3.100 hektare. Potensi panen awal cabai rawit di Kediri sekitar 900 an hektare dan terus bertambah sampai panen raya di bulan Mei. Kendala terbesar saat ini ya cuaca ekstrim di seluruh Indonesia Raya. (Osc).







