BERITABUANA.CO, JAKARTA – PT Pertamina Gas mendukung kelancaran operasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dari sisi suplai gas. Dukungan Pertagas melalui pembangunan proyek pipa gas Senipah–Balikpapan yang menjadi bagian dari infrastruktur terintegrasi RDMP.
Direktur Utama Pertamina Gas Indra P. Sembiring mengatakan bahwa pipa gas Senipah–Balikpapan yang telah beroperasi sejak 31 Desember 2023 salah satu Proyek Strategis Nasional yang berperan penting dalam mendukung peningkatan kapasitas pengolahan dan produksi Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) dan RU V.
“Pipa gas Senipah–Balikpapan bagian dari infrastruktur terintegrasi di Balikpapan yang diresmikan Presiden Prabowo. Melalui infrastruktur gas ini, Pertagas sebagai pengelola, mendukung penuh keandalan operasional RU V dan Kilang Pertamina Balikpapan untuk memperkuat suplai energi nasional secara berkelanjutan,” ujar Indra P. Sembiring, dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Interkoneksi pipa gas Senipah–Balikpapan sepanjang lebih kurang 78 kilometer dibangun untuk menyalurkan gas bumi dari wilayah hulu, yaitu K3S di Senipah, Kalimantan Timur, menuju ke kilang Balikpapan. Kapasitas penyalurannya mencapai 125 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari).
Indra menyatakan optimalisasi penyaluran gas tersebut menjadi elemen penting dalam menjaga kontinuitas dan efisiensi operasional RDMP Balikpapan. Suplai gas yang andal melalui jaringan pipa ini akan memastikan operasional RDMP Balikpapan yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi, sekaligus mendukung pencapaian target net zero emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060.
Pembangunan pipa gas Senipah–Balikpapan lalu juga mengedepankan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekitar 51 persen. Itu berarti proyek ini turut berkontribusi dalam mendorong pengembangan industri dalam negeri.
Proyek RDMP Balikpapan ini memiliki nilai investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp124,79 triliun (kurs Rp16.864).
Melalui pembangunan RDMP, kapasitas produksi BBM meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel per hari (KBPD) menjadi 360 KBPD setara Euro V.
Proyek ini juga menaikkan Indeks Kompleksitas Kilang dari 3,7 menjadi 8, dan persentase nilai produk meningkat menjadi 91,8 persen dari sebelumnya 75,3 persen.
Pengembangan kilang Balikpapan menjadi langkah penting untuk mewujudkan swasembada energi sesuai program Astacita. Nantinya, Indonesia tidak lagi mengandalkan impor bahan bakar minyak (BBM) dan liqufied petroleum gas (LPG) untuk kebutuhan dalam negeri.
Indra Sembiring menegaskan Pertagas berkomitmen terus berperan aktif dalam penguatan ketahanan energi nasional melalui penyediaan dan pengelolaan infrastruktur gas bumi yang andal, sekaligus mendukung keberlanjutan operasional kilang dan pertumbuhan ekonomi nasional. (Osc).







