MENGELUARKAN narasi, tindakan “itu benar”, adalah benar! AS bersiap menyerang Iran, itu benar! Iran menyerang Israel, itu salah! Semua ini, proses menuju bencana.
Bumi, kini tengah menuju proses bencana. Kohesi sosial, kohesi ekonomi, dan tatanan (pranata) pergaulan antar-bangsa luluhlantak.
Saat Trump menghentikan negosiasi nuklir AS-Iran (2018), itu menciptakan titik kesadaran Iran. AS telah meruntuhkan tembok yang menghalangi keseriusan negara ‘Mullah’ ini.
Titik kesadaran Iran makin membuncah, saat Israel-AS menyerang situs pengayaan nuklir di Isfahan dan Nathanz (2025). Lebih 1.000 orang tewas, lewat operasi AS bersandi “Midnight Hammer”.
Trump memberi janji pragmatis dan palsu kepada Iran. Narasi akan memulai negosiasi AS-Iran, selang beberapa hari diikuti serangan Israel. Menciptakan “argument clinic” (ambiguitas) dan menipu untuk lengah.
Bagi Iran tak ada pilihan, AS yang tengah merancang kemenangan tersembunyi. Seolah dengan mudah meruntuhkan rezim ‘Mullah’, seolah akan “sudden death” untuk Khamenei.
Kebuntuan negosiasi AS-Iran, bukan diciptakan oleh Masoud Pezeshkian-Ayatollah Ali Khamenei. Trump-lah yang menginginkan kebuntuan, atas ‘paranoia’ sang ‘proxy’ (Israel).
AS-Israel, selalu mengoreksi Iran. Menganggap Iran berbahaya bagi proses perdamaian Timteng, sesungguhnya tidak seperti itu. ‘Paranoia’ Israel-lah yang mengundang AS, untuk terlibat lebih dalam.
Men-“tamsil”kan Kambing Gunung di bebatuan curam Afghanistan, AS-Israel seperti menundukkan kepala. Lalu menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya.
Logika perang, atau mengibaratkan Iran sebagai “Kambing Gunung”, tak akan pernah membahayakan AS-Israel. Iran tak berani menabrak Israel. Apalagi mengarahkan “kepalanya” pada AS, terlebih dulu.
AS pernah merasa, betapa kuatnya pengaruh rezim ‘Mullah’ Iran, setelah kekalahan bonekanya, Shahansah Mohamad Reza Pahlevi (1979). Imbauan Paris (Ayatollah Ruhollah Khomeini), rezim ‘patron-client’ ini runtuh oleh gerakan masif rakyat Iran.
Kuatnya kohesifitas mengusir AS dari Teheran, lewat pendudukan Kedubesnya, dan menyandera 52 diplomat AS (1979-1981). Memperlihatkan, rakyat Iran tak percaya “niat baik” AS membantu meruntuhkan rezim.
Sehingga gertakan AS, mengirim kapal induk (USS Lincoln) menuju Iran, dan kini telah berada di “mulut” Teluk Persia. Berikut “walkie-talkie” untuk perintah ke sejumlah pangkalan militer AS di: Qatar, UAE, Bahrain, Arab Saudi. Iran dikepung. Iran takut?
Meski “euphemisme”, Trump masih memungkinkan diplomasi dengan Iran, saya melihat Trump ingin menyudahi rezim Mullah saat ini. Narasi Trump, hanya kamuflase.
Mengutip “New York Times”, seperti disadur “Yedioth Ahronoth”, serangan bisa terjadi dalam hitungan 24 jam mendatang. “Waktu tinggal sedikit,”kata Trump (The Guardian, 28/9).
Keheningan elite Iran atas persiapan serangan AS, merupakan persiapan berpikir. Bila, prediksi cepat AS-Israel meruntuhkan Khamenei-Pezeshkian, meleset. Maka, bencana ekonomi dunia menggila: harga “croud oil”, emas, dll.
Perang panjang ala Afghanistan, akan menjadi pertempuran sengit dan lama. Bila AS mengirim pasukan infanteri, maka medan tempur Iran, yang bergurun, berbukit, berbatu, akan menjadi pertaruhan yang sulit bagi AS.
Bencana Ekonomi
Selat Hormuz yang dimiliki Iran, akan menjadi alat ampuh untuk mendestabilkan pasok “crude oil” (minyak mentah) dunia. Setiap hari, sekitar 20 persen kebutuhan dunia, melewati selat sempit ini.
Iran akan memanfaatkan Hormuz untuk menekan AS. Meskipun dengan persenjataan canggih AS, akan sulit meyakinkan kapal-kapal tanker berani melalui Hormuz saat perang berkecamuk.
Harga “crude oil” USD 138-146 di tahun 2008, bisa terulang kembali sekarang, bila AS betul-betul menyerang Iran. Harga acuan minyak mentah jenis Brent saat ini, berkisar di USD 63-USD 65. Sementara WTI (USD 60-61).
Bencana ekonomi, semakin sempurna, ditunjukkan oleh kenaikan harga emas yang telah melampaui USD 5.000 per ons. Artinya, sepanjang 2025, hingga sekarang, emas telah melonjak lebih dari 60 persen. Ini akan terus naik.
Keberadaan Trump memimpin AS dalam kurun satu tahun ini, membuat pasar menjadi tidak stabil (destruktif). Langkah globalnya: ancaman tarif terhadap sekutu NATO, operasi penangkapan Maduro, aneksasi Greenland, dan sekarang Iran, mengguncang pasar.
Para investor (Arab News, 28 Januari 2026) , pun telah berbondong-bondong mengambil aset ‘safe haven’ (emas), melihat perilaku Trump yang sangat ‘lateral’ ini.
Ketidakpastian sektor finansial dan geopolitik sangat menakutkan pasar. Membayangkan, emas diburu, dan perak tidak ketinggalan menjadi ‘safe haven’ baru yang membuatnya mengalami kenaikan hingga hampir 150 persen dibanding tahun lalu. Harga perak, menembus USD 100 per ons.
Kapal USS Lincoln, kini hanya berjarak dua hari lagi untuk sampai di “gerbang” Iran. Dilengkapi rudal jelajah Tomahawk berdaya jangkau 1500-2500 kilometer, rasanya kita akan melihat bencana kemanusiaan, bencana ekonomi, dan bencana humanitarian.
Tinggal mengelus dada. Apa harus seperti ini dunia kita? Semoga dialog akan terjadi.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







