Pantas Inggit Garnasih, Pejuang Tangguh dan Tulus

by

ENTAH kenapa saya selalu emosional bahkan tidak jarang menangis bila bicara tentang Pantas Inggit Garnasih. Saya pun kurang plong jika ke Bandung dan tidak berkunjung ke Rumah Bung Karno – Inggit. Bahkan ketika pertamakali mengunjungi rumah bersejarah itu, saya menangis di teras. Itu karena saya mendapati rumah di Jl. Inggit no 8 Astana Anyar Bandung itu tidak terawat bahkan kumuh karena tidak kelihatan dari jalan raya.

Sebab bagian depan terkepung tenda lapak-lapak yang tidak beraturan. Saya sama sekali tidak menyangka akan mendapati keadaan sedemikian. Sungguh amat jauh dari bayangan dan harapan semula. Sebab hemat saya rumah itu adalah tempat paling bersejarah di republik ini, karena di situlah Indonesia ditenun. Di situlah siang malam Bung Karno dkk berdiskusi tentang kemerdekaan Indonesia. Sayangnya tidak terawat dengan baik sampai sekarang.

Jasa Pantas Inggit Garnasih

Selain kondisi rumahnya, saya juga emosional karena sengaja atau tidak, Pantas Inggit selalu didiskreditkan, dipojokkan bahkan disepelekan. Dan itu bagi saya adalah pelecehan, sebuah kejahatan.

Dan yang lebih menggeramkan lagi, yang melakukan itu adalah orang- orang yang terpelajar, berkelas tokoh, termasuk kelompok yang mengklaim diri Soekarnois.

Cobalah melakukan pencarian tentang Inggit lewat sejumlah aplikasi. Maka yang akan muncul lebih banyak di alinea pertama; Inggit adalah istri kedua Bung Karno. Penulisan demikian memberi makna hanya melihat Inggit sebagai seorang istri. Orang begitu pelit memberinya bobot yang sesungguh yakni Pantas Inggit adalah seorang aktifis Serikat Islam yang kemudian dinikahi Bung Karno.

Setelah menuliskannya sebagai istri kedua, jarang sekali yang melanjutkannya dengan info tentang peran besar Inggit yang melampaui peran hanya seorang istri.

Kalau sekedar istri yah pendamping tetapi perempuan asli Sun̈da itu justru menjadi penanggung biaya kuliah Bung Karno. Caranya, yah In̈ggit berdagang. Maklum Bung Karno menurut S. Wisnuwardhana dalam bukunya SARINAH sejak kecil hidup dalam kemiskinan.

Sesudah Bung Karno menyelesaikan kuliahnya, ia sempat bekerja pada perusahaan konsultan. Tetapi itu hanya sebentar lalu berhenti dan menyibukkan diri dengan hasrat besarnya untuk memerdekakan Indonesia. Ini membutuhkan energi besar dan Inggit lah yang kerja keras untuk itu. Sekali lagi, dalam fase ini, perempuan tercantik dari kampung Kamasan itu tidak hanya sebagai istri melainkan melakukan peran besar sebagai penyandang dana.

Dari dua fase tsb, mereka yang hanya memberi Inggit label istri kedua adalah orang yang mendiskreditkan Inggit dengan berbagai motivasi.Tetapi apapun motivasinya penulisan demikian adalah pelecehan. Dan pelecehan terhadap Inggit bukan pelecehan biasa tetapi pelecehan terhadap seorang pejuang yang berjasa besar.

Namun pendiskreditan yang paling jahat ialah penolakan kepada Inggit untuk mendapat gelar pahlawan nasional. Penolakan bahkan sampai 3 kali masing- masing tahun 2008, tahun 2012 dan tahun 2023 .Dan yang melakukan penolakan itu adalah para tokoh, cendekiawan di antaranya berlatarbelakang disiplin sejarah.

Aneh sungguh aneh, ahli sejarah tidak paham sejarah bahwa Pantas Inggit Garnasih berjasa besar bagi kemerdekaan Indonesia, bukan hanya sebagai istri Bung Karno.

Pelecehan tidak berhenti di tangan para pengagum Bung Karno, di tangan para ahli sejarah yang ternyata buta sejarah tetapi berlanjut di tangan tokoh-tokoh masyarakat Sunda. Setelah 3 kali perempuan yang pernah berjalan kaki di tengah hutan dari Muko- Muko Bengkulu ke Padang itu ditolak sebagai pahlawan nasional, masyarakat Sunda sama sekali tidak bereaksi. Para tokoh Sunda pun termasuk para sejarahwan tidak bereaksi. Inggit dibiarkan sendirian, sama seperti di saat hari tuanya sendirian dalam kesepiannya. Tahu tetapi diam adalah sebuah pelecehan, pendiskreditan, seakan Inggit tidak berjasa apa pun.

Hari Selasa , 17 Februari 2026 kemarin adalah hari kelahiran Inggit ke 138. Saya yakin tidak ada acara apapun dan itu bagi saya sebuah pelecehan besar, orang berjasa besar dan tulus tapi hari-harinya tidak pernah di peringati. Kalau harinya saja tidak diperingati apalagi membuatkannya patung.

Walau demikian saya tetap memimpikan bangkitnya kesadaran dari pertobatan bahwa Inggit sesungguhnya orang yang berjasa besar dan karena itu harus dibuatkan patung besar di tengah kota Bandung lalu dibuatkan prasasti dengan tulisan;

Pantas Inggit Garnasih yang dilupakan. Biayanya? Rp 15 milyar, Rp 20 milyar atau Rp 25 miltar? Itu terlalu kecil dibanding jasanya. Dan jika saya Gubernur Jawa Barat maka semua kota di Jawa Barat harus punya jalan yang diberi nama Inggit.

Di samping itu rumahnya harus diperluas halamannya dan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi. Dan plang di depan rumah yang salah karena hanya mencantumkan nama Inggit harus diperbaiki menjadi Rumah Bung Karno – Inggit, Tempat Menenun Indonesia.

“Jakobus Kamarlo Mayong Padang* – (Direktur Institut Marhaen)