PERDAMAIAN Timteng seperti “gurun kering”. Laksana “bendera palsu”, negosiasi solutif nuklir AS-Iran, terus di provokasi Israel.
Negosiasi solutif AS-Iran, menghalangi hasrat Israel menyerang Iran. Israel akan melawan arus Trump. Sekaligus membawa AS, masuk ke dalam kancah konflik. Sebuah ironi perdamaian regional.
Bila hasil negosiasi gagal menarik gerbong rudal balistik ke dalam kesepakatan. Provokasi Israel diprediksi, akan mendorong AS melaksanakan ancamannya menyerang Iran.
Faktual, untuk ke-7 kalinya (setahun pemerintahan Trump), PM Israel Benyamin Netanyahu mengunjungi Presiden AS di Washington. Sesuatu yang langka. Kunjungan kali ini pun tergesa-gesa, atas inisiatif Netanyahu.
Netanyahu, diyakini ingin memberi perspektif berbeda, “memaksa” Trump menekan Iran dalam komponen: nol pengayaan (uranium), tidak ada rudal balistik, menghentikan dukungan pada proxi (Hezbollah dan Houthi). Satu hal nihil!
Kedatangan Netanyahu ke Washington, dan berbicara dengan Trump hari ini (Rabu), sangat menentukan. Apakah Netanyahu akan mengunci tuntutannya kepada Trump, menyangkut: proxi, nuklir, dan rudal?
Iran yang defensif, posisi AS yang ofensif, lalu Israel yang provokatif, sangat menentukan dalam pembicaraan Trump-Netanyahu kali ini. Tindakan ‘lateral, bisa saja terjadi. AS, besok atau lusa membom Iran
Tak ada yang mustahil, situasi bisa berubah 360 derajat setelah pertemuan ini. Tujuh kali kunjungan ke White House, menandakan hubungan spesial Trump-Netanyahu. Memungkinkan sepakatan mengobarkan peperangan AS-Iran.
Bagi Iran, pengayaan 440 kg uranium yang sudah mencapai 60 persen. Hanya menyisakan 30 persen lagi, menjadi senjata nuklir, bisa ditunda. Program nuklir, fleksibel.
Terobosan kebuntuan dengan AS, demi pencabutan sanksi ekonomi yang menyengsarakan merupakan “touchdown” prioritas. Trump, sepertihalnya Barack Obama dan Joe Biden, seharusnya tidak berkeberatan.
Melebarnya tuntutan Israel ke senjata rudal, memberi kecurigaan, dan kamuflase. Niat Israel, titik berat sesungguhnya menyuruh AS berperang dengan Iran.
Terlebih, Israel meminta pada AS, agar menekan Iran hanya boleh memiliki rudal berjelajah 300 km saja. Iran memiliki rudal dengan daya jelajah di atas 1.500 km.
Mempengaruhi Trump secara ekstensif, merupakan tujuan utama Netanyahu bertemu Trump. Pembicaraan keduanya, akan berkutat pada rudal jarak menengah, jarak jauh, dan antar-benua yang tengah disiapkan Iran.
Netanyahu yang berpikir transformasional, melihat negosiasi Oman, sangat membahayakan masa depan Israel. Pemimpin Partai Likud ini khawatir, Trump dalam negosiasi (AS-Iran) akan melonggarkan “garis merah” Israel terhadap Iran.
Bagi Israel (saat ini), bukan persoalan nuklir yang mendesak. Netanyahu meyakini, seandainya Iran sudah memiliki senjata nuklir, pun negara Mullah ini tak akan menggunakannya. Risiko dikecam dunia (kawan dan lawan), tentu dihitung Iran.
Rudal balistik Iran yang telah memporak-porandakan Tel Aviv (Juni 2025), serta dukungan pada Hezbollah dan Houthi, juga tekanan berat Qatar-Turki pada Trump, itulah yang mewarnai kunjungan tergesa Netanyahu.
Mesra Trump-Netanyahi
Belum pernah terjadi, Israel-AS begitu mesra. Apa pun yang diminta Israel tak pernah tak dipenuhi AS. Sekalipun tak dipenuhi, setidaknya AS membiarkan Israel berbuat semaunya. Kecaman, sebatas “gimmick”.
PM Israel Benyamin Netanyahu juga mengakui kedekatan ini. Kedekatan unik, dan secara pribadinya dengan Donald Trump, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah Israel (Yedioth Ahronoth, 10 Pebruari 2026).
Keyakinan, merupakan kimia pikiran. Netanyahu dan Trump merupakan satu kimiawi, yang semasa Joe Biden tak didapat Israel. Karena itu, Trump adalah anugerah bagi Netanyahu.
Menghentikan pengiriman bom seberat 2.000 pon (1 ton) saat perang Gaza (2024 akhir) oleh Biden, lalu dicairkan oleh Trump pasca pelantikannya (Januari 2025) memperlihatkan, Trump akan mengikuti provokasi (rayuan) Israel.
Meski begitu, Israel punya kecenderungan melawan arus. Sesudah kesepakatan nuklir AS-Iran yang ditandatangani Barack Obama, Israel bereaksi. Walau tidak melakukan serangan militer, Israel men-“declared”, mereka tidak terikat.
Kepada Trump pun, Netanyahu akan meminta dibebaskan menyerang Iran, walau kesepakatan nuklir AS-Iran telah tercapai. Tanpa mengikutkan rudal dalam perjanjian, Israel merasa terus terancam.
Masalahnya, beranikah Netanyahu menyamakan Trump, dengan Obama atau Biden? Beranikah Israel melanggar ketenangan regional yang akan dideklarasikan Trump bersama Iran (bila tercapai)?
Tentu, Israel tak akan berani melawan Trump. Mungkin, Netanyahu memilih diam, karena ego-nya terancam. Egonya gagal memaksa Trump mengikutkan rudal dalam kesepakatan.
Tapi, siapa tahu Trump justru mengikuti tarian dan langgam Netanyahu. Iran menolak, dan setelah pertemuan Netanyahu-Trump (hari ini), perang berkecamuk.
Perdamaian Timteng, benar telah menjadi “gurun kering”, gersang.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







