BERITABUANA.CO, JAKARTA– Indonesia mencatat tonggak baru dalam perdagangan hortikultura setelah berhasil mengekspor perdana durian beku ke China. Pengiriman awal sebanyak 23 ton durian beku tersebut bernilai 123,84 ribu dollar AS atau setara Rp 2,08 miliar.
Ekspor perdana ini difasilitasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Atase Perdagangan Republik Indonesia (Atdag RI) Beijing. Produk durian beku tersebut diproduksi oleh PT Amerta Nadi Agro Cemerlang yang berbasis di Sulawesi Tengah.
Atdag RI Beijing Budi Hansyah mengatakan, keberhasilan ekspor durian beku ke China menjadi bukti bahwa standar kualitas hortikultura Indonesia semakin diakui di pasar internasional.
“Ekspor langsung ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar global. Durian beku yang dikirimkan telah memenuhi berbagai standar yang ditetapkan otoritas Tiongkok, mulai dari keamanan pangan, kesehatan tumbuhan, hingga persyaratan mutu produk,” ujar Budi dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Menurut Budi, masuknya durian beku Indonesia ke pasar China telah melalui seluruh prosedur yang ditetapkan, termasuk memperoleh persetujuan Badan Karantina RI serta menjalani proses kepabeanan dan pengawasan karantina di China.
Durian beku asal Indonesia tersebut selanjutnya akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti durian potong bercangkang, daging durian beku, durian kering, durian kering beku, hingga pasta durian. Produk-produk tersebut akan didistribusikan ke berbagai wilayah di China.
Melihat besarnya potensi pasar, Budi mendorong pelaku usaha nasional untuk memperluas ekspor durian olahan bernilai tambah ke China.
“Kemendag terus memotivasi pelaku usaha di dalam negeri untuk merambah produk olahan bernilai tambah. Pasar Tiongkok menunjukkan minat yang tinggi terhadap varian produk seperti durian kering hingga pasta durian,” kata Budi.
Kemendag, lanjut Budi, juga aktif memfasilitasi promosi dan penguatan jejaring bisnis agar semakin banyak produk unggulan Indonesia mampu bersaing di pasar China.
Kehadiran durian beku Indonesia di China turut mendukung pengembangan Pusat Perdagangan Buah China-ASEAN yang berlokasi di Qinzhou. Pelabuhan Qinzhou merupakan simpul logistik utama kawasan Asia Tenggara yang didukung layanan kepabeanan cepat serta fasilitas pemeriksaan dan pengujian terintegrasi.
Dukungan infrastruktur pelabuhan, kawasan berikat, serta jaringan logistik laut dan kereta barang di Qinzhou dinilai mampu memperkuat daya saing produk hortikultura Indonesia. Infrastruktur tersebut memungkinkan produk Indonesia menjangkau pasar China secara lebih cepat, efisien, dan kompetitif.
“Memperkuat ekspor melalui pelabuhan Qinzhou tidak hanya memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemasok produk hortikultura Asia Tenggara, tetapi juga membuka peluang perluasan pasar ke berbagai wilayah strategis di Tiongkok,” ujar Budi.
Adapun pada periode Januari–November 2025, total perdagangan Indonesia dan China tercatat mencapai 138,34 miliar dollar AS, meningkat 12,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor Indonesia ke China pada periode tersebut mencapai 60,30 miliar dollar AS. Sebagai perbandingan, total perdagangan kedua negara sepanjang 2024 tercatat sebesar 136,59 miliar dollar AS. (Red)







